Tari Wayang Gatotkaca Dan Tari Topeng Cirebon Adalah Contoh Tari

Alumnice.co – Tari Wayang Gatotkaca Dan Tari Topeng Cirebon Adalah Contoh Tari

Tari topeng Cirebon
adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut tari topeng karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut.

Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya
The History of Java
mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan (bahasa Cirebon:
Wiyaga)[1]

Tempat pagelaran

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon pada zaman dahulu biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, misalnya di halaman rumah, di
blandongan
(bahasa Indonesia: tenda pesta) atau di
bale
(bahasa Indonesia: panggung) dengan obor sebagai penerangannya, tetapi dengan berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern juga dipertunjukan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.[2]

Tujuan pagelaran

[sunting
|
sunting sumber]

Tujuan diselenggarakan suatu pagelaran tari Topeng Cirebon secara garis besar dibagi kedalam tiga tujuan utama yaitu;[3]

  • Pagelaran komunal, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk kepentingan bersama masyarakat, sehingga hampir seluruh masyarakat ditempat tersebut berpartisipasi dalam pagelaran ini, acara yang dipertunjukan pun sangat spektakuler dengan adanya arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya serta digelar lebih dari satu malam, contoh dari pagelaran komunal diantaranya adalah hajatan desa,
    ngarot kasinoman
    (acara kepemudaan),
    ngunjungan
    (ziarah kubur)
  • Pagelaran individual, merupakan acara pagelaran yang dilaksanakan untuk memeriahkan hajatan perorangan, contohnya adalah pernikahan, khitanan atau
    khaulan
    (bahasa Indonesia: melaksanakan nazar atau janji)
  • Pagelaran
    bebarangan, merupakan acara pagelaran keliling kampung yang inisiatifnya datang dari dalang topeng itu sendiri,
    bebarangan
    biasanya dilakukan oleh dalang topeng ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen, wilayah desa yang ramai atau datang ke berkeliling di kota dikarenakan desanya belum panen, sedang mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

Struktur pagelaran

[sunting
|
sunting sumber]

Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan
lakon
(bahasa Indonesia: cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu:

  • Topeng
    alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng
    alit
    biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, tetapi para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng
    alit
    dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.
  • Topeng
    gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng
    alit. Hal tersebut dikarenakan topeng
    gede
    merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng
    alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (bahasa Cirebon:
    tetaluan) yang lengkap, adanya lima
    babak
    tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya
    lakonan
    serta
    jantuk
    (bahasa Indonesia: nasihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng
    gede
    [2]

Jenis

[sunting
|
sunting sumber]

Salah satu jenis lainnya dari tari topeng ini adalah tari topeng kelana kencana wungu merupakan rangkaian
tari topeng
gaya Parahyangan yang menceritakan ratu Kencana wungu yang dikejar-kejar oleh prabu Minakjingga yang tergila-tergila padanya. Pada dasarnya masing-masing topeng yang mewakili masing-masing karakter menggambarkan perwatakan manusia. Kencana Wungu, dengan topeng warna biru, mewakili karakter yang lincah namun anggun. Minakjingga (disebut juga kelana), dengan topeng warna merah mewakili karakter yang berangasan, tempramental dan tidak sabaran. Tari ini merupakan karya Nugraha Soeradiredja.

Gaya tarian

[sunting
|
sunting sumber]

Pada tari Topeng Cirebon terdapat beberapa gaya tarian yang secara yang telah diakui secara adat,[4]
[5]
gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli tempat di mana tari Topeng Cirebon lahir dan juga dari desa lainnya yang menciptakan gaya baru yang secara adat telah diakui lepas dari gaya lainnya. Endo Suanda seorang peneliti tari Cirebon melihat perbedaan gaya tari Topeng Cirebon antar daerah tersebut dikarenakan adanya penyesuaian selera penonton dengan nilai estetika gerak tarian di atas panggung,[5]
berikut beberapa gaya tari Topeng Cirebon:

Tari Topeng Cirebon gaya Beber

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang Sendi Setiyawan sedang menggayakan tari Topeng Cirebon gaya Beber dengan pakaian klasik dalang tari Topeng Cirebon yang dipinjam dari ISBI Bandung oleh
Ki
dalang Panji Surono

Tari Topeng Cirebon gaya Beber adalah salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang lahir di desa Beber, kecamatan Ligung, kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Sejak abad ke 17, awalnya tari Topeng yang ada di desa Beber dibawa oleh seorang seniman dari Gegesik, Cirebon yang bernama Setian, tetapi menurut para ahli
Dalang
Topeng Cirebon gaya Beber seperti
mimi
Yayah dan
Ki
Dalang Kardama yang pertama kali membawa tarian Topeng ke desa Beber dan menjadi tari Topeng Cirebon gaya Beber adalah
mimi
Sonten dan Surawarcita yang masih berasal dari Gegesik sejak itu menurunkan beberapa generasi para seniman.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Pembagian
babak
pada tari topeng Cirebon gaya Beber menurut
Ki
Andet Suanda dilakukan dengan berdasar para interpretasi tentang sifat dan kesadaran manusia.[6]

  • Topeng Panji, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang halus
  • Topeng Samba, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sedang tumbuh
  • Topeng Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sudah dewasa
  • Topeng Jinggananom + Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari pertarungan antara jiwa yang memiliki nafsu baik dan nafsu jahat
  • Topeng Klana, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi
  • Topeng Rumyang, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum.

Babak Rumyang
pada tari Topeng Cirebon gaya
Beber
dipentaskan di akhir pagelaran, menurut
Ki
Pandi Surono (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Beber) pada masa lalu pagelaran tari Topeng Cirebon terutama gaya
Beber
dilakukan pada malam hari dan
babak Rumyang
dipentaskan mendekati terbitnya matahari saat sinar matahari terlihat samar-samar (bahasa Cirebon:
ramyang-ramyang) dari kata
ramyang
inilah kemudian
babak
ini dinamakan, keterangan lebih lanjut tentang filosofi
babak rumyang
yang dipentaskan diahkhir setelah
babak Topeng Klana
yang merupakan proyeksi dari jiwa yang penuh nafsu dan emosi dijelaskan oleh
Ki
Waryo (budayawan Cirebon sekaligus dalang Wayang Kulit Cirebon gaya Kidulan (Palimanan) dan seorang ahli pembuat Topeng Cirebon) putera dari
Ki
Empek.
Ki
Waryo menjelaskan bahwa filosofi dari
Rumyang
terkait dengan sebuah proyeksi jiwa manusia yang sudah meninggalkan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang utuh (manusia harum) karena sudah tidak terbelenggu lagi dengan nafsu duniawi.
Rumyang
diartikan kedalam dua buah kata yaitu
arum
(bahasa Indonesia: harum) dan
yang
(bahasa Indonesia: manusia / orang) sehingga
Rumyang
diartikan secara harafiah menjadi
manusia yang harum

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Beber

[sunting
|
sunting sumber]

Para dalang tari Topeng Cirebon yang terkenal jamannya di antaranya Andet Suanda, Ening Tasminah, H. Warniti yang kesemuanya telah almarhum, Generasi berikutnya yaitu Rohati (anak tunggal dari Ening Tasminah), Iyat (telah almarhum), Iis, Nengsih, juga para buyut, cucu serta pewarisnya yaitu Yayah, istri dari
Ki dalang
Suhadi di desa Randegan (sekarang telah mekar menjadi desa Randegan Kulon dan desa Randegan Wetan, kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka ), Een di Beber dan
Ki
Pandi Surono (anak dari dalang Rohati dan cucu dari dalang Ening Tasminah) yang membina Sanggar Anggraeni.

