Mengatasi Bunga Jantan Pada Kelapa Sawit

alumnice.co – Mengatasi Bunga Jantan Pada Kelapa Sawit.

Berbunga Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelapa sawit
yaitu tipe tanaman yang termasuk internal genus
Elaeis
dan ordo Arecaceae. Tumbuhan ini digunakan dalam operasi pertanian komersial untuk memproduksi patra sawit. Genus ini n kepunyaan dua diversifikasi anggota. Nyiur sawit
Elaeis guineensis
merupakan spesies kelambir sawit yang paling mahajana dibudidayakan di dunia, terutama di Indonesia, dan sumber terdepan minyak kelapa sawit dunia. Kelapa sawit
Elaeis oleifera
[1]
adalah tanaman polos Amerika Kidul dan Tengah tropis,[2]
dan digunakan secara lokal bikin produksi patra.

Kelapa sawit ialah tumbuhan industri sebagai bahan lumrah pembuat minyak matang, minyak industri, maupun incaran bakar. Indonesia adalah kreator minyak nyiur sawit terbesar di marcapada. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Terwalak beberapa keberagaman kelapa sawit yaitu
E. guineensis
Jacq., E. oleifera, dan
E. odora. Jenis alias tipe kelapa sawit digolongkan berdasarkan dua karakteristik yaitu ketebalan endokarp dan warna buah. Berdasarkan ketebalan endokarpnya, kelapa sawit digolongkan menjadi tiga varietas yaitu Dura, Pisifera, dan Tenera, padahal menurut warna buahnya, nyiur sawit digolongkan menjadi tiga jenis yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Secara publik, kelapa sawit terdiri atas beberapa bagian yaitu akar tunjang, batang, daun, anak uang dan biji pelir. Bagian dari nyiur sawit yang diolah menjadi petro adalah biji pelir.[3]

Ciri-ciri

[sunting
|
sunting mata air]

Arecaceae dewasa bercabang eksklusif, dan dapat tumbuh dengan ketinggian makin terbit 20 m (66 ft). Daunnya menyirip, dan panjang mencapai antara 3–5 m (10–16 ft). Bunganya diproduksi dalam tulang beragangan padat; masing-masing anakan kecil, dengan tiga sepal dan tiga kelopak.

Buahnya bercat kemerahan, seukuran plum ki akbar, dan tumbuh dalam tandan besar. Setiap buah terdiri dari lapisan luar nan mengandung minyak (perikarp), dengan nilai spesial (inti sawit), pula berlimpah akan minyak.

Kelapa sawit berbentuk pokok kayu. Tingginya dapat sampai ke 24 meter. Akar tunggang cendawan pokok kayu kerambil sawit mengarah ke asal dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan suplemen aerasi.

Begitu juga variasi palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun bercelup mentah tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya asa mirip dengan tanaman gonggongan anjing, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu persisten dan drastis. Mayit tanaman diselimuti lepasan pelepah hingga sukma 12 tahun. Setelah hayat 12 tahun pelepah yang mengering akan terlepas sehingga prestasi menjadi mirip dengan kelapa.

Anak uang jantan dan lebah ratulebah terpisah namun berharta lega suatu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat langka terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan n kepunyaan bentuk lancip dan hierarki sementara bunga betina terlihat kian samudra dan mekar.

Tanaman sawit dengan macam kelongsong pisifera berkarakter
female putih
sehingga sangat jarang menghasilkan tandan biji zakar dan dalam produksi sperma ulung digunakan sebagai vlek kosen.

Buah sawit mempunyai warna majemuk mulai sejak hitam, ungu, hingga merah tersampir konsentrat yang digunakan. Biji zakar bergerombol dalam tandan yang muncul berasal tiap petiolus. Minyak dihasilkan maka dari itu buah. Rahim minyak kian sesuai kematangan biji zakar. Selepas melewati fase menguning, kandungan asam legit bebas (FFA,
free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri berpokok tiga sepuhan:

  • Eksoskarp, bagian kulit biji zakar berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, selongsong pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah poin) merupakan endosperma dan fetus dengan tembolok minyak inti berkualitas tinggi.

Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit menguning plong kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bikin akar (radikula).

