Menulis Naskah Pidato


 yang Baik, Bagaimana Caranya?







Solehun





Pemimpin Umum sumselupdate.com


Pidato merupakan pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Sebagai sebuah teks atau naskah, pidato adalah wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak. Pidato harus memuat gagasan, pikiran, atau informasi dari pembicara yang hendak disampaikan kepada khalayak ramai.

Setiap orang yang berpidato pasti berharap apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pendengarnya. Dia pun ingin apa yang menjadi maksud dan tujuan dari pidatonya dapat tercapai dengan baik.

Sebagai salah satu wujud keterampilan berbicara, pidato sejatinya dapat dipelajari oleh siapa pun. Sebagai konskuensinya, untuk bisa terampil berpidato, seseorang harus mau belajar dan berlatih tentang berbagai hal tentang pidato. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana cara menulis naskah pidato yang baik sebelum yang bersangkutan, atau orang yang minta dibuatkan naskah pidato, menyampaikannya di depan publik.


Struktur



Naskah


 Pidato

Naskah pidato sebaiknya disiapkan sebelum kita berpidato. Tujuannya, agar pidato yang kita sampaikan nanti berjalan lancar dan runtut. Dalam kegiatan penyiapan naskah ini, hal penting yang harus diperhatikan adalah struktur naskah pidato yang terdiri atas pembukaan, isi, dan penutup.


Pertama
, pembukaan. Bagian pembukaan naskah pidato umumnya berisi salam pembuka, ucapan penghormatan, dan ucapan syukur.

Salam pembuka dapat diwujudkan melalui beragam ungkapan, sesuai dengan tradisi atau konteks yang menyertainya. Seperti yang lazim kita temukan, salam pembuka diwujudkan melalui beberapa ungkapan, misalnya:
assalammualaikum warahmatullaahi wabarakatuh; salam sejahtera bagi kita semua; selamat pagi; salam olahraga.

Ucapan penghormatan biasanya digunakan untuk menyapa secara hormat orang-orang yang dianggap memiliki kedudukan penting. Selain itu, juga untuk menyapa unsur-unsur audiens yang hadir di sebuah forum. Contohnya,
Yang Terhormat: Gubernur Provinsi Sumatera Selatan; Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan; Para Kepala SMA Negeri se-Sumatera Selatan; Dewan Juri dan Peserta Gebyar Seni SMA Negeri se-Sumatera Selatan yang Berbahagia.

Pada bagian pembukaan umumnya juga disertai ucapan syukur kepada Tuhan atas beragam nikmat-Nya. Misalnya:
“Marilah kita persembahkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena pada kesempatan ini kita masih diberi nikmat kesehatan dan kesempatan. Berkat nikmat ini, kita dapat hadir di sini guna mengikuti acara yang memiliki makna penting bagi kemajuan dunia seni ini ”.


Kedua
, isi. Bagian isi merupakan bagian inti pidato. Pada bagian ini, paparan pembicara memiliki porsi persentase yang paling banyak jika dibandingkan dengan bagian pidato lainnya. Di sini, pembicara akan menguraikan materi pidatonya kepada audiens secara runtut, rinci, dan jelas. Agar isi pidato dapat dengan mudah ditangkap pendengar, pembicara dapat menggunakan penanda, seperti

pertama…,





kedua…


,



ketiga
…, dan seterusnya. Penggunaan penanda seperti ini juga akan memudahkan penulis dalam menyusun gagasan di teks pidato.

Baca :   Pena Yang Sering Digunakan Untuk Membuat Gambar Gambar Teknik Adalah


Ketiga
, penutup. Bagian penutup merupakan bagian akhir sebuah pidato. Meski bagian akhir, penutup juga turut menentukan keberhasilan pidato. Sebab, penutup pidato yang baik akan menimbulkan rasa simpati dari pendengar.

Bagian penutup pidato biasanya diisi dengan kesimpulan, permintaan maaf jika ada kekhilafan, dan salam penutup. Dalam penutup dapat juga diisi kutipan pendapat tokoh, kata mutiara, atau pantun yang sesuai dengan situasi saat itu. Contohnya: “Demikian telah disampaikan betapa seni sangat berguna bagi kehidupan kita. Dengan seni, hidup kita akan damai, indah, dan berkeadaban. Selanjutnya, sebelum mengakhiri sambutan ini, saya tidak lupa memohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan di hati saudara-saudara. Kalau ada sumur di ladang bolehlah kita menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang semoga kita berjumpa lagi. Sekian. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”.


Kiat


 Menulis Naskah Pidato yang Baik

Pidato memiliki tujuan tertentu. Selain untuk menyampaikan informasi, pidato juga untuk menghibur, mempengaruhi, atau membujuk audiens. Karenanya, pidato yang baik akan memberikan efek positif kepada pendengarnya. Bahkan pidato dapat membuat pendengar mau mengikuti arahan ataupun pesan yang disampaikan pembicara.