Sanggar tari

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Anggraeni, pimpinan
    Ki
    Pandi Surono, Griya Nugratama, Jl Raya Sukabumi no 105 Pasir Hayam, desa Sirnagalih,kecamatan Cilaku, kabupaten Cianjur, Jawa Barat
  • Sanggar Langgeng Budaya, pimpinan
    mimi
    Yayah dan
    Ki
    Dalang Anom Suhadi, di desa Randegan, kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes

[sunting
|
sunting sumber]

Menurut
Babad Tanah Losari
diceritakan bahwa Pangeran Angkawijaya pergi ke Losari dari kesultanan Cirebon menepi dari kehidupan Keraton karena tidak ingin terkungkung dengan sistem kehidupan kesultanan yang serba gemerlap. Selain itu, menepinya Pangeran Angkawijaya dari kesultanan Cirebon karena adanya konflik Internal soal perjodohan antara dirinya dengan kakaknya yakni Panembahan Ratu.[7]

Saat itu Panembahan Ratu yang termasuk kakak Angkawijaya hendak menikahi putri dari Raja Pajang yakni Nyai Mas Gamblok, sebenarnya putri Gamblok lebih menyukai Pangeran Angkawijaya, tetapi karena urutan usia, Panembahan Ratu yang lebih tua menyatakan berhak mengawini Nyai Mas gamblok, menghindari hal yang tidak dinginkan terjadi, Pangeran Pangeran Angkawijaya lalu pergi ke arah timur dari tanah Cirebon hingga menetap di daerah pedukuhan pinggir sungai Cisanggarung yang akhirnya dinamakan Losari, dari tempat ini kemudian Pangeran Angkawijaya mengembangkan keterampilannya di bidang seni, beberapa hasil kreasinya diyakini adalah batik Cirebon motif
Gringsing
dan tari Topeng Cirebon gaya Losari.

Pangeran Angkawijaya tercatat meninggal pada tahun 1580 dan dimakamkan di desa Losari lor, kecamatan Losari, kabupaten Brebes.

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes
sebenarnya merupakan tari Topeng Cirebon gaya Losari yang mendapatkan banyak pengaruh lokal, termasuk dari segi alur ceritanya.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes
merupakan jenis tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa.

Tari Topeng Cirebon gaya Brebes menceritakan legenda Joko Bluwo, seorang pemuda petani desa yang berwajah buruk rupa berkeinginan untuk mempersunting putri raja yang cantik jelita bernama Putri Candra Kirana. Dikisahkan, keinginan Joko Bluwo akhirnya dikabulkan sang raja, setelah Joko Bluwo memenuhi syarat yang diajukan Raja.

Namun, di tengah pesta pernikahan, seorang raja dari kaum raksasa yang juga berkeinginan menikahi putri Candra Kirana datang dan membuat kekacauan. Dia mengajak bertarung pada Joko Bluwo untuk memperebutkan sang putri. Joko Bluwo akhirnya berhasil mengalahkan raja raksasa dan hidup bahagia bersama putri Candra Kirana.

Tari Topeng Cirebon gaya Celeng

[sunting
|
sunting sumber]


Tari Topeng Cirebon gaya Celeng

merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di
blok
(bahasa Indonesia: dusun) Celeng, desa Loh Bener, kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Lagu atau musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Celeng ternyata memiliki kesamaan dengan musik pengiring yang dipergunakan pada gaya Gegesik dan Slangit namun dengan beberapa kekhasan tersendiri, misalnya pada
tetaluan
(bahasa Indonesia: tabuhan gamelan)
Kembang Sungsang
jika gongnya ada dua maka nada yang dimainkan adalah
miring
dan
susul
saja, sedangkan jika terdapat tiga gong,
tetaluan
kembang sungsang nada yang dimainkan adalah
miring,
susul
dan
sanga.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Celeng

[sunting
|
sunting sumber]

Asal usul gaya Celeng dipercaya dibawa oleh
Ki
Kartam (seorang ahli dalang wayang dan dalang topeng) dari wilayah Majakerta yang merupakan kakak dari
Ki
Panggah (yang melestarikan tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara di kabupaten Subang), sementara kedekatan gerak tarian antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan disebabkan
mimi
Rasinah yang aslinya berasal dari desa Pamayahan,kecamatan Loh Bener, kabupaten Indramayu belajar seni dalang topeng kepada ibu (bahasa Cirebon dialek Dermayu:
emak) Suminta, ibu dari Ki Dalang Haji Rusdi dan nenek (bahasa Cirebon dialek Dermayu: Mak tuwa) dari budayawan Cirebon asal Indramayu Ady Subratha, kemudian
mimi
Rasinah pindah ke desa Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu dan mempopulerkan tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan, inilah yang menyebabkan ada beberapa gerak tarian yang terkesan mirip antara gaya Celeng dengan gaya Pekandangan

Pada masa kejayaan gaya Celeng, ada seorang dalang Topeng lain yang terkenal selain
emak
Suminta, yaitu
emak
Sukesah yang masih saudara dengan
emak
Suminta.
Emak
Sukesah kemudian menikah dengan
Ki
dalang Sajim (dalang Wayang Kulit Cirebon) dari kecamatan Pegaden, kabupaten Subang, keluarga
Ki
Sajim kemudian ada yang meneruskan menjadi dalang Wayang Kulit Cirebon diantaranya adalah
Ki
Sukardi dan
Ki
Casta.

Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Cibereng merupakan ragam tari Topeng Cirebon yang ada di desa Cibereng, kecamatan Trisi, kabupaten Indramayu

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cibereng

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cibereng yang terkenal salah satunya adalah
Ki
dalang Carpan.

Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara
merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang wilayah penyebarannya berada di sekitar kecamatan Pegaden hingga ke bantaran sungai Cipunegara yang merupakan perbatasan dengan kabupaten Indramayu. Perkembangan kebudayaan di wilayah Cipunegara (termasuk di sebagian besar daerah dataran rendah kabupaten Subang) tidak terlepas dari kontribusi masyarakatnya. Tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini oleh masyarakatnya disebut sebagai
tari Topeng Menor, karena kemerduan suara dan kecantikan para penarinya.[8]

Baca :   Soal Alquran Hadits Kelas 4 Semester 1 Dan Kunci Jawaban

Pusat tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara berada di desa Jati, kecamatan Cipunegara dan desa Gunung Sembung, kecamatan Pegaden, kabupaten Subang. Dikarenakan desa Jati terkenal sebagai salah satu pusat tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, maka tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini juga dikenal dengan nama
tari Topeng Jati.

Willy Sani dalam penelitiannya tentang tari Topeng Menor menyatakan bahwa bahasa pengantar yang digunakan dalam pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara ini adalah bahasa Sunda, bahasa pengantar yang digunakan tersebut berbeda dengan kebanyakan gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah Cirebon dan Indramayu yang menggunakan bahasa Cirebon sebagai bahasa pengantaranya. Keunikan yang terjadi semata-mata dikarenakan alkulturasi budaya antara budaya Cirebon dengan budaya Sunda dikarenakan dalam pementasan tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara tersebut juga didatangi oleh masyarakat Sunda yang kurang paham dengan bahasa Cirebon sehingga bahasa Sunda digunakan sebagai bahasa pengantar pementasan agar pesan-pesan yang berusaha disampaikan dalam setiap
babak
tariannya dapat dengan mudah dimengerti oleh masyarakatnya. Namun demikian, Willy Sani juga mengatakan bahwa penggunaan bahasa Sunda tidak berarti jika
nayaga
(penabuh gamelan) dan para Dalang Topeng tersebut tidak bisa menggunakan bahasa Cirebon, sebaliknya mereka semua fasih menggunakan bahasa Cirebon walau selama pementasan harus menggunakan bahasa Sunda agar penonton memahami setiap isi
babak.