Habitat aslinya merupakan daerah semak semak. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU – 15° LS)

Keberagaman

[sunting
|
sunting sumber]

Kedua tipe,
E. guineensis
dan
E. oleifera
dapat menghasilkan hibrida berkecukupan. Genom
E. guineensis
mutakadim diurutkan, yang memiliki implikasi terdahulu buat membiakkan tanaman yang lebih baik.[4]

Gambar Nama Etiket umum Habitat bawah
Elaeis guineensis
Jacq.
Kerambil sawit (afrika) Afrika barat dan barat daya, khususnya antara kawasan Angola dan Gambia
Oilpalmmagdalenacolombia-2.jpg Elaeis oleifera
(Kunth) Cortés
Kerambil sawit amerika Amerika Daksina dan Perdua, semenjak Honduras setakat Brasil bagian utara

Karakter kiat

[sunting
|
sunting sumber]

Karena minyak kelapa sawit mengandung lebih banyak lezat jenuh daripada petro yang terbuat dari kanola, jagung, angka goni, kacang kedelai, safflower, dan bunga matahari, minyak kelambir sawit dapat tahan terhadap memberahikan yang ekstrem dan resistan terhadap oksidasi.[5]
Ini tidak mengandung lemak trans, dan penggunaannya dalam rezeki telah meningkat perumpamaan hukum pelabelan rezeki dan telah mengubah dalam penentuan kandungan lemak trans. Patra berpunca
Elaeis guineensis
lagi digunakan sebagai biofuel.

Baca :   Yang Bukan Tahapan Umum Dari Penjernihan Air Adalah

Pengusahaan minyak kelapa sawit telah dilakukan sekitar 5.000 periode yang lampau di pesisir barat Afrika. Petro kelapa sawit juga ditemukan puas akhir abad ke-19 oleh para arkeolog di sebuah kuburan di Abydos yang berpokok berpangkal 3000 SM.[6]
Diperkirakan perantau Arab membawa kelapa sawit ke Mesir.[7]

Elaeis guineensis
masa ini banyak dibudidayakan di negara-negara tropis di luar Afrika, khususnya Malaysia dan Indonesia yang serentak menghasilkan patra kelapa sawit dan menjadi pemasok besar dunia.

Nyiur sawit yang dibudidayakan terdiri berpokok dua tipe:
E. guineensis
dan
E. oleifera. Spesies pertama nan terluas dibudidayakan sosok. Dari kedua varietas kelapa sawit ini memiliki stempel masing-masing.
E. guineensis
memiliki produksi nan dahulu tinggi dan
E. oleifera
memiliki tinggi tanaman yang rendah. Banyak manusia sedang menyilangkan kedua varietas ini buat mendapatkan keberagaman yang strata produksi dan mudah dipanen.
E. oleifera
masa ini mulai dibudidayakan pula untuk menambah diversitas sumber muslihat genetik.

Penangkar camar kali meluluk variasi kerambil sawit berlandaskan ketebalan cangkang, nan terdiri dari

  • Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.

Dura merupakan sawit nan buahnya punya sampul tebal sehingga dianggap memperpendek arwah mesin pengolah namun biasanya, tandan buahnya berukuran raksasa dan kandungan minyak masing-masing tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki kemasan, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan anakan betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persimpangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan sendirisendiri induk dengan sifat cangkang buah tipis tetapi bunga betinanya tetap gemuk. Bilang tenera unggul n kepunyaan persentase daging per buahnya mencecah 90% dan kandungan minyak sendirisendiri tandannya bisa mencecah 28%.

Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Syarat nyawa

[sunting
|
sunting sumber]

Kelapa sawit biasa ditemukan di kewedanan semak belukar dengan bineka tipe diversifikasi tanah seperti mana podzolik, latosol, hidromorfik kelabu, alluvial atau regosol, tanah gambut saprik, lembang pesisir dan muara sungai. Varietas persil tersebut memengaruhi tingkat produksi kelapa sawit, di mana produktivitas kelapa sawit yang ditumbuhkan di persil podzolik lebih tinggi dibandingkan ditumbuhkan di lahan berpasir dan gambut. Kerambil sawit kurang optimal sekiranya ditumbuhkan di Pulau Jawa karena tipe tanahnya nan abnormal sesuai dengan varietas tanah yang mendukung pertumbuhan kerambil sawit. Temperatur optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah 24-28 °C dengan ketinggian 1-500 mdpl dan tingkat kelembapan 80-90%. Kecepatan angin yang optimal adalah 5–6 km/jam, di mana kecepatan angin akan kondusif proses pembuahan bunga kerambil sawit. Kelambir sawit membutuhkan curah hujan abu yang habis tingkatan yaitu sekitar 1500–4000 mm per tahun. Tingkat curah hujan abu memengaruhi jumlah pelepah nan dihasilkan oleh kelapa sawit. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi biji kemaluan sawit. Kebutuhan penyinaran kelapa sawit berada pada rentang konvensional yaitu 5-7 jam/masa, sehingga dalam perkebunan nyiur sawit jarak tanam dibuat dengan ukuran 9×9 meter kiranya setiap tumbuhan mendapatkan layak cahaya.[8]
[9]

