Seorang Budak Yang Berhasil Membunuh Khalifah Umar Bin Khatab Bernama

Alumnice.co – Seorang Budak Yang Berhasil Membunuh Khalifah Umar Bin Khatab Bernama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas




Abu Lu’lu’ah Al-Majusi
ابولولو.jpg
Nama dalam bahasa asli (fa)
پیروز نهاوندی

(ar)
فيروز النهاوندي

Edit the value on Wikidata
Biografi
Kelahiran 7 abad

Edit the value on Wikidata


Nahavand
(en)
Terjemahkan

Edit the value on Wikidata
Kematian 3 November 644

Edit the value on Wikidata


Madinah

Edit the value on Wikidata
Penyebab kematian Exsanguination
(en)
Terjemahkan

Edit the value on Wikidata
Tempat pemakaman Piruz Nahavandi Mausoleum
(en)
Terjemahkan



Edit the value on Wikidata


Kelompok etnis Bangsa Persia

Edit the value on Wikidata
Agama Zoroastrianisme

Edit the value on Wikidata
Kegiatan
Pekerjaan Prajurit, Perajin, pandai besi,
joiner
(en)
Terjemahkan
dan
pembunuh

Edit the value on Wikidata
Bekerja di Al-Mughirah bin Syu’bah


Edit the value on Wikidata

Konflik Pertempuran Qadisiyyah

Edit the value on Wikidata

Pīrūz Nahavandi
(bahasa Persia:
پیروز نهاوندی) atau
Fīrūz
(Fairuz) dikenal dalam bahasa Arab sebagai ‘Abu-Lū’lū’ah
al-Majusi
(bahasa Arab:
أبو لؤلؤة المجوسي‎) atau
Abu Lukluk
adalah seorang prajurit Sasania yang bertugas di bawah komandan Rostam Farrokhzad, tetapi berhasil ditangkap dalam Pertempuran Qadisiyyah pada tahun 636 M ketika Sassania dikalahkan oleh tentara Muslim pimpinan Khalifah Umar bin Khattab di tepi barat Sungai Efrat. Setelah ia dibawa ke Madinah, ia berhasil membunuh sang Khalifah pada tahun ke-23 Hijriah (644-645 M).

Biografi

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah kejatuhan Kekaisaran Sasaniyah, ia ditawan lalu dijadikan budak yang bekerja untuk Al-Mughirah bin Syu’bah, salah seorang sahabat Rasulullah yang memimpin Basrah. Bakat seninya membuat sang majikan menyurati Khalifah Umar yang akhirnya memperbolehkan Abu Lukluk tinggal di Madinah.

Pembunuhan Umar

[sunting
|
sunting sumber]

Pada suatu hari pada tahun ke-23 Hijriah, Abu Lukluk bersembunyi di pagi buta di dekat tempat Umar bin Khattab akan mengimami shalat Shubuh berjamaah di Masjid Nabawi. Saat Umar mulai bertakbir, Abu Lukluk tiba-tiba muncul dan menikam pusar sang Khalifah Amirul Mu’minin sebanyak tiga kali dengan sebuah belati bermata dua. Umar melaungkan kalimat “Allahuakbar” dan mencoba untuk meneruskan salat. Beberapa di antaranya mencoba mengejar Abu Lukluk dan ada juga yang kabur karena ketakutan. Setelah menikam Umar, ia mencoba menikam orang-orang yang mencoba menangkapnya. Ketika terpojok, Abu Lukluk melakukan bunuh diri.

Baca :   Y Rins Pencuci Mata

Makam

[sunting
|
sunting sumber]

Makam Abu Lu’lu’ah di Iran

Konon, Abu Lu’lu’ah dimakamkan di Kashan, di wilayah Iran. Makamnya dibangun pada abad ke-11 dengan arsitektur Persia-Khawarizmi. Makamnya dibangun dengan kubah berbentuk kerucut. Tanggal pembangunannya tidak diketahui sementara batu nisannya baru diletakkan pada abad ke-14.

