Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Alumnice.co – Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Hemm.. kita mau bahas apa ya kali ini? Apakah tentang sebuah permainan anak kecil yang banyak menggunakan tangan sebagai medianya? Oh tidak.  Pada kesempatan kali ini,
in syaa Allah

kita akan membahas salah satu hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. Redaksi haditsnya adalah seperti berikut ini,

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

Kira-kira apa ya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah? Yuk kita bahas.

Frasa “tangan di atas” memiliki makna orang yang memberi atau orang yang bersedekah. Sedangkan frasa “tangan di bawah” bermakna orang yang meminta untuk diberi. Jadi, makna dari tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah adalah orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta.

Namun, yang perlu kita pahami dan perhatikan adalah bahwa hadits ini tidak berlaku bagi orang yang menerima sedekah. Yang termasuk ke dalam katagori tangan di bawah itu lebih buruk adalah mereka yang meminta-minta atau mengemis kepada manusia agar dikasihani. Lain halnya ketika kita tidak meminta sesuatu, tapi tiba-tiba ada seseorang memberikan sesuatu kepada kita. Pemberian yang demikian tidak boleh kita tolak dan tak lantas menjadikan kita lebih rendah dari orang yang memberikan sesuatu kepada kita tadi.

Ada sebuah kisah yang melatarbelakangi masalah ini. Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu pernah menolak pemberian dari Rasulullah. Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
“Ambillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah. Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca :   Kebahasaan Dalam Teks Prosedur Yang Paling Menonjol Adalah

Berdasarkan hadits tersebut, maka para asnaf zakat  tidak tergolong ke dalam “tangan yang di bawah” dan sangat dibolehkan untuk menerima sedekah atau dana zakat atau pemberian apapun yang diberikan kepada mereka.

Dari hadits tersebut juga, Rasulullah melarang kita untuk mengemis meminta-minta kepada manusia (Dan apa-apa yang tidak diberikan kepadamu, maka jangan memperturutkan hawa nafsumu untuk memperolehnya).
Meminta-minta kepada manusia haram hukumnya kecuali dalam keadaan sangat terpaksa di mana kita sudah melakukan segala upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup namun rupanya masih belum juga mencukupi.  Hal ini telah Allah jelaskan dalam firmanNya surah Ad-Dhuha ayat 10 yang artinya, “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.”

Ancaman bagi mereka yang meminta-minta dan mengemis hanya untuk memperkaya diri sendiri sangat berat. Rasulullah bersabda,
“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa di dalam hadits tersebut hukuman untuk orang yang mengemis ditimpakan pada wajahnya dan bukan pada tangannya yang selalu menadah?

Bisa jadi karena orang yang menjadikan kegiatan mengemis sebagai profesi adalah orang yang sengaja memutus urat malu dalam dirinya. Dengan terang-terangan ia menampakkan wajahnya dan menampilkan raut wajah mengiba nan menyedihkan itu guna menerbitkan rasa kasihan dari orang lain. Rasa malu sudah hilang dari hidupnya sedangkan malu adalah sebagian dari iman seperti yang Rasulullah jelaskan dalam sebuah hadits tentang rasa malu berikut ini,

Dalam sebuah kesempatan Rasulullah SAW bertemu seorang dari Anshar yang sedang menasihati saudaranya yang pemalu. Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda,
“Biarkan dia demikian, karena rasa malu itu bagian dari iman.”
(HR Bukahri-Muslim)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga bersabda,
“Rasa malu tidak pernah mendatangkan kecuali kebaikan.”
(HR Bukhari-Muslim). Nah yang perlu kita perhatikan lagi adalah menurut hadits tersebut, malu menjadi perantara timbulnya kebaikan dan begitu juga sebaliknya, kehilangan rasa malu berarti sama saja dengan kehilangan harga diri dan keimanan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan keburukan semata.

Baca :   Sebutkan Properti Yang Bisa Digunakan Pada Tari Bertema Kepahlawanan

Memang betul di dalam harta seseorang tersimpan harta milik orang lain yang Allah titipkan padanya. Namun, bukan berarti  dimaknai dengan cara meminta langsung kepada orang tersebut lewat jalan mengemis. Allah telah mengatur sedemikian rupa cara pembagian harta tersebut. Cara tersebut akan mengangkat derajat kedua belah pihak dan tidak ada yang Allah jatuhkan derajatnya dengan cara Allah membagi itu.

Allah telah mengaturnya dengan cara memerintahkan kepada para amil zakat untuk mengambil zakat dari para Muzakki dan memberikan doa untuk yang sudah menunaikan zakatnya. Lalu para amil akan membagi rata untuk kemudian diantarkan langsung kepada mereka yang tergolong dalam delapan asnaf zakat. Dengan cara seperti ini, tidak ada harga diri dan kehormatan yang dijatuhkan karena telah menerima dana zakat atau sedekah lainnya.