Kontroversi

[sunting
|
sunting mata air]

Petro sawit lazimnya dianggap umpama minyak goreng yang paling kontroversial – cak bagi alasan kesegaran dan mileu.[10]
Perkebunan kelambir sawit mampu di bawah pengawasan ketat terhadap kerusakan sosial dan lingkungan, terutama karena hutan hujan dengan keanekaragaman hayati janjang dihancurkan, pengaruh gas rumah beling meningkat, dan pekerja buruh domestik telantar maka dari itu perusahaan minyak kelambir sawit yang lain benar dan mata pencaharian tradisional terkena dampak negatif. Khususnya di Indonesia, suka-suka juga tekanan yang makin ki akbar lakukan produsen minyak kelapa kerjakan membuktikan bahwa mereka tak membahayakan fauna langka dalam proses pembudidayaan.[11]

Lega waktu 2018, iklan TV Natal oleh jaringan supermarket Islandia, diproduksi oleh Greenpeace, dilarang oleh pengontrol iklan UK Clearcast.[12]
Islandia sudah lalu berkomitmen buat melarang minyak sawit dari produk mereknya koteng plong akhir 2018.[13]

Pintasan dalam produksi

[sunting
|
sunting sumur]

Biji kerambil sawit bukan berkecambah secara cepat karena adanya sifat dormansi. Mayat kerambil sawit n kepunyaan kecepatan merecup sekitar 35–75 cm per tahunnya. Bagi meningkatkan kecepatan produksi, maka dilakukan beberapa inovasi. Metode mula-mula yang dilakukan adalah pengecambahan skor kelapa sawit. Keadaan ini dilakukan kerjakan menyurutkan dormansi benih dan meningkatkan persentasi buku kecambah. Metode kedua merupakan pemupukan. Pupuk nan dapat ditambahkan dapat berupa kawul organik maupun anorganik. Baja organik dimanfaatkan dalam memperbaiki struktur petak dan memasrahkan pasokan zat hara buat tanaman. Serabut anorganik yang biasa ditambahkan adalah baja NPK. Efektivitas perabukan akan jenjang jika pupuk diberikan dalam dosis nan rendah secara kontinu.[9]
Metode ketiga merupakan pengendalian gulma. Pengendalian gulma bisa dilakukan secara manual, kimiawi, dan biologis. Secara manual bisa dilakukan melampaui penyiangan piringan kelambir sawit dengan memotong rerumputan. Pengendalian gulma secara kimiawi dilakukan dengan pemberian herbisida dengan memperhatikan sejumlah faktor yaitu mekanisme kerja herbisida, cara karunia dan adat gulma. Herbisida memiliki berbagai tipe mekanisme kerja seperti mempengaruhi respirasi dan asimilasi gulma, serta menyergap perkecambahan gulma, menghalangi sintesis asam amino dan metabolisme lipid
[14]
Metode keempat yaitu pengendalian hama. Hama yang publik mencerca kelapa sawit antara lain ulat api, ulat saku, tikus, rayap, kumbang sampai-sampai celeng. Pengendalian wereng dapat dilakukan dengan pemberian insektisida atau menggunakan pemakan alaminya.[9]

Baca :   Take Over Kpr Maybank 2022

Hama dan ki aib

[sunting
|
sunting sendang]