Omar Koshan

[sunting
|
sunting sumber]

Selama abad ke-16 konversi Iran ke Islam Syiah di bawah pemerintahan Safawi , sebuah festival mulai diadakan untuk menghormati Abu Lu’lu’a dan pembunuhan Umar.
[1]
Dinamakan
Omar-koshan
(pembunuhan Umar), pada awalnya diadakan di sekitar tempat suci Abu Lu’lu’a di Kashan, pada hari peringatan kematian Umar ( 26 Dzulhijjah ).
[2]
Kemudian perayaan itu menyebar ke tempat lain di Iran, dan kadang-kadang diadakan pada tanggal 9 Rabi’ al-Awwal daripada pada tanggal 26 Dzulhijjah.
[3]

Festival tersebut merayakan Abu Lu’lu’ah, yang dijuluki
Bābā Shujāʿ al-Dīn
(secara harfiahBapak Pemberani Iman), sebagai pahlawan nasional yang telah membela agama dengan membunuh khalifah yang menindas.
[4]
Umar tidak hanya dipandang sebagai penganiaya non-Arab, ia juga dianggap mengancam dan melukai putri Muhammad dan istri Ali, Fatimah. Karena itu, Umar dianggap oleh kaum Syi’ah (yang menghormati Fatima) sebagai simbol penindasan sekte mereka.
[5]
Festival merayakan pembunuhan Umar juga merupakan bagian dari tradisi yang lebih luas dari ritual mengutuk tiga khalifah Rashidun pertama, yang dihormati oleh Sunni tetapi dianggap oleh Syiah sebagai perampas posisi sah Ali sebagai khalifah.
[6]
Ini melibatkan pemukulan dan pembakaran patung Umar, disertai dengan kutukan dan pembacaan puisi yang menjelekkan.
[7]

Memperbaiki hubungan politik antara Qajar Iran (1789–1925) dan Utsmaniyah Sunni , serta munculnya pan-Islamisme (ideologi yang menganjurkan persatuan semua sekte Islam ) di akhir abad ke-19, menyebabkan penurunan bertahap festival tersebut.
[8]
Setelah Revolusi Islam pada tahun 1979, ritual tersebut secara resmi dilarang di Republik Islam Iran.
[9]
Meskipun demikian, festival ini tetap dirayakan, meskipun seringkali secara sembunyi-sembunyi dan di dalam ruangan, dan sekarang diadakan dari tanggal 9 hingga 27 Rabi’ Al-Awwal.
[10]

Baca :   Perbedaan Waktu Indonesia Dan Inggris London

Kontroversi

[sunting
|
sunting sumber]

Sebagian kaum Syi’ah memberi gelar kepada Abu Lu’lu’ Baba Shujauddin yang berarti Bapak Pemberani. Hari pembunuhan Umar itu diperingati pada 9 Rabiul awal sebagai
djashn-e Omar koshi
atau hari pembunuhan Umar yang dahulu beberapa kali dirayakan di desa-desa terpencil di pelosok Iran, sebelum akhirnya dilarang oleh pemerintah Iran yang baru naik setelah Revolusi Iran tahun 1979. Hal ini dilakukan karena beberapa kali menuai kritik dari berbagai negara Islam di seluruh dunia.

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^

    Algar 1990; Torab 2007, hlm. 196.

  2. ^

    Algar 1990; Torab 2007, hlm. 196.

  3. ^

    Stewart 1996, hlm. 47; Mavani 2016, hlm. 137.

  4. ^

    Calmard 1996, hlm. 161; Johnson 1994, hlm. 127, note 23; Torab 2007, hlm. 196.

  5. ^

    Stewart 1996, hlm. 47; Mavani 2016, hlm. 137.

  6. ^

    Algar 1990.

  7. ^

    Algar 1990; Torab 2007, hlm. 194. An example of such vilifying poetry is cited by Stewart 1996, hlm. 47.

  8. ^

    Algar 1990.

  9. ^

    Torab 2007, hlm. 194–195.

  10. ^

    Torab 2007, hlm. 195, 198.

Sumber

[sunting
|
sunting sumber]

  • Algar, Hamid. “Caliphs and the Caliphate, as viewed by the Shiʿites of Persia”.
    4: 677–679.



  • Caetani, Leone (1905–1926).
    Annali dell’Islam. 10 vols. Milan: Ulrico Hoepli. OCLC 3423680.