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Berbeda dengan musik pengiring tari Topeng Cirebon yang terdapat di wilayah kabupaten Cirebon dan kabupaten Indramayu yang menggunakan instrumen musik bernuansa khas Cirebonan seperti Gamelan cirebon dan sejenisnya. Pada tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, musik pengiringnya justru menggunakan musik-musik
Bajidoran
yang merupakan seni khas kebudayaan Sunda di kabupaten Subang dan kabupaten Karawang.[9]

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang-dalang topeng yang berada diwilayah Pegaden dan Cipunegara bisa dikatakan seluruhnya merupakan keturunan dari Dalang Panggah. Dalang Carni dan Dalang Ratem merupakan dua orang dalang dari wilayah Cipunegara yang hingga kini masih terbilang aktif melestarikan gaya Cipunegara.

Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Gegesik
memiliki daerah penyebaran di sekitar kecamatan Gegesik, kabupaten Cirebon. Pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum[10]

Di Gegesik yang merupakan salah satu pusat perkembangan kesenian cirebon, termasuk kesenian tari Topeng Cirebon, penari atau dalang tari Topeng Cirebon kini tidak sebanyak dulu ketika masa jayanya, menurut budayawan Cirebon bapak Nurdin Noer yang juga merupakan ketua
Lembaga Basa lan Sastra Cirebon

[5]

Pada perkembangan sebuah kesenian termasuk tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang oleh masyarakat disebut sebagai
topeng-dangdut.[11]

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Lagu atau musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ternyata memiliki kesamaan dengan musik pengiring yang dipergunakan pada gaya Slangit, berikut nama-nama musik pengiringnya ;

  • Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
  • Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
  • Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
  • Tumenggungan, atau dikenal dengan nama bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
  • Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
  • Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.

Gerakan tari

[sunting
|
sunting sumber]

Gerakan tari pada gaya Gegesik dapat dilihat pada pemaknaan gerak di masing-masing alur ceritanya, di antaranya adalah gerakan tangan
temple
bahu dan
cantel
pada alur cerita topeng Panji.

Gerakan tangan
temple
bahu diartikan sebagai tiruan dari gerak jalan Dewi Anggraeni sementara gerakan
cantel
dapat diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil menikahi Dewi Anggraeni.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

‘Pada gaya Gegesik,
babak
(alur cerita) tariannya hampir sama dengan
babak
tarian yang ada di gaya-gaya tari Topeng Cirebon wilayah barat, penamaan
babak
pada pementasan tari Topeng Cirebon pada wilayah barat hanyalah mengambil namanya saja untuk menggambarkan kesamaan watak, para dalang topeng Cirebon pada umumnya tidak mengaitkan tariannya dengan tokoh Panji seperti dalam cerita Panji. Artinya, nama tari tersebut bukan sebagai gambaran tokoh Panji. Kata Panji hanya dipinjam untuk menyatakan salah satu karakter tari yang halus, yang secara kebetulan karakternya sama dengan tokoh Panji. Berbeda dengan di Losari, Topeng Panji justru ditarikan dalam sebuah lakonan dan penarinya benar-benar memerankan tokoh Panji seperti yang ada di cerita Panji.[12]

Perbedaan
babak
antara tari Topeng Cirebon gaya Gegesik dengan Slangit yang sama-sama berasal dari kabupaten Cirebon wilayah barat terletak pada susunan
babaknya, jika pada gaya Gegesik
babak
rumyang ditampilkan pada urutan keempat atau kelima, maka pada gaya Slangit
babak
tersebut ditampilkan pada urutan ketiga. Berikut
babak
pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ;

  1. Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir, topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan sebagai watak dari karakter manusia yang halus, karakter ini sering disamakan dengan karakter Arjuna pada cerita Mahabharata.
  2. Samba (pamindo), menceritakan karakter anak-anak
  3. Rumyang, menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan
  4. Patih (tumenggung), menceritakan manusia yang sudah dewasa
  5. Klana, menceritakan manusia yang
    dursila
    (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam dirinya)

Sebagian budayawan Cirebon yang menyimak keterangan
Ki
Rawita (maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan) bahwa
babak
rumyang seharusnya ditarikan pada bagian akhir kemudian menyatakan hal yang sama jika pada zaman dahulu
babak
rumyang pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik juga ditarikan pada akhir pagelaran sama dengan yang terjadi pada gaya Randegan, hanya saja para budayawan Cirebon kurang mengingat kapan terjadinya peralihan
babak
rumyang yang sebelumnya ditarikan di akhir
babak
menjadi di tengah
babak
pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Gegesik.
Ki
Waryo (maestro kesenian Cirebon sekaligus dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) berpendapat bahwa peralihan babak rumyang dari akhir pagelaran menjadi babak di tengah pagelaran diperkirakan terjadi pada periode tahun 1970-an di mana pada periode tersebut para dalang tari Topeng di Cirebon banyak didatangi oleh para peneliti dan kemungkinan para peneliti ini memberikan persfektif baru bagi para dalang Topeng terutama dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik sekaligus mengubah persfektif tariannya dari semula berfokus pada perkembangan jiwa yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng Cirebon dengan babak rumyang di akhir menjadi berfokus pada pertumbuhan manusia secara fisik yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng Cirebon dengan babak rumyang di tengah.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

[sunting
|
sunting sumber]

Di wilayah kecamatan Gegesik juga terdapat banyak dalang topeng, para dalang tersebut kebanyakan berasal dari keturunan para maestro tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yaitu Mutinah, Lesek dan Jublag. Keturunan dalang Mutinah yang bisa ditelusuri adalah dalang Juniah, sementara keturunan dalang Lesek adalah dalang Sumarni dan yang terakhir keturunan dalang Jublag adalah dalang Baerni dan Baedah yang keduanya masih dapat dikatakan aktif walau sudah sangat jarang diundang tampil di masyarakat.

Dalang Baerni kini pindah ke wilayah kecamatan Pegaden, kabupaten Subang untuk mengikuti suaminya yang bekerja sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan dalang Baedah juga mengikuti suaminya pindah ke wilayah kota Cirebon

Sanggar tari

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Purbasari, Padepokan Abdul Ajib, jalan Sukasari gang 4 no. 30. kelurahan Sukapura, kecamatan Kejaksan kota Cirebon. Telp (+62-231-3475545) (+62-8122143273)

Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Gujeg
tersebar disekitar desa Gujeg, kecamatan Panguragan, kabupaten Cirebon.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gujeg

[sunting
|
sunting sumber]

Gaya Gujeg sangat memprihantinkan, dikarenakan sepeninggal dalang Noglo, di wilayah desa Gujeg sudah tidak terdengar lagi adanya dalang topeng penerusnya lahir.[4]

Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar
sama seperti gaya Gujeg yang berada di dalam wilayah kecamatan Panguragan, gaya Kalianyar terpusat disekitar desa Kalianyar, wilayah pusat penyebaran gaya Kalianyar ini hanya dipisahkan oleh kali Winong disebelah timur dengan desa Gujeg dan hanya beberapa kilometer ke selatan dari wilayah ini sudah dapat ditemui gaya Slangit di desa Slangit dan gaya Kreyo di desa Kreyo

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kalianyar

[sunting
|
sunting sumber]

Di wilayah Kalianyar terdapat beberapa dalang tari Topeng, di antaranya dalang Sutini yang sudah pensiun karena faktor usia dan dalang Kasniri yang masih aktif.

Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Kreyo
terpusat di desa Kreyo, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon yang hanya terpisahkan dengan desa Slangit disebelah timur oleh ruas jalan antar kecamatan yang menghubungkan kecamatan Klangenan dengan kecamatan Panguragan

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Kreyo

[sunting
|
sunting sumber]

Pada masa jayanya, gaya Kreyo memiliki seorang dalang tari Topeng yang terkenal, dia bernama Tarmi atau biasa dikenal dengan nama dalang Tarmi, sekarang yang ada hanyalah dalang Tumus, tetapi dia lebih sering menjadi
nayaga
(penabuh gamelan) kelompok tari Topeng Cirebon milik dalang Keni Arja (seorang maestro Topeng Cirebon gaya Slangit)[13]
sebagai penabuh
saron penimbal.

Tari Topeng Cirebon gaya Losarang

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Losarang memiliki daerah penyebaran inti di kecamatan Losarang,Kabupaten Indramayu

Tari Topeng Cirebon gaya Losari

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Losari
memiliki daerah penyebaran di sekitar kecamatan Losari, kabupaten Cirebon dan kecamatan Losari, kabupaten Brebes, menurut maestro tari Topeng Cirebon Irawati Ardjo, lokasi Losari yang berbatasan dengan wilayah Jawa Tengah membuat tari Topeng Cirebon gaya Losari banyak dipengaruhi elemen-elemen budaya jawa, keterangan serupa juga diberikan oleh Dr. Een Herdiani dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, menurut dia perbedaan yang menjadi ciri khas tari Topeng Cirebon gaya Losari ada pada musik pengiringnya, gerakan tari dan pakaian penarinya.[14]

Pakaian penari

[sunting
|
sunting sumber]

Pada kebanyakan penari Topeng Cirebon terutama yang mendalami gaya-gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah barat seperti gaya Slangit, maka akan ditemukan pakaian penarinya menggunakan kain batik khas cirebon motif mega mendung, hal ini berbeda dengan pakaian para penari Topeng Cirebon gaya Losari yang menggunakan kain batik motif
parang
yang merupakan motif khas batik dari budaya jawa.

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Musik pengiring pada gaya Losari menggunakan gamelan yang dipengaruhi oleh budaya jawa. Pada saat tampil menari, penari Topeng Cirebon gaya Losari menjadikan kotak topeng dan para
nayaga
(penabuh gamelan) sebagai sebuah pusat pertunjukan, oleh karenanya banyak kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari yang menjaga harga diri dan kesucian ritual tariannya, beberapa kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari juga menolak jika pertunjukannya harus diselingi dengan pertunjukan musik dangdut atau organ tunggal sesuai dengan permintaan penonton. Berikut merupakan musik pengiring dari pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Losari ;

  • Tetaluan
    (gagalan), merupakan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
  • Pamindo naek barlen.
  • Barlen, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Patih Jayabadra dan Kili Paduganata
  • Bendrong, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Jingga Anom dan Tumenggung Magangdiraja.
  • Ombak banyu, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Tumenggung Magangdiraja dari negeri Bawarna.
  • Gonjing pangebat, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Klana Bandopati
  • Rumyang, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Samba dalam
    babak
    rumyang.

Gerakan tari

[sunting
|
sunting sumber]

Pada gaya Losari, gerakan tidak hanya berpaku pada pola geometris seperti yang biasa dilakukan pada kebanyakan gaya tari Topeng Cirebon, tetapi juga menggunakan pola gerakan yang luwes.[14]
Gerakan yang menjadi khas gaya Losari di antaranya adalah ;[15]

  • gantung sikil
    yaitu gerakan menaikan satu kaki dan bertumpu pada kaki lainnya dengan berjinjit selama kurang lebih sepuluh menit
  • geleyong
    yaitu gerakan badan didorong ke kiri dan ke kanan dengan sesekali melenggokan badan ke belakang
  • naga seser
    yaitu gerakan kuda-kuda dimana kaki penari dibuka setengah jongkok dengan kaki kiri yang ditutupi juntaian kain.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Berbeda dengan kebanyakan tingkatan
babak
(alur cerita) tari Topeng Cirebon dari wilayah barat yang memiliki lima tingkatan yaitu ;

  1. Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir
  2. Samba, menceritakan karakter anak-anak
  3. Rumyang, menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan
  4. Tumenggung, menceritakan manusia yang sudah dewasa
  5. Klana, menceritakan manusia yang
    dursila
    (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam dirinya)

Pada gaya Losari, alur cerita atau urutan tari tidak mengutamakan pada pembabakan cerita secara watak, tetapi lebih kepada teknik dan penjiwaan karakternya. Ada delapan tingkatan alur cerita pada tari Topeng Cirebon gaya Losari, yaitu ;

  1. Panji Sutrawinangun
  2. Patih Jayabadra
  3. Kili Paduganata
  4. Tumenggung Magangdiraja
  5. Jinggan Anom
  6. Klana Bandopati
  7. Rumyang
  8. Lakonan

Berbeda dengan gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah barat di mana kelima babaknya bisa dibawakan seluruhnya oleh seorang penari, pada gaya Losari, setiap alur cerita atau
babak
dapat dibawakan oleh penari yang berbeda-beda.

Baca :   Tentukan Macam Sudut Pada Gambar Berikut

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Losari

[sunting
|
sunting sumber]

Di dalam gaya Losari, dalang yang terkenal di antaranya adalah almarhumah Sawitri dan Dewi dari sanggar tari Topeng Cirebon
Purwa Kecana, perjuangan melestarikan gaya Losari kemudian diteruskan kepada keturunannya, di antaranya Taningsih, Nur Anani, Kartini, Srinarti, Warsono dan Susana.[4]

Sanggar tari

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Seni Purwa Kencana, jalan batu, desa Astana Langgar, kecamatan Losari. kabupaten Cirebon.

Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

[sunting
|
sunting sumber]

Ki Dalang Ade Irfan menggunakan kostum milik Nyai Soedji (putri bungsu dari Ki Wentar. maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) pada pementasan
babak
topeng
Klana
dari tari Topeng Cirebon gaya Palimanan di teras keraton Kacirebonan, kota Cirebon

Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
tersebar disekitar kecamatan Palimanan dan sekitarnya.

