Mengapa Ritel Tradisional Banyak Ditinggalkan Oleh Para Konsumen

Alumnice.co – Mengapa Ritel Tradisional Banyak Ditinggalkan Oleh Para Konsumen

JAKARTA
– Berapa kali biasanya dalam sehari Anda pergi ke pasar tradisional atau toko kelontong? Beberapa orang, mungkin menjawab tidak sama sekali. Bahkan, sebagian besar dari kita bahkan telah berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun tidak pernah lagi berkunjung ke pasar tradisional.

Sejak menjamurnya pasar modern dan toko-toko retail modern, masyarakat memang lebih memilih untuk meninggalkan pedagang tradisional. Hal ini membuat keberadaan pasar tradisional lambat laun terlupakan.

Menurut data Kementrian Perdagangan, pada 2011 saja jumlah pasar tradisional sebanyak 9.950. Jumlah ini menyusut lebih dari 25 persen jika dibandingkan dengan 2007, di mana Kementrian Perindustrian mencatat jumlah pasar masih berada pada angka 13.450.

Demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri di Sekretariat Indonesia for Global Justice (IGJ) Tebet, Selasa (4/1/2014).

“Pasar tradisional mengalami penurunan cukup drastis 2007 saat itu ada 13.450 pasar seluruh Indonesia, tapi 2011 melalui Kementerian Perdagangan tinggal 9.950 sekitar 3.000 lebih pasar tradisional,” katanya.

Hal ini sejalan dengan data yang dimiliki Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Dalam kurun waktu yang sama, Aprindo justru mencatat bahwa ada penambahan pasar modern sebanyak delapan ribu. Menurut Abdullah, pertambahan tersebut mengakibatkan tergerusnya pasar tradisional.

“Di waktu bersamaan Aprindo merilis retail modern yang pesat 2007-2011 mengalami kenaikan 8.000 pasar modern,” katanya.

Senada, Sekretaris Jenderal IKAPPI, Tino Rahardian, menyampaikan saat ini kondisi pasar tradisional semakin memprihatinkan. Berbagai masalah muncul, salah satunya seperti relokasi pasar yang jauh dari pemukiman penduduk. Belum lagi, kondisi pasar yang sulit untuk diakses karena minimnya sarana transportasi.

Inilah yang juga menjadi salah satu faktor yang berdampak pada surutnya minat masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional. Akibatnya, para pedagang di pasar tradisional banyak yang menutup usahanya.

“Sebagian besar yang kami tangani berdalih revitalisasi sengaja relokasi jauh dari konsumen, jauh dari trayek jauh dari pemukiman penduduk,” tutupnya.

()

Lihat Foto

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ketika diwawancarai awak media di Pasar Pingit, Jalan Kyai Mojo, Kelurahan Bumojo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Sabtu (30/12/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com
– Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkapkan tiga hal yang membuat pasar ritel tradisional kalah bersaing dengan pasar ritel modern.

Baca :   Media Tanam Bunga Krisan

Dia menjelaskan, hal pertama yakni, kondisi pasar ritel modern yang lebih bersih dibandingkan pasar tradisional. Sehingga, masyarakat lebih memilih pasar ritel modern, karena bisa berbelanja dengan nyaman.

“Dia (pasar ritel tradisional) sudah jelek, bau, dan kotor. Jadi dibanding pasar ritel modern yang ber-AC, bersih, dan terang,” kata Enggartiasto dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Kamis (4/1/2017).

Mantan Ketua Real Estate Indonesia (REI) ini melanjutkan, hal kedua adalah akses barang yang didapatkan oleh pedagang di pasar tradisional. Pasar ritel modern yang mendapatkan suplai barang dari pemilk pabrik langsung.

“Ketiga, modal, Kalau pedagang besar modalnya kuat, sedangkan pedagang kecil dia harus bayar tunai,” tutur dia.

Mendag melanjutkan program perbaikan atau revitalisasi pasar tradisional pada tahun ini.

Sebanyak 1.592 pasar tradisional akan direvitaliasi oleh Kemendag pada tahun ini.

Dalam revitalisasi tersebut pasar tradisional akan diubah menjadi seperti pasar ritel modern, seperti pemasangan pendingin ruangan.

“Selain itu kami panggil pasar ritel modern dan mereka (pasar ritel modern) harus supply atau bikin grosirnya dengan harga yang sama ke pedagan ritel tradisional,” tutur dia.

“Terkait modal kami kerja sama dengan perbankan yang mana pedagang pasar dikasih kredit modal kerja dengan sistem rekening koran. sehingga dia (pedagan pasar) punya uang, dia angsur,” pungkas dia.

