Jelaskan Proses Pendinginan Yang Terjadi Pada Sistem Pendinginan Air

Alumnice.co – Jelaskan Proses Pendinginan Yang Terjadi Pada Sistem Pendinginan Air

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR HORISONTAL 2,4 LITER

Kebutuhan akan sistem
pendingin
di negara-negara berkembang seperti Indonesia, khususnya di daerah pedesaan atau di daerah terpencil dirasakan semakin meningkat. Sistem
pendingin
biasanya digunakan untuk pengawetan/penyimpanan bahan makanan, hasil panen, hasil perikanan atau vaksin imunisasi masal untuk mengontrol wabah penyakit dan keperluan lainnya. Namun kebanyakan sistem pendinginan yang tersedia saat ini bekerja dengan sistem kompresi uap yang membutuhkan energi listrik dan
menggunakan
refrijeran sintetik seperti : R-11, R-12, R-22, R-134a, dan R-502. Masalah yang menghambat penggunaan sistem
pendingin
kompresi uap adalah pemasangan jaringan listrik yang belum merata hingga mencakup daerah-daerah terpencil, sehingga diperlukan sistem
pendingin
sederhana yang dapat bekerja tanpa adanya jaringan listrik sebagai alternatif pemecahan masalah. Selain itu refrijeran sintetik bersifat tidak ramah lingkungan karena dapat merusak lapisan ozon dan mennyebabkan pemanasan global.

Baca lebih lanjut


79 Baca lebih lajut

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 2,4 LITER

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 2,4 LITER

Pada penelitian ini variasi yang lain adalah variasi jumlah
karbon
aktif
yang digunakan sebagai adsorber dalam sistem alat
pendingin
adsorbsi. Variasi yang dilakukan adalah menvariasikan jumlah
karbon
aktif
sebanyak 1 kg dan
4
kg. Dan hasil penelitian dari dua variasi ini adalah jumlah
karbon
aktif
berpengaruh sekali terhadap temperatur terendah pendinginan oleh
evaporator. Hal ini dapat dicermati pada Gambar 4.10. Semakin banyak
karbon
aktif
(adsorber) yang ada di alat
pendingin
adsorbsi
maka semakin tinggi debit uap
metanol
(refrijeran) yang terserap. Semakin tinggi debit uap
metanol
yang terserap
karbon
aktif
maka semakin banyak kalor dari sekitar
evaporator
yang terserap. Semakin banyak kalor yang terserap maka menyebabkan temperatur
evaporator
semakin rendah. Hal ini dibuktikan dengan temperatur
evaporator
mencapai temperatur 9°C.

Baca lebih lanjut


87 Baca lebih lajut

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 0,6 LITER

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 0,6 LITER

Hasil penelitian ini adalah
proses
adsorbsi
tahap pertama berlangsung dengan baik, artinya
proses
adsorbsi
dapat terjadi.
Proses
adsorbsi
tahap pertama dilakukan sebanyak tiga kali hingga
proses
pendinginan tidak terjadi lagi. Pada data yang termasuk
proses
adsorbsi
tahap pertama adalah
proses
adsorbsi
pertama, kedua dan ketiga.
Proses
desorbsi juga berlangsung dengan baik, artinya tekanan sistem melebihi tekanan sistem pertama kali saat
proses
adsorbsi
terjadi.
Proses
desorbsi yang dilakukan cukup hanya sekali saja karena telah memenuhi syarat.
Proses
adsorbsi
tahap kedua berlangsung dengan baik, artinya
proses
adsorbsi
dapat terjadi namun hasilnya lebih buruk jika dibandingkan dengan
proses
adsorbsi
tahap pertama. Hal ini dapat diamati pada Gambar 4.12. Pada data yang termasuk
proses
adsorbsi
tahap dua adalah
proses
adsorbsi
keempat. Karena buruknya hasil perbandingan maka dapat disimpulkan bahwa
proses
pendinginan intermitten tidak dapat terjadi.