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan diantaranya adalah ;

  • Kembang sungsang, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Panji
  • Gaya-gaya, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Samba, kata Gaya-gaya diambil dari gerakan watak Samba yang lincah dan banyak tingkah.
  • Malang totog, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Tumenggung. kata
    Malang totog
    berarti
    Belalang yang sedang menotog
    yang diambil dari ekspresi dalam gerakan dalang Topeng yang sedang meniru gerakan
    Malang
    (bahasa Indonesia: Belalang) tersebut,
    Malang totog
    sebenarnya adalah nama asli dari
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang mengiringi
    babak
    Topeng Tumenggung namun sekarang banyak yang mengenalnya denga nama
    tetaluan Tumenggung
    mengikuti nama
    babak
    Tumenggung yang sedang dipentaskan.
  • Bendrong, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Jingga Anom dan
    babak
    akhir yaitu
    Klana Udeng
  • Gonjing, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Klana
  • Kembang kapas, merupakan
    tetaluan
    (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
    babak
    Rumyang

Tetaluan
yang dibawakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan kurang lebih memiliki kesamaan dengan yang ada pada gaya Gegesik yaitu dengan dimainkannya
tetaluan
Kembang Sungsang,
Kembang Kapas
dan
Gonjing, kesamaan pada gaya Losari bisa dilihat dari dimainkannya
tetaluan
Bendrong
pada
babak
Jingga Anom, kedekatan ini kemungkinan terjadi karena menurut penuturan para budayawan dahulu, sesepuh tari Topeng Cirebon gaya Palimanan berasal dari wilayah timur kabupaten Cirebon tepatnya di wilayah kecamatan Astana Japura, kabupaten Cirebon.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Babak
tarian yang dibawakan pada gaya Palimanan hampir serupa dengan yang ada pada gaya Beber dan Randegan namun dengan penambahan
babak
Klana Udeng
sebagai akhir dari pagelarannya.

  • Panji, gerakannya sangat menghayati diam namun penuh arti,
    sunyi ing raga, ngaji diri
    (bahasa Indonesia: menyepi diam dan mendekatkan diri) terhadap allah swt,
    babak
    ini dalam gaya Palimanan melambangkan jiwa yangg bersih suci tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir.
  • Samba, gerakannya sangat lincah merefleksikan anak balita yang sangat lincah dan senang bermain.
  • Tumenggung, menggambarkan jiwa yang mulai dewasa dengan ditandai tumbuh kumis tipis pada topeng tumenggung yang merefleksikan sudah dimilikinya tanggung jawab dalam kehidupan.
  • Jingga anom,
    babak
    pementasan seperti teater yang menceritakan tokoh Jingga Anom.
  • Klana, merefleksikan sekumpulan puncak jiwa amarah murka dari topeng Panji, Samba, Tumenggung, Jingga Anom yang menjelma jadi satu menjadi angkra murka
  • Rumyang,
    babak
    Rumyang ini menandai sudah terlepasnya hawa nafsu duniawi, dipentaskan saat terbitnya matahari, saat sinar sudah terlihat samar-samar (bahasa Cirebon: ramyang-ramyang),
    babak
    ini dalam gaya Palimanan diterjemahkan sebagai penemuan jati diri yang sesungguhnya
    jatiningsun ing gusti
    (bahasa Indonesia: diri ini berserah kepada Allah swt), memproyeksikan jiwa yang centil dan
    ganjen (bahasa Indonesia: mencari perhatian)
    (dalam arti
    ganjen
    terhadap Allah swt)
    ganjen
    berlomba-lomba menuntut dan mentaati peraturan Allah swt serta mulai memandang dunia yang
    arum
    (bahasa Indonesia: harum) yaitu alam akhirat
  • Klana udeng, gerak tarinya perpaduan semua gerak tari lima wanda (babak
    Topeng) namun dengan menambahkan gerakan yang belum sempat ditarikan di topeng lima wanda tersebut,
    babak Klana Udeng
    dipentaskan dengan tidak menggunakan
    sobra
    namun dengan menggunakan
    Udeng
    (bahasa Indonesia: iket kepala)

Selain lima babak yang ada biasa ditampilkan, menurut
Ki
Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) pada masa lalu di dalam gaya Palimanan juga dipentaskan tarian Ratu Kencana Wungu yang dibuktikan dengan keberadaan topeng ini yang tersimpan pada dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

Gerakan tari

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
memiliki ciri khas pada berbagai macam posisi berdiri yang diciptakan oleh dalang Wentar, posisi-posisi tersebut disesuaikan dengan postur tubuh dan kepantasan penarinya, ditambah dengan penafsiran yang berbeda dalam meresapi watak dalam cerita topeng, membuat gerakan tarian Topeng gaya Palimanan ini berbeda.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

[sunting
|
sunting sumber]

Para dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang Wentar,
Ki
Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. namun menyebar ke wilayah lainnya terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber Jaya, kabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan
Ki Wentar
dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang kemudian menikah dengan
Ki
dalang Entang dari desa Balad, kecamatan Dukupuntang, kabupaten Cirebon merupakan ibu dan ayahnya, sehingga
Ki
Dalang Sukarta sekaligus menjadi cucu bagi
Ki
dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang terkenal dari gaya Palimanan adalah
Ki
dalang Ade Irfan.

Sanggar seni

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Seni Panggelar Budi, pimpinan
    Ki
    dalang Sukarta, Gedung Rumah Budaya jalan raya Cirebon – Bandung kawasan PT Indocement, desa Palimanan barat, kecamatan Gempol, kabupaten Cirebon. telp. +62-813-8095-8012 (Ki
    dalang Sukarta)
  • Sanggar Cipta Bagus Winangun, dibina oleh
    Ki
    Dalang Ade Irfan dan Tessar Ibrahim, bertempat di blok Kebagusan, desa Siti Winangun, kecamatan Jamblang, kabupaten Cirebon. Telp. +62 813-1132-6106 (Ki
    Dalang Ade Irfan) +62 878-2697-5428 (Dalang Tessar Ibrahim)

Galeri gerak Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa Pekandangan, kecamatan Indramayu, kabupaten Indramayu, gaya Pekandangan merupakan salah satu dari sedikit gaya tari Topeng Cirebon yang ada di Indramayu selain gaya Tambi yang lestarikan oleh
mimi
Wangi Indriya.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Pembagian
babak
pada tari topeng Cirebon gaya Pekandangan menurut Riyani didasarkan pada interpretasi dari gambaran nafsu manusia.[6]

  • Panji
  • Samba (bertopeng putih)
  • Samba (bertopeng merah)
  • Patih
  • Klana

Riyani menjelaskan bahwa
babak
topeng Panji, Samba dan Patih merupakan sebuah interpretasi dari kesempurnaan manusia jika ditelaah dalam sudut pandang jiwa manusia sedangkan
babak
topeng Klana merupakan sebuah proyeksi dari gambaran jasmani seorang manusia yang masih mempunyai berbagai nafsu duniawi.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang topeng gaya Pekandangan yang terkenal adalah
mimi
(bahasa Indonesia: ibu) Rasinah anak dari
Ki
Dalang Lastra dan ibunya seorang dalang ronggeng,[16]
menurut
Ki
Waryo budayawan Cirebon,
mimi
Rasinah merupakan salah satu maestro tari Topeng Cirebon yang banyak menimba ilmu dari para seniornya terdahulu seperti dari
mimi’ Soedji (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan), kini setelah meninggalnya
mimi
Rasinah, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan dilanjutkan oleh para muridnya, salah satunya adalah Aerli yang juga keturunannya.