  • Calmard, Jean (1996). “Shi’i Rituals and Power II. The Consolidation of Safavid Shi’ism: Folklore and Popular Religion”. Dalam Melville, Charles.
    Safavid Persia: The History and Politics of an Islamic Society. Pembroke Persian Papers.
    4. London: I.B. Tauris. hlm. 139–190. ISBN 1-86064-023-0.



  • Chkeidze, Thea (2012). “Georgia v. Linguistic Contacts with Iranian Languages”.
    Encyclopaedia Iranica.



  • El-Hibri, Tayeb (2010).
    Parable and Politics in Early Islamic History: The Rashidun Caliphs. New York: Columbia University Press. ISBN 978-0-231-15082-8.



  • Fischer, Michael M. J. (1980).
    Iran: From Religious Dispute to Revolution. Cambridge, MA: Harvard University Press. ISBN 9780674466159.



  • Ghereghlou, Kioumars (2016).
    Maḵdum Šarifi Širāzi.



  • Ishkevari, Hasan Yusofi (1994–2020). “ابو لؤلؤ[[Kategori:Artikel mengandung aksara Persia]]”.

    دائرة المعارف بزرگ اسلامی
    (Encyclopaedia Islamica)
    .
    6.




    (original Persian version of Ishkevari & Nejad 2008)
  • Ishkevari, Hasan Yusofi; Nejad, Saleh (2008).
    Abū Luʾluʾ.




    (English translation of Ishkevari 1994–2020)
  • Isma’il, Faraj (13 June 2007). “بعد تدخل الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين : السلطات الإيرانية تغلق مزار “أبو لؤلؤة المجوسي” قاتل عمر بن الخطاب”.
    Al Arabiya. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-06-15. Diakses tanggal
    2022-07-10
    .



  • Ismail, Raihan (2016).
    Saudi clerics and Shī’a Islam. New York: Oxford University Press. ISBN 9780190627508.



  • Johnson, Rosemary Stanfield (1994). “Sunni Survival in Safavid Iran: Anti‐Sunni Activities During the Reign of Tahmasp I”.
    Iranian Studies.
    27
    (1–4): 123–133. doi:10.1080/00210869408701823. JSTOR 4310889.



  • Levi Della Vida, G.; Bonner, M. (1960–2007). “ʿUmar (I) b. al-Khaṭṭāb”. Dalam Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P.
    Encyclopaedia of Islam, Second Edition. doi:10.1163/1573-3912_islam_SIM_7707.



  • Madelung, Wilferd (1997).
    The Succession to Muhammad: A Study of the Early Caliphate. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-56181-7.



  • Mavani, Hamid (2016). “Sunni – Shi’i Rapprochement: Internal Contradictions”.
    The American Journal of Islamic Social Sciences.
    33
    (1): 133–147. doi:10.12816/0037430.



  • Pellat, Charles (2011). “Abū Loʾloʾa”. Dalam Yarshater, Ehsan.
    Encyclopaedia Iranica.



  • Rezakhani, Khodadad (2017).
    ReOrienting the Sasanians: East Iran in Late Antiquity. Edinburgh: Edinburgh University Press. ISBN 978-1-4744-0029-9.



  • Stewart, Devin J. (1996). “Popular Shiism in Medieval Egypt: Vestiges of Islamic Sectarian Polemics in Egyptian Arabic”.
    Studia Islamica.
    84
    (84): 35–66. doi:10.2307/1595994. JSTOR 1595994.



  • Torab, Azam (2007).
    Performing Islam: Gender and Ritual in Iran. Leiden: Brill. doi:10.1163/9789047410546_009.



  • Pellat, Ch. (1983). “ABŪ LOʾLOʾA”.
    Encyclopaedia Iranica, Vol. I, Fasc. 3. hlm. 333–334.



  • Sunni Scholars Demand Destruction Of Persian National Hero Firuzan Tomb Diarsipkan 2008-06-25 di Wayback Machine.
Baca :   Kaos Merah Maroon Lengan Panjang Wanita



Seorang Budak Yang Berhasil Membunuh Khalifah Umar Bin Khatab Bernama

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Lu%27lu%27ah_Al-Majusi

Check Also

Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual

Alumnice.co – Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual Besi beton telah menjadi bagian yang hampir …