Lebih jauh lagi, apakah praktik meminta-minta hanya terbatas pada mereka yang menjadikan mengemis sebagai profesinya saja? Tentu tidak. Ada banyak praktik dari “tangan di bawah” dalam kehidupan sehari-hari yang bisa jadi kita belum menyadarinya.

Salah satu contoh kecil adalah ketika ada seseorang yang hari itu sedang berulang tahun, adalah hal yang biasa kita dapati jika teman-temannya meminta (terkadang dengan sedikit memaksa) untuk ditraktir makanan atau minuman. Tindakan teman-temannya yang meminta traktiran itu bukankah sama dengan orang yang meminta-minta di saat mereka sendiri mampu membeli makanan atau minuman yang diminta? Lalu orang yang berulang tahun akhirnya menuruti permintaan teman-temannya itu. Kalau orang itu memang sedang ada rezeki lebih untuk mentraktir, alhamdulillah tak jadi soal. Namun bagaimana jika ia sedang tak memiliki cukup uang untuk hal tersebut? Kita
kan ngga
pernah tahu keadaan seseorang sedang bagaimana.

Jika “tangan yang di bawah” sedemikian buruk ancamannya, lantas apa yang membuat “tangan yang di atas” jauh lebih baik?

Tangan di atas atau orang yang bersedekah merupakan orang-orang pilihan. Mengapa demikian? Karena tak semua orang mampu bersedekah; membagi rezeki yang ia miliki untuk orang lain. Orang yang gemar bersedekah merupakan orang yang paling bersyukur kepada Allah atas rezeki yang ia dapatkan. Cara ia bersyukur dan berterima kasih kepada Allah adalah dengan cara membuat orang lain juga juga bahagia lewat sedekah yang ia berikan. Orang yang bersedekah merupakan orang yanghebat karena di tengah kebahagiaannnya, ia ingat dan sadar untuk tidak memakan sendiri rezeki yang Allah berikan.

Baca :   Pelestarian Kebudayaan Dapat Dilakukan Dengan 2 Cara Yaitu

Orang yang bersedekah di waktu sulit juga sama hebatnya. Di tengah kesulitan hidupnya ia masih memikirkan orang lain dan mampu membagi rezekinya yang sedikit itu. Ia tak khawatir rezekinya akan habis jika berbagi di saat ia sendiri pun membutuhkannya. Yang ia tahu, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Namun, ada juga
nih
yang perlu diperhatikan oleh kita. Bersedekah itu memang amalan utama, tapi jangan sampai karena
saking
senangnya kita bersedekah, kita melupakan orang yang paling berhak atas sedekah kita dan menelantarkannya. Siapakah itu? Mereka adalah anak, istri, dan orangtua; merekalah yang berada dalam tanggung jawab kita.

Rasulullah mengatakan bahwa orang yang menafkahi keluarganya termasuk ke dalam sedekah. Hal ini sejalan dengan hadits yang ada di paragraf kedua artikel ini. Ketika semua tanggung jawab terhadap keluarga sudah kita tunaikan, barulah kita menunaikan sedekah  kepada orang lain.

Khatam Kalam…

Malu adalah sebagian dari iman. Orang yang dengan sengaja meminta mengemis kepada orang lain tanpa ada usaha terlebih dahulu termasuk orang yang menurut urat malunya yang dengan demikian tak lagi ada iman di dalam hatinya. Di sisi lain, orang yang gemar bersedekah adalah mereka yang termasuk ke dalam golongan orang yang dicintai Allah asalkan mereka telah menunaikan terlebih dahulu tanggung jawabnya terhadap keluarganya.

Melalui hadits ini juga, kita mengetahui bahwa Allah menginginkan kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan rezeki di bumi Allah dan berdoa memohon kepada Allah agar dilancarkan segala urusannya. Melalui perintah untuk bekerja dan berdoa, sebenarnya Allah ingin mengangkat derajat hambaNya dengan cara menghidupi dirinya dan keluarga dari hasil kerja kerasnya sendiri, bukan dari menadahkan tangan memohon belas kasih dari sesama hamba.

Penulis,
(DHQ)

Tangan Di Atas Lebih Baik Dari Tangan Di Bawah

Sumber: https://mandiriamalinsani.or.id/tangan-di-atas-lebih-baik-dari-tangan-di-bawah/

Check Also

Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert

Alumnice.co – Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert Dalam bidang pelayaran, ada banyak jenis kapal …