Pada awalnya keluarga besar
Ki
dalang Lastra mengalami kesulitan besar ketika hendak mengembangkan tari topeng Cirebon gaya Pekandangan, kesulitan itu muncul dari penjajah yang berfikir bahwa aktivitas pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan yang dilakukan oleh
Ki
Lastra merupakan sebuah aktivitas mata-mata oleh pejuang Republik Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang, kelompok tari yang dipimpin oleh
Ki
Lastra dibekukan hingga selanjutnya pada masa agresi militer Belanda,
Ki
Lastra tewas ditembak tentara Belanda dengan tuduhan yang sama dengan sebelumnya yaitu melakukan aktivitas mata-mata untuk Republik Indonesia.[17]

Usaha melestarikan gaya Pekandangan oleh keluarga besar Mimi
Rasinah membuahkan hasil dengan dipentaskannya pagelaran tari Topeng yang berjudul Napak Tilas Sang Maestro Tari Topeng Pekandangan: Mimi Rasinah di teater terbuka balai pengelolaan taman budaya Jawa Barat pada maret 2014 yang diperagakan oleh ratusan dalang topeng gaya Pekandangan dari berbagai usia dan dihadiri oleh para peminat seni termasuk para murid
mimi
Rasinah dari berbagai negara.[18]

Tari Topeng Cirebon gaya Randegan

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Randegan
merupakan sebuah gaya tari Topeng Cirebon yang berkembang di wilayah desa-desa Randegan kecamatan Jatitujuh, kabupaten Majalengka, menurut
Ki
Waryo (budayawan Cirebon) tari Topeng Cirebon gaya Randegan leluhurnya berasal dari wilayah Cirebon sama seperti tetangganya yaitu tari Topeng Cirebon gaya Beber yang leluhurnya juga berasal dari wilayah Cirebon.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

  • Topeng
    Panji’, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang halus
  • Topeng
    Samba, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sedang tumbuh
  • Topeng
    Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari sebuah jiwa yang sudah dewasa
  • Topeng
    Jinggananom + Temenggung, merupakan sebuah penggambaran dari pertarungan antara jiwa yang memiliki nafsu baik dan nafsu jahat
  • Topeng
    Klana, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi
  • Topeng
    Rumyang Udeng, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum, berbeda dengan gaya tetangganya yaitu tari Topeng Cirebon gaya Beber yang menggunakan penutup kepala khas dalang Topeng Cirebon (bahasa Cirebon: Sobra), pada gaya Randegan,
    babak Rumyang
    dipentaskan dengan tidak menggunakan
    Sobra
    namun hanya menggunakan
    Udeng

Babak Rumyang
pada tari Topeng Cirebon gaya
Randegan
dipentaskan di akhir pagelaran, menurut
Ki
Pandi Surono (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Beber) yang seacara adat bersebelahan dengan gaya Randegan, pada masa lalu pagelaran tari Topeng Cirebon terutama gaya
Beber
dilakukan pada malam hari dan
babak Rumyang
dipentaskan mendekati terbitnya matahari saat sinar matahari terlihat samar-samar (bahasa Cirebon:
ramyang-ramyang) dari kata
ramyang
inilah kemudian
babak
ini dinamakan.

Penjelasan lebih lanjut tentang filosofi
babak rumyang
yang dipentaskan diahkhir setelah
babak Topeng Klana
yang merupakan proyeksi dari jiwa yang penuh nafsu dan emosi dijelaskan oleh
Ki
Waryo (budayawan Cirebon sekaligus dalang Wayang Kulit Cirebon gaya Kidulan (Palimanan) dan seorang ahli pembuat Topeng Cirebon) putera dari
Ki
Empek.
Ki
Waryo menjelaskan bahwa filosofi dari
Rumyang
terkait dengan sebuah proyeksi jiwa manusia yang sudah meninggalkan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang utuh (manusia harum) karena sudah tidak terbelenggu lagi dengan nafsu duniawi.
Rumyang
diartikan kedalam dua buah kata yaitu
arum
(bahasa Indonesia: harum) dan
yang
(bahasa Indonesia: manusia / orang) sehingga
Rumyang
diartikan secara harafiah menjadi
manusia yang harum

Ki
Rawita (maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan) menjelaskan bahwa sesungguhnya
babak Rumyang
pada gaya Randegan dipentaskan dengan tidak mengenakan
sobra
namun mengenakan
Udeng
khas gaya Randegan yang kemudian dia tunjukan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Randegan di acara Festival Topeng Nusantara pada tahun 2006 yang bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Randegan

[sunting
|
sunting sumber]

Ki
Rawita merupakan seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan yang terkenal terutama pada pementasan
babak Rumyang Udeng
di acara Festival Topeng Nusantara pada tahun 2006 yang bertempat di keraton Kasepuhan, kesultanan Kasepuhan, kota Cirebon.

Tari Topeng Cirebon gaya Slangit

[sunting
|
sunting sumber]

Ki
Waryo dan
Ki
Wiyono saat membawakan drama satu babak dalam pertunjukan topeng Cirebon pada saat acara
kaulan
dirumah keluarga
mimi
Keni Arja (budayawan Cirebon sekaligus maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Menurut keterangan dari
Ki
Erik North (budayawan Cirebon asal Santa Barbara – California) instrumen kendang yang ada pada foto merupakan instrumen kendang yang asli dari kebudayaan Cirebon jika dilihat dari bentuknya, bentuk ini berbeda dari kendang Sunda yang sekarang ramai dipergunakan.

Baca :   Mengapa Meteor Berpijar Pada Saat Jatuh Ke Bumi

Tari Topeng Cirebon gaya Slangit
utamanya terpusat disekitar desa Slangit, kecamatan Klangenan, kabupaten Cirebon, gaya inilah yang kemudian digunakan dan dikembangkan menjadi gaya tari Topeng Cirebon pada sanggar kesenian Sekar Pandan milik kesultanan Kacirebonan. Pada era tahun 80-an, sekitar tahun 1986 seorang peneliti asing bernama Pamela Rogers-Aguiniga telah mendokumentasikan secara mendetail berbagai dinamika dari tari Topeng Cirebon gaya Slangit melalui bimbingan
Ki
Sujana Arja (maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit).

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Musik pengiring yang digunakan dalam tari Topeng Cirebon gaya Slangit merupakan musik-musik khas gamelan Cirebon, berikut urutannya;[19]

  • Tetaluan, dikenal juga dengan nama
    gagalan
    merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
  • Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada
    babak
    Panji.
  • Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada
    babak
    Samba.
  • Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada
    babak
    Rumyang.
  • Tumenggungan, atau dikenal dengan nama
    bendrong
    merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada
    babak
    Tumenggung atau Patih.
  • Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada
    babak
    Klana.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Slangit terdiri dari lima
babak
yaitu ;

  • Panji,
  • Samba (Pamindo),
  • Rumyang,
  • Tumenggung
  • Klana.

Ki
dalang Sudjana Arja menafsirkan pagelaran topeng Cirebon gaya Slangit kedalam tiga fase yaitu pertumbuhan jasmani manusia (dari mulai bayi hingga dewasa, suasana kebatinan manusia di mana manusia mempergunakan fungsi indranya dalam komunitas sosialnya dan makna keagamaan yang ditunjukan secara simbolis mengenai sifat dan perilaku manusia.[6]

Gerakan tari

[sunting
|
sunting sumber]

Gerakan tari yang menjadi ciri khas dari gaya Slangit adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat serta gesit dan mendetail dalam setiap perpindahan geraknya, dikarenakan urutan gerakannyayang sangat mendetail maka gaya Slangit dijadikan sebuah acuan dalam pengajaran tari Topeng Cirebon dalam lingkup akademis.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Slangit

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang tari pada gaya Slangit yang terkenal di masyarakat hampir seluruhnya merupakan keturunan dari keluarga Arja, salah satu yang masih aktif melestarikan dan juga sebagai pengajar formal adalah Keni Arja (saudara almarhum
Ki
Sujana Arja), perjuangan keluarga Arja pada masa lalu dalam mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari bukanlah sebuah hal yang mudah, setelah kematian enam saudaranya hanya tinggal
Ki
Sujana Arja dan Keni Arja yang berjuang mempertahankan gaya Slangit agar tetap lestari, karena dari sembilan orang anak keturunan
Ki
Dalang Arja hanya delapan orang yang kemudian menjadi seniman tari Topeng Cirebon, baik sebagai
nayaga
(penabuh gamelan) atau sebagai
dalang
topeng, di antara sembilan orang anak
Ki
Dalang Arja hanya Durman yang tidak menjadi seorang seniman Topeng Cirebonan.