Untuk menghasilkan pidato yang baik diperlukan persiapan yang matang. Salah satunya dengan mempersiapkan naskah pidato yang baik. Lantas, bagaimana cara menulis naskah pidato yang baik? Seperti dikutip dari buku
Speech Writing Tips Exclusive From Dino Patti Djalal (Lelly Dharna, 2018), dalam menulis naskah pidato kita hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Kenali Siapa yang Membawakannya (
    W


    ho



    i


    s



    G


    iving



    t


    he



    S


    peech
    ). Jika Anda mempersiapkan naskah pidato untuk orang lain, Anda mesti terlebih dahulu mengenali siapa yang akan membawakan pidato. Dengan mengenalinya, kita bisa menentukan gaya penyampaian, intonasi, penekanan, ataupun sisipan humor yang akan disampaikan dalam pidato.
  2. Kenali Audiensnya. Dengan mengetahui siapa target audiens, penulis naskah pidato akan lebih mudah dalam memilih materi atau gaya pidatonya. Sebagai gambaran, penulisan naskah pidato untuk anak-anak misalnya, tentu berbeda dengan naskah pidato yang beraudiens orang tua.
  3. Kenali Acaranya. Jika Belum, Tanyakan! Penulis mesti mengetahui secara persis kegiatan yang menjadi dasar dibuatnya naskah pidato. Informasi seputar nama, dasar, tujuan, manfaat, hingga pelaksana kegiatan misalnya, akan sangat berarti dalam menghasilkan naskah pidato yang kontekstual dan bermakna. Apabila informasi tersebut belum didapat, tanyakan ke panitia atau siapa pun yang memahami esensi kegiatan tersebut.
  4. Kenali Kebijakan. Dalam naskah pidato yang berisikan kebijakan, penulis seharusnya mengetahui kebijakan tersebut secara lebih mendalam. Pastikan bahwa penulis mengetahui dasar dibuatnya, tujuan, manfaat apa, hingga resiko apa yang akan timbul begitu kebijakan itu dikeluarkan.
  5. Perjelas dengan Pertanyaan. Dalam mengangkat sebuah tema dalam naskah pidatonya, penulis harus memperjelasnya melalui pertanyaan yang langsung pada inti dari apa yang ingin diketahui atau disampaikan oleh pembawa pidato. Hindari pertanyaan yang jawabannya bisa terlalu luas. Misalnya,
    Bagaimana perkembangan demokrasi?
    Padahal, hal tersebut dapat diubah dengan pertanyaan yang lebih sempit atau langsung ke intinya, yakni
    Bagaimana demokrasi berkerja di Indonesia dibandingkan dengan negara negara berkembang lainnya?
  6. List Semua Poin yang Sudah Ada. Dengan membuat daftar (
    list
    ) semua poin materi pidato, kita dapat menentukan dimana klimaks dari sebuah pidato. Selain itu, poin-poin materi ini juga dapat membantu penulis pidato dalam menyiapkan bahan pendukung dan memandunya dalam menulis naskah pidato.
  7. Tentukan Dua atau Tiga Poin yang Ingin Disampaikan. Pidato yang baik adalah pidato yang fokus pada pokok pembicaraan dan disampaikan secara lugas, singkat, dan padat. Dengan menentukan dua atau tiga poin yang akan disampaikan, hal ini akan menjadi patokan dalam menulis naskah pidato agar bahasan yang ingin disampaikan tidak melebar kemana-mana.
  8. Tentukan Poin Utama dan Poin Pendukungnya. Untuk lebih menarik dan meyakinkan audiens, naskah pidato harus memuat poin utama dan poin-poin pendukung dari tema yang menjadi pokok bahasannya.
  9. Buat Sketsa dari Naskah Pidato. Tujuan pembuatan sketsa ini adalah agar pidato yang disampaikan jelas alur pesannya dan tidak berputar-putar ke hal lain yang justru mengaburkan isi pidato.
  10. Kalimat Pembuka yang Kuat. Pembukaan merupakan hal yang penting untuk mendapatkan perhatian audiens. Pembukaan yang kuat dan mengejutkan akan menimbulkan daya pikat yang dibutuhkan. Di sini, beberapa pilihan pembukaan pidato dapat digunakan, misalnya, permainan kalimat yang menimbulkan rasa penasaran audiens, dramatisasi yang mampu meningkatkan ketegangan audiens, dan permainan waktu yang dapat membangkitkan daya imaji. Selain itu, kita dapat menggunakan kutipan pendapat tokoh, anekdot, ataupun improvisasi untuk memantik keterlibatan audiens.
  11. Gunakan Kalimat yang Efektif. Naskah pidato mesti disusun dengan kalimat yang efektif. Gunakan kalimat yang singkat, padat, dan jelas. Hindari kalimat yang ruwet dan panjang, serta kata-kata yang mubazir.
  12. Tulislah Apa yang Ingin Kamu Dengar, Bukan Hanya Sekedar Tulisan. Posisikan sebagai pendengar, apa yang kira-kira ingin didengarkan? Apakah kata-kata yang ditulis sudah melakukan penekanan yang sesuai.
  13. Bubuhi Anekdot atau Humor. Naskah pidato dapat dibubuhi humor untuk memecah kekakuan atau keheningan suasana. Meski demikian, gunakan humor seperlunya saja agar konsentrasi pada pokok pembicaraan tetap terjaga.
  14. Gunakan Repetisi Untuk Menekankan Apa yang Ingin Disampaikan. Dengan melakukan repitisi (pengulangan) diharapkan audiens semakin mudah menangkap apa yang ingin disampaikan oleh pembicara.
  15. Tulis Ulang dan Perbaiki Naskah Pidato. Untuk memastikan apakah naskah pidato sudah baik, penulis harus melakukan editing. Jika ditemukan kesalahan atau kekurangan, penulis dapat menulis ulang dan memperbaiki naskah pidato tersebut.
  16. Tutup Pidato dengan Poin Mengesankan. Menutup pidato dengan poin yang mengesankan adalah bagian penting yang harus diperhatikan penulis naskah pidato. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menampilkan kesimpulan isi pembicaraan dan kata-kata penutup yang memotivasi. **