Faktor yang dapat menyebabkan penurunan hasil produksi plong tumbuhan kelapa sawit di antaranya hama dan penyakit. Serangan wereng utama bernga pemakan daun kelapa sawit, yakni ulat api (Lepidoptera: Limacodidae) dan ulat saku (Lepidoptera: Psychidae).
[15]
Potensi kekurangan hasil yang disebabkan kedua hama ini dapat sampai ke 35%.
[16]
Jenis larva api yang paling banyak ditemukan di lapangan yakni
Setothosea asigna,
Setora nitens,
Darna trima,
Darna diducta
dan
Darna bradleyi.
[17]
Selain hama, kebobrokan juga menimbulkan masalah pada pertanaman kerambil sawit. Masalah busuk dasar batang nan disebabkan oleh infeksi rabuk
Ganoderma boninense
merupakan penyakit penting yang mencela kebun-kebun kerambil sawit. Rabuk
G. boninense
merupakan patogen tular tanah yang adalah parasitik fakultatif dengan kisaran inang nan luas dan n kepunyaan kemampuan saprofitik yang janjang.
[18]
Gejala awal kebobrokan kemungkus bawah layon pada tumbuhan kelapa sawit belum menghasilkan (TBM) terlihat dari luar adanya daun yang masak lega satu sisi, atau adanya bintik-tutul kuning berasal daun muda, nan kemudian diikuti dengan nekrosis. Puas pohon menghasilkan (TM), gejala berupa beberapa daun ganjur tidak terbuka dan kanopi daun umumnya pucat (menguning). Daun yang terserang kemudian lengang dimana nekrosis dimulai puas daun yang minimal tua dan merambat meluas ke atas ke arah mahkota daun. Bertambah lama, maka pokok kayu kemudian tenang ditandai dengan patera gersang terkulai pada ujung tangkai daun plong batang atau kutung sumsum di beberapa titik sejauh anak daun, dan menggantung ke bawah.[19]

Pengembangan

[sunting
|
sunting sumber]

Kajian metabolomik dilakukan umpama strategi untuk meningkatkan kualitas mulai sejak produk patra kerambil sawit. Analisis metabolit nan terdapat dalam minyak kelapa sawit dapat dilakukan menggunakan Ulta-High-Pressure Liquid Chromatography Mass Spectrometry (UHPLC-MS). Dari spektrum yang dihasilkan bisa diketahui komponen-komponen yang terdapat kerumahtanggaan minyak. Dengan diuji berbagai macam keberagaman minyak dengan perlakuan nan berbeda sebagaimana proses pemanenan, pengolahan, dan penyimpanan minyak, maka dapat diketahui varian mana nan menghasilkan dagangan dengan kualitas tertinggi.[20]

Kajian metabolomik sekali lagi dilakukan dengan pamrih mengindentifikasi biomarker dengan melakukan screening sreg populasi kelapa sawit yang resisten terhadap
Ganoderma boninense. Salah suatu kebobrokan pda nyiur sawit adalah
Basal Stem Root
atau BSR yang disebabkan oleh
Ganoderma boninense. Penyakit BSR ialah masalah yang serius dan menimbulkan dampak destruktif pada kelapa sawit, umumnya di Asia Tenggara. BSR ini dapat menyebabkan kemalangan ekonomi nan besar karena tidak maksimalnya pertumbuhan dan biji zakar kelapa sawit yang dihasilkan. Akibat dampak yang ditumbulkan, maka diperlukan suatu kontrol pengukuran kerjakan menyelesaikan kebinasaan yang ditimbulkan oleh keburukan pada kelapa sawit yang terserang. Telah dilakukan dominasi pengukuran melampaui manajemen penanaman untuk meminimalkan penyebaran BSR seperti penggundukan tanah, penghilangan tanaman nan telah terserang, dan treatment menggunakan fungisida, dazomet, hexacomazole hingga pemanfaatan kawul GanoCareTM. Namun perlakuan ini hanya dapat mengontrol penyakit dan menurunkan laju kronologi penyakit. Kemudian, dilakukan pintasan dengan pendekatan metabolomik. Kelambir sawit dengan kerentanan yang berlainan terhadap
G. boninense
berdasarkan uji indukan nyiur sawit menggunakan teknik inokulasi akar untuk mengenali kelapa sawit nan
partially tolerant
dan rentan terhadap
G. boninense
dianalisis menggunakan pendekatan metabolomik dengan instrumen GCxGC-TOF-MS. Data yang diperoleh dianalisis dengan amatan multivariat PLS dan OPLS-DA sehingga didapatkan data
cross-validation
dan fungsi tes respon permutasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 7 tipe metabolit nan berkontribusi dalam perbedaan kerentanan nyiur sawit terhadap
G. boninense
yaitu
mannose, xylose, glucopyranose, myo-inositol,
dan
hexadecanoic acid
yang ditemukan dalam jumlah nan hierarki pada kelapa sawit
partially tolerant,
padahal
cadaverine
dan
turanose
ditemukan dalam jumlah tinggi pada kelapa sawit nan rentan. Pendekatan ini dapat meningkatkan kesadaran mengenai mekanisme pertahanan kerambil sawit terhadap
G. boninense. Metode ini boleh diaplikasikan dalam pemilihan bibit kelambir sawit yang ulung dan rentan terhadap penyakit BSR.[21]