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berikutnya

ritel tradisional (indonetwork.co.id)
Dalam empat tahun terakhir ini di Kebumen berdasarkan pengamatan, pertumbuhan ritel modern sangat fantastis. Beberapa supermarket hadir menawarkan sensasi belanja yang nyaman dan aman dibanding dengan ritel yang bersifat tradisional.  Perkembangan yang luar biasa khususnya adalah munculnya minimarket-minimarket yang menyebar hampir diseluruh wilayah setingkat kecamatan. Ini bukanlah suatu tren, tetapi saya lebih cocok menyebutnya dengan istilah ekspansi usaha dengan cara memanfaatkan peluang yang ada. Perkembangan ritel modern yang begitu pesat bukan tanpa suatu alasan yang mengada-ada. Mengapa ritel tradisional terpinggirkan ? Hal ini didasarkan pada kondisi ritel tradisional yang umumnya berupa kios-kios di dalam pasar,  dan  semua orang sangat memahami karakteristik pasar tradisional yang ada di sekitar kita masing-masing. Kesan kotor dan jorok umumnya melekat pada pasar tradisional, ditunjang dengan ketiadaan tempat-tempat sampah yang memadai. Kesan lain adalah munculnya bau yang sangat menyengat, karena produk-produk di pasar tradisional memang beraneka ragam dan tak ada penataan yang baik.  Belum lagi ditambah dengan saluran air yang tidak lancar, tambah semakin parah. Tak terbayangkan lagi jika hujan datang, wah lengkap sudah citra negatif pasar tradisional. Disamping itu kondisi pasar tradisional umumnya berhimpitan-himpitan, sesak dan kurang beraturan sehingga faktor kenyamanan sangat sulit didapatkan. Panas, sirkulasi udara sangat kurang. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor keamanan, siapapun yang tidak hati-hati dan waspada maka dapat menjadi sasaran empuk dari si tangan-tangan jahil. Tak lupa pula perlu mendapat perhatian bagi kita adalah tentang apakah produk-produk yang diperjualbelikan higienis atau tidak. Bandingkan dengan karakteristik ritel modern yang ada pada umumnya. Ritel modern menjanjikan berbagai layanan yang memanjakan calon pembelinya, tempat yang luas, produk sangat beraneka ragam, kenyamanan dalam berbelanja. Produk yang dipajang secara terbuka sangat membantu bagi calon pembeli untuk melihat, memilih dan sekaligus mencoba produk. Fixed price atau harga jual tetap dan  pelayanan mandiri atau swalayan menjadi ciri khas model ritel modern. Belum lagi ditambah dengan beberapa layanan lain seperti undian, discount, voucher dan lain-lainya. Keberadaan ritel modern jelas akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ritel tradisional. Jika kondisi ritel  tradisonal tidak segera berbenah diri atau dengan melakukan revitalisasi, maka saya berkeyakinan keberadaannya akan semakin terpinggirkan oleh hadirnya ritel-ritel modern yang secara manajemen lebih terkelola dengan baik.

Baca :   Cara Membedakan Kacamata Ion Nano Asli Dan Palsu

Jawaban:

karna perambatan ekonomi

Penjelasan:

Kemendag bakal mempermudah izin pendirian toko ritel modern.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejumlah perusahaan ritel modern mulai menyusun strategi bisnis baru demi bertahan di tengah bayang-bayang perlambatan konsumsi yang berdampak pada industri. Ketua Umum asosiasi pengusaha ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, salah satu strategi bisnis itu yakni merambah ke toko online.

“Beberapa anggota kami sudah mulai merestrukturisasi format ritelnya. Selain toko fisik, ada juga online,” tuturnya, akhir pekan lalu.

Selain merambah bisnis online, menurut Roy, sejumlah peritel juga akan memfokuskan bisnisnya pada model specific store, yakni gerai yang hanya menjual produk dari merek tertentu. Tidak lagi dalam format department store yang belakangan mulai banyak ditinggalkan konsumen.

Baca Juga: Infografis Musim Gugur Ritel

Menurut Roy, model bisnis ritel yang demikianlah yang diprediksi akan berkembang di masa depan seiring dengan berubahnya pola belanja masyarakat.

Dalam beberapa bulan terakhir, industri ritel memang tengah mengalami perlambatan pertumbuhan yang ditandai dengan tumbangnya sejumlah gerai ritel modern. Namun begitu, pemerintah berulang kali menyatakan tutupnya sejumlah gerai ritel tersebut bukan karena dipicu oleh daya beli yang menurun.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, saat ini tengah terjadi perubahan pola konsumsi di masyarakat. Banyak konsumen yang beralih ke platform niaga online. Jika belanja di toko offline, konsumen lebih memilih datang langsung ke toko khusus yang menjual satu merek tertentu, bukan lagi ke departement store.

“Debenhams tutup, Sogo tutup, tapi MAP penjualannya naik, labanya naik,” ujar Mendag, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi dan gaya belanja tersebut merupakan sesuatu yang alamiah karena pasar konsumsi saat ini didominasi oleh generasi muda. Oleh sebab itu, ia meyakini tutupnya sejumlah gerai ritel tidak berkaitan dengan pelemahan daya beli.

Baca :   Apa Hubungan Antara Gerak Dan Waktu Jelaskan

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) baru-baru ini mengungkap ada penurunan konsumsi masyarakat yang telah terjadi sejak triwulan ketiga tahun 2016. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi masyarakat melambat dari 4,95 persen pada triwulan kedua 2017 menjadi 4,93 persen pada triwulan ketiga di tahun yang sama.

Peneliti Indef, Eisha Maghfiruha Rachbini, mengatakan, menurunnya konsumsi masyarakat pada triwulan ketiga 2017 banyak dipengaruhi oleh kelompok masyarakat berpenghasilan Rp 1 Juta hingga Rp 2 Juta. Pelemahan ini diindikasikan dengan turunnya Indeks Keyakinan Konsumen pada Juli hingga September.

Survei terbaru yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen pada Oktober 2017 sebesar 120,7, lebih rendah dibanding September 2017, yaitu 123,8.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Mengapa Ritel Tradisional Banyak Ditinggalkan Oleh Para Konsumen

Sumber: https://apamaksud.com/mengapa-ritel-tradisional-banyak-ditinggalkan-oleh-para-konsumen

Check Also

Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual

Alumnice.co – Cara Membuat Alat Pembengkok Besi Manual Besi beton telah menjadi bagian yang hampir …