Perjuangan almarhum
Ki
Sujana Arja dan adiknya Keni dalam upaya melestarikan gaya Slangit dimulai dari
Bebarangan
yakni mengamen topeng dari kampung ke kampung dan memenuhi panggilan pentas, ditengah terjepit dalam sulitnya mempertahankan tari Topeng Cirebon gaya Slangit yang sepi dari panggilan pentas, kelompok tari Topeng Cirebon juga pada masa itu (sekitar tahun 1960-an) dihadapkan dengan tuduhan bahwa mereka terkait dengan Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S) sehingga menyebabkan ada beberapa kelompok tari Topeng Cirebon yang memilih untuk membubarkan diri karena takut dikait-kaitkan dengan gerakan tersebut, tetapi karena berniat untuk melestarikan gaya Slangit maka
Ki
Sujana Arja beserta saudaranya Keni Arja tetap melakukan pagelaran untuk membuktikan bahwa tari Topeng Cirebon gaya Slangit mampu bertahan dalam segala perubahan.[20]

Setelah meninggalnya
Ki
Dalang Sujana Arja, pelestarian tari Topeng Cirebon gaya Slangit diteruskan oleh kedua puteranya, yaitu Inu Kertapati dan Astori, serta dalang-dalang topeng Cirebon gaya Slangit lainnya seperti Miah, Maskeni, Karmina, Wiyono (putera dari Keni Arja), Nunung Nurasih, Oliah, Iin, dan Turini.

Sanggar tari

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Sekar Pandan – Kompleks keraton Kacirebonan, Jl. Pulasaren No. 74, kota Cirebon.
  • Sanggar Panji Asmara (pimpinan Inu Kertapati) – desa Slangit sebelah utara, Klangenan, kabupaten Cirebon. Telp: +6281320004611
  • Sanggar Adiningrum (pimpinan Keni Arja) – desa Slangit, Klangenan, kabupaten Cirebon.
  • Sanggar Langgeng Saputra (pimpinan Sanija) – desa Slangit,Klangenan, kabupaten Cirebon. Telp +6285224774338

Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Sinar Rancang merupakan salah satu gaya tari Topeng Cirebon yang masih dipentaskan di wilayah timur kabupaten Cirebon, penyebaran gaya Sinar Rancang terbatas disekitar desa Sinar Rancang, kecamatan Mundu, kabupaten Cirebon

Tari Topeng Cirebon gaya Tambi

[sunting
|
sunting sumber]

Tari Topeng Cirebon gaya Tambi
merupakan tari Topeng Cirebon yang penyebarannya berpusat di desa Tambi,kecamatan Sliyeg, kabupaten Indramayu, tari Topeng Cirebon gaya Tambi dan lainnya yang berada di wilayah kabupaten Indramayu secara umum memiliki kesamaan dengan tari Topeng Cirebon yang ada di wilayah kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka serta kabupaten Subang yakni dengan adanya lima babak tarian, perbedaannya hanyalah terdapatnya sub-babak
Klana Udeng
yang merupakan kepanjangan dari
babak
Klana.

Pakaian Penari

[sunting
|
sunting sumber]

Pakaian penari (bahasa Cirebon:
dalang
topeng) pada gaya Tambi hampir mirip dengan gaya-gaya tari Topeng Cirebon lainnya, perbedaannya adalah pada pakaian ketika mementaskan sub-babak
Klana Udeng, pada saat mementaskan
Klana Udeng,
dalang
topeng tidak mengenakan penutup kepala (bahasa Cirebon:
sobra) melainkan hanya mengenakan ikat kepala dari kain (bahasa Cirebon:
udeng)[21]

Musik pengiring

[sunting
|
sunting sumber]

Musik pengiring pada gaya Tambi hampir serupa dengan gaya Slangit, perbedaannya adalah pada
babak
Klana selain diiringi oleh lagu
Gonjring
juga diiringi oleh lagu
Sarung Ilang
kemudian pada sub-babak
Klana Udeng
lagu pengiringnya adalah lag-lagu khas dari Indramayu atau dikenal dengan lagu
dermayonan

Gerakan tari

[sunting
|
sunting sumber]

Gerakan tari yang khas pada gaya Tambi adalah ketika mementaskan sub-babak
Klana Udeng, pada saat itu tarian dipentaskan dengan mempertunjukan keahlian atraksi
Dalang
Topengnya, seperti atraksi menari di atas tambang sambil mengambil koin.


Babak
tarian


[sunting
|
sunting sumber]

Babak
tarian yang ada pada gaya Tambi sama dengan gaya-gaya yang ada di wilayah kabupaten Cirebon, kabupaten Majalengka dan kabupaten Subang, yakni Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Klana. Perbedaannya adalah dengan adanya sub-babak
Klana Udeng
yakni kepanjangan dari
babak
Klana.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Tambi

[sunting
|
sunting sumber]

Dalang
Topeng yang terkenal dari gaya Tambi salah satunya adalah
Nyai
Wangi Indria, anak dari
Ki Dalang
Taham (dalang wayang Kulit Cirebon dan cucu dari
Ki
Wisad (seniman tradisional).

Sanggar tari

[sunting
|
sunting sumber]

  • Sanggar Mulya Bhakti, pimpinan “Nyai” Wangi Indriya, Jl. Raya Jati Barang – Karang Ampel Km. 3, desa Tambi,kecamatan Sliyeg, kabupaten Indramayu. Telp. (+62-234) 352031

Topeng pelengkap

[sunting
|
sunting sumber]

Topeng-topeng yang menjadi pelengkap pada pagelaran tari Topeng Cirebon

Kiri atas, Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
Kiri bawah, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
Kanan atas, Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh berdarah Tionghoa).
Kanan bawah, Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.

Pada era sebelum tahun 70-an, menurut
Ki
Waryo (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) terdapat juga topeng-topeng lainnya yang menjadi pelengkap
babak
dalam pagelaran tari Topeng Cirebon, mereka adalah

  • Tembem, Patrajaya, Prasanta, Sabdapalon.
  • Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng.
  • Sentingpraya bapaknya Jinggananom (dipercaya sebagai tokoh berdarah Tionghoa).
  • Ngabehi Subakrama ayah Tumenggung Magangdiraja.

Pada era sekitar tahun 60-70-an topeng-topeng pelengkap seperti
Sentingpraya
masih dipentaskan pada
pagelaran dinaan
(bahasa Indonesia: pagelaran siang) tari Topeng Cirebon, pada periode tersebut menurut
Ki
Waryo,
babak
tumenggung Mangangdiraja melawan Jinggananom akan diteruskan adegannya dengan mementaskan adegan
Aki-aki perangan
dimana tokohnya adalah
Sentingpraya, ayah dari Jinggananom, dikarenakan
Sentingpraya
diwujudkan sebagai seorang tokoh berdarah Tionghoa, maka pada pagelaran tari Topeng Cirebon
Sentingpraya
disebut juga dengan nama
Babah Sentingpraya.