Eskalasi kualitas dan keberlanjutan patra kelapa sawit dalam hal pengembangbiakan, genomik fungsional dan kulur jaringan dapat dilakukan dengan melakukan analisis memperalat pendekatan proteomik dan metabolomik atau yang disebut kembali PROMET. Analisis PROMET memungkinkan untuk dilakukannya identifikasi sifat ekonomi yang terdahulu dalam budidaya pokok kayu hasil panen seperti kandungan asam mak-nyus yang nilainya lebih tahapan dan rendemen kelapa sawit yang hierarki. Amatan ini bersifat kompleks dengan menggunakan sejumlah instrumentasi sebagai halnya
Matrix-assisted Laser Desorption Ionization Time of Flight
(MALDI-TOF),
Liquid Chromatography
(LC) dan
Gas Chromatography-quadruple-TOF
(GC-TOF) dimana MS atau
Mass Spectrometry
merupakan instrumenttasi yang paling penting. Salah satu kajian yang dilakukan adalah mengerjakan seleksi kelapa sawit yang toleran terhadap
Ganoderma boninense
dengan melakukan pengujian terhadap metabolit yang membantu internal mencerna mekanisme gen resisten dalam kelambir sawit dalam melawan penyakit. Penelitian ini dapat meningkatkan kesadaran akan halnya ki kesulitan dan kemungkinan diciptakannya barang yang bisa memonitor adanya penyakit. Dalam jangka panjang, penelitian ini akan meingkatkan daya produksi dan keberlanjutan dari minyak kelapa sawit.[22]

Baca :   Dari Data Tersebut Yang Termasuk Larutan Penyangga Adalah

Lihat juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Attalea maripa, kelapa penghasil minyak lainnya
  • Jurnal Penelitian Nyiur Sawit
  • Energi dan lingkungan
  • Daftar genera Arecaceae
  • Dampak sosial dan lingkungan dari minyak kelapa sawit
  • Sejarah kelapa sawit di Indonesia

Teks

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Gledhill, David (2008).
    The Name of Plants
    (edisi ke-4). Cambridge: University Press. hlm. 279.





  2. ^

    Collins Guide to Tropical Plants, ISBN 0-00-219112-1

  3. ^

    Sastrosayono, S., 2003.
    Budidaya Kelambir Sawit. Jakarta: Agromedia Teks

  4. ^


    Singh, R.; Ong-Abdullah, M.; Low, E.-Kaki langit.L.; Manaf, M.A.A.; Rosli, R.; Nookiah, R.; Ooi, L.C.-L.; Ooi, S.-E.; Chan, K.-L.; Halim, M.A.; Azizi, Lengkung langit.; Nagappan, J.; Bacher, B.; Lakey, N.; Smith, S.W.; He, D.; Hogan, M.; Budiman, M.A.; Lee, E.K.; DeSalle, R.; Kudrna, D.; Goicoechea, J.L.; Wing, R.A.; Wilson, R.K.; Fulton, R.S.; Ordway, J.M.; Martienssen, R.A.; Sambanthamurthi, R. (2013). “Oil palm genome sequence reveals divergence of interfertile species in Old and New worlds”.
    Nature.
    500: 335–339. doi:10.1038/nature12309. PMC3929164alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 23883927.





  5. ^


    De Marco, Elena; Savarese, Maria; Parisini, Cristina; Battimo, Ilaria; Falco, Salvatore; Sacchi, Raffaele (2007). “Frying performance of a sunflower/palm oil blend in comparison with pure palm oil”.
    European Journal of Lipid Science and Technology.
    109
    (3): 237–246. doi:10.1002/ejlt.200600192.





  6. ^


    Kiple, Kenneth F.; Conee Ornelas, Kriemhild, ed. (2000).
    The Cambridge World History of Food. Cambridge University Press. ISBN 0521402166. Diarsipkan berusul versi nirmala tanggal 20 October 2012. Diakses sungkap
    30 August
    2012
    .