Baca lebih lanjut


72 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK KARBON AKTIF SEBAGAI ADSORBER PADA PENDINGIN ADSORPSI MENGGUNAKAN GENERATOR HORISONTAL

KARAKTERISTIK KARBON AKTIF SEBAGAI ADSORBER PADA PENDINGIN ADSORPSI MENGGUNAKAN GENERATOR HORISONTAL

Selain kedua variasi diatas, peneliti juga memvariasikan jumlah massa
karbon
aktif
850 gr dan jumlah massa amonia 15,90 gr. Pada variasi tekanan 3,5 bar dengan massa
karbon
aktif
850 gr dan jumlah massa amonia 15,90 gr membutuhkan waktu untuk melakukan desorpsi selama
2
jam 50 menit.
Proses
desorpsi berlangsung lama dikarenakan awal
proses
desorpsi dimulai dari tekanan vakum. Berbeda dengan variasi sebelumnya yang dimulai dari tekanan 0 bar. Pada saat
proses
adsorpsi tidak terjadi pendinginan pada
evaporator. Sama halnya pada saat variasi tekanan 3,5 bar dengan massa
karbon
aktif
425 gr dan massa amonia 12,88 gr tidak terjadi pendinginan disebabkan jumlah amonia murni pada
evaporator
terlalu sedikit. Sehingga kalor yang berada di
evaporator
didapat diserap seluruhnya oleh uap amonia.

Baca :   Buatlah Tabel Perbedaan Dna Dan Rna

Baca lebih lanjut


73 Baca lebih lajut

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

Matahari merupakan salah satu sumber penghasil energi terbesar di permukaan bumi. Letak negara Indonesia yang secara geografis berada pada bidang equator menjadikan negara Indonesia memiliki energi surya yang melimpah. Menurut data buku putih energi Indonesia, rata – rata intensitas radiasi matahari yang jatuh ke permukaan wilayah Indonesia sekitar 4,8 kWh/m²/hari. Energi surya tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi utama pada mesin
pendingin
siklus adsorpsi untuk menghasilkan efek pendinginan. Pada penelitian ini, komponen utama mesin terdiri dari kolektor/absorber, kondensor, dan
evaporator. Luas permukaan kolektor/absorber 0.25 m² dan diatur pada kemiringan 30°. Kolektor diisi dengan 7 kg
karbon
aktif
sedangkan
evaporator
diisi dengan 3
liter
metanol. Media yang didinginkan adalah air sebanyak 3
liter. Pengujian dibagi dalam dua periode yaitu
proses
desorpsi (pukul 07.00 WIB – 17.00 WIB) dan
proses
adsorpsi (pukul 17.00 WIB – 07.00 WIB). Hasil pengujian menunjukkan dimana temperatur pendinginan air minimum diperoleh 10.1°C. COP siklus aktual (COPuc) sebesar 0,1115 – 0,1033 dengan COP sistem keseluruhan (COPuo) sebesar 0,1297 – 0,1187.

Baca lebih lanjut


23 Baca lebih lajut

Uji Performansi Mesin Pendingin Siklus Adsorpsi Bertenaga Surya dengan Luas Kolektor 1 m2 Kemiringan 30o Menggunakan Karbon Aktif -Metanol Sebagai Pasangan Adsorben-Adsorbat

Uji Performansi Mesin Pendingin Siklus Adsorpsi Bertenaga Surya dengan Luas Kolektor 1 m2 Kemiringan 30o Menggunakan Karbon Aktif -Metanol Sebagai Pasangan Adsorben-Adsorbat

Indonesia is blessed with abundant solar energy in whole year. According to white book energy of Indonesia, the average irradiance which incidents in Indonesia about 4.8 kWh/m
2
/day. That solar energy using as a main energy source at adsorption cycle refrigeration machine to produce cooling effect. In this research, the main components of machine consists of collector/absorber, condenser and
evaporator. The collector/absorber has a surface area of 1 m
2
and set-up with an inclination of 30 o . Collector is loaded with 25 kg of activated carbon while
evaporator
is filled with 5 liters of methanol. Medium