Pewarisan keahlian

[sunting
|
sunting sumber]

Pada tari Topeng Cirebon, yang dimaksud proses pewarisan keahlian adalah mewariskan kemampuan dari generasi yang lebih tua kepada yang lebih muda, proses pewarisan atau pengalihan pengetahuan ini erat hubungannya dengan praktik adat istiadat dalam konteks sebuah desa dan sesuai dengan lingkungan, adat, serta kepercayaan setempat.[22]
Secara garis besar proses pewarisan keahlian dalam tari Topeng Cirebon dibagi kedalam dua metode, yakni proses pewarisan secara tradisional dan proses pewarisan secara modern.

  • Proses pewarisan secara tradisional, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya tidak dilakukan melalui pembelajaran yang spesifik, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, pengamatan, dongeng-dongeng nenek moyang, dan sebagainya. Beberapa seniman Topeng Cirebon yang mengalami proses pembelajaran seperti itu antara lain Dasih,
    mimi
    Soedji,
    Ki
    Andet Suanda,
    Ki
    Sudjana,
    Ki
    Carpan,
    mimi
    Rasinah,
    mimi
    Dewi, dan
    mimi
    Sawitri

Proses pewarisan secara tradisional biasanya dilakukan dengan cara penyampaian lisan, sang murid dalam proses tradisional ini biasanya selalu mengikuti pagelaran tari topeng yang dilakukan oleh gurunya, sehingga ia dituntut untuk mendengarkan dan melihat apa yang dilakukan gurunya diatas panggung pagelaran, pada proses ini, murid belajar dengan cara mendengarkan, melihat dan kemudian mengembangkan sendiri pola-pola gerakan tari Topengnya miliknya, dikarenakan pada proses tradisional ini murid belajar langsunhg dari gurunya dipanggung, maka dalam istilah adat Cirebon proses pembelajaran model seperti ini dikenal dengan istilahguru panggung
[23]

Proses pewarisan keahlian dalang Tari Topeng Cirebon kepada murid atau keturunannya tidak selalu mengajarkan gerak tarian yang sama percis, menurut
Ki
Sujana Arja (maestro tari Topeng Cirebon gaya Slangit) pengajaran gerakan tarian Topeng ada yang sengaja dibedakan gerakannya dari guru kepada muridnya, hal ini terbukti dari adanya gaya Celeng dan gaya Cipunegara yang berasal dari keluarga yang sama yaitu
Ki
Kartam (maestro tari Topeng Cirebon gaya Celeng) dan
Ki
Panggah (maestro tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara) yang merupakan kakak – adik.

  • Proses pewarisan secara modern, proses pengalihan pengetahuan ini biasanya dilakukan di sanggar-sanggar tari milik para dalang Topeng Cirebon, murid tidak hanya mendengarkan dan melihat gurunya mementaskan tari Topeng Cirebon saja, tetapi juga diajarkan pola-pola gerakan yang didapat gurunya secara turun temurun mulai dari kuda-kuda, gerakan tangan, tatapan wajah dan lainnya, sehingga pada proses ini bisanya memunculkan pola gerakan yang kurang lebih sama antara murid yang satu dengan yang lain di dalam satu sanggar tari.

Perkembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, merupakan ciri khas lain dari tari topeng.

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya.

Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu.[24]
Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, tetapi ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun.[24]

Galeri

[sunting
|
sunting sumber]

Lihat pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Mimi Rasinah, Maestro tari Topeng Cirebon gaya Pekandangan
  • Topeng Cirebon

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java. London: Black, Parbury and Allen
  2. ^


    a




    b



    Sulastianto, Harry. dkk. 2006. Seni Budaya untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas. Bandung: Grafindo Media Pratama

  3. ^

    Masunah. Juju. 2003. Topeng Cirebon. Bandung: P4ST Universitas Pendidikan Indonesia
  4. ^


    a




    b




    c




    “Tikar Media – Topeng Cirebon – Peta kehidupan”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-12. Diakses tanggal
    2015-02-12
    .




  5. ^


    a




    b




    c




    “Kompas – 15 Gaya Tarian Topeng Cirebon”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-12. Diakses tanggal
    2015-02-12
    .




  6. ^


    a




    b




    c




    “Koesoemah. Wahyoe. 2015. Bentuk Penyajian Pertunjukan Topeng Cirebon. [[kota Cirebon|Cirebon]]: Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-02. Diakses tanggal
    2016-01-27
    .





  7. ^


    “Radar Cirebon – Pangeran Losari Angkawijaya Tali Sejarah Cirebon – Brebes”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-13. Diakses tanggal
    2015-02-13
    .





  8. ^

    Nugraha, Firman. 2012. Tari Topeng Klana di Lingkungan Seni Cinta Pusaka Serbaguna Subang Carini (Menor). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

  9. ^

    Sani, Willy surya. 2013. Tari Topeng Menor Cipunagara. Bandung: Universitas Komputer Indonesia

  10. ^

    Sondari, Koko dan Eddy Purnawadi. 1999. Topeng Gegesik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

  11. ^

    Ardiansyah, Reza. 2012. Perkembangan Kesenian Tari Topeng Gegesik. Kabupaten Cirebon Suatu Kajian Historis Tahun 1980–2000. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

  12. ^

    Saidi, Agus Maolana. 2013. Makalah – Tari Topeng. Tarakan: SMP N 1 Kota Tarakan

  13. ^


    “Taman Ismail Marzuki – Keni Arja”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-12. Diakses tanggal
    2015-02-12
    .




  14. ^


    a




    b




    “Pikiran Rakyat – Tari Topeng Losari, Gerakan Geometrik dan Luwes”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-12. Diakses tanggal
    2015-02-12
    .





  15. ^


    “Taman Ismail Marzuki – Seniman Tari – Noor Anani Maska Irman”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-02-12. Diakses tanggal
    2015-02-12
    .





  16. ^

    [http://www.tosupedia.com/2014/11/sanggar-tari-topeng-mimi-rasinah.html | Sudiyanto. Toto. 2014. Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah lahirkan bibit-bibit baru pelestari tari topeng Indramayu. Bongas: Tosupedia

  17. ^


    “2013. Mimi Rasinah. [[Sleman, Yogyakarta|Sleman]]: Ayo Menari”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-02. Diakses tanggal
    2016-01-27
    .





  18. ^


    “Heriyanto, Retno. 2014. Napak Tilas Sang Maestro Tari Topeng Pekandangan. [[Bandung]]: Pikiran Rakyat”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-02-03. Diakses tanggal
    2016-01-27
    .





  19. ^

    Ningsi, Ayoe. 2007. Tari Topeng Cirebon di Wilayah Slangit – Cirebon. Bandung: Institut Teknologi Bandung

  20. ^

    Liputan 6 – Sujana Arja, Maestro Topeng Cirebon

  21. ^

    Sugiarto, Arsyanah. Trianti Nugraheni. Ace Irwan Suryawan. 2014. Tari Topeng Klana Udeng di Sanggar Mulya Bhakti di Desa Tambi Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

  22. ^

    Rochmat, Nur. 2013. Pewarisan Tari Topeng Gaya Dermayon: Studi Kasus Gaya Rasinah. Bandung: Sekolah Tinggi Seni Indonesia

  23. ^

    Rasidin, Dindin. 2004. Rasinah Dalang Topeng Indramayu Jawa Barat. Sebuah Biografi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
  24. ^


    a




    b



    Kompas
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    . Wafatnya sang maestro tari topeng



Tari Wayang Gatotkaca Dan Tari Topeng Cirebon Adalah Contoh Tari

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Topeng_Cirebon

Check Also

Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual

Alumnice.co – Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual Besi beton telah menjadi bagian yang hampir …