  7. ^


    Obahiagbon, F.I. (2012). “A Review: Aspects of the African Oil Palm (Elaeis guineesis
    Jacq.)”
    (PDF).
    American Journal of Biochemistry and Molecular Biology: 1–14. doi:10.3923/ajbmb.2012. Diakses tanggal
    30 August
    2012
    .





  8. ^

    Kiswanto. 2008.
    Teknologi Budidaya Nyiur Sawit. Jakarta: Badan Pendalaman dan Pengembangan Pertanian.
  9. ^


    a




    b




    c



    Pahan, I., 2006.
    Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir.
    Jakarta.: Penebar Swadaya

  10. ^

    https://www.independent.co.uk/life-style/palm-oil-health-impact-environment-animals-deforestation-heart-a8505521.html

  11. ^


    “Palm Oil Plantations Are Blamed For Many Evils. But Change Is Coming”.
    NPR.org
    (dalam bahasa Inggris). Diakses sungkap
    2017-07-19
    .





  12. ^

    https://www.independent.co.uk/voices/iceland-christmas-advert-banned-tv-greenpeace-palm-oil-political-emma-thompson-a8626416.html

  13. ^

    https://www.bbc.co.uk/news/business-43696948

  14. ^

    Djojosumarto, P. 2008.
    Teknik Permintaan Pestisida Pertanian. Yogyakarta: Kanisius

  15. ^

    Pengamatan Kelimpahan Ulat Api (Limacodidae) dan Belatung Kantung (Psychidae) serta Pemangsa Pada Pertanaman Nyiur Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Cikidang Plantation Estate di Pangkal Naungan Kejai

  16. ^

    Ulat jago merah (Limacodidae) dan ulat mago pundi-pundi (Psychidae) serta lawan alami lega pertanian kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) PTPN VIII, Cimulang

  17. ^

    Kelimpahan Populasi Larva Api (Lepidoptera: Limacodidae) dan Ulat Kantung (Lepidoptera: Psychidae) serta Pemangsa pada Pertanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Cikidang Plantation Estate, Sukabumi

  18. ^

    Peluasan Teknik Inokulasi Bikinan Ganoderma boninense Pat. Pada Konsentrat Nyiur Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)

  19. ^


    “Ganoderma : “Antisipasi Terjangan Ganoderma Di Tanah Replanting Perkebunan Kelapa Sawit” (dalam bahasa Inggris). Diakses rontok
    2019-03-12
    .





    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



  20. ^


    Vargas, Luiz Henrique Galli; Neto, Jorge Candido Rodrigues; de Aquino Ribeiro, José Antônio; Ricci-Silva, Maria Esther; Souza, Manoel Teixeira; Rodrigues, Clenilson Martins; de Oliveira, Anselmo Elcana; Abdelnur, Patrícia Verardi (2016-09-15). “Metabolomics analysis of oil palm (Elaeis guineensis) leaf: evaluation of sample preparation steps using UHPLC–MS/MS”.
    Metabolomics.
    12
    (10). doi:10.1007/s11306-016-1100-z. ISSN 1573-3882.





  21. ^


    Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Baru Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Rozali, Nurul Liyana; Yarmo, Mohd Ambar; School of Chemical Sciences and Food Technology, Faculty of Science and Technology, Universiti Kebangsaan Malaysia, 43600 Bangi, Selangor, Malaysia; Idris, Tepung Seman; Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Baru Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Kushairi, Ahmad; Malaysian Palm Oil Board, No. 6, Persiaran Institusi, Bandar Plonco Bangi, 43000 Kajang, Selangor, Malaysia; Ramli, Umi Salamah (2017-02-20). “Metabolomics differentiation of oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) spear leaf with contrasting susceptibility to Ganoderma boninense”
    (PDF).
    Plant Omics.
    10
    (02): 45–52. doi:10.21475/poj.10.02.17.pne364.





  22. ^

    Ramli, U.S., Chung, B.L.Y., Ikhlas, Falak.I.M., Shahwan, S., Hassa, H., Zain, Lengkung langit., Rozali, Cakrawala.L., Dzulkafli, S.B., Ishak, N.M., Othman, A. 2016. Proteomics and Metabolomics: Spearheading Oil Palm Improvement and Sustainability.
    The Planter. 92(1087): 727-737



Mengatasi Bunga Jantan Pada Kelapa Sawit

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit

Check Also

Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual

Alumnice.co – Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual Besi beton telah menjadi bagian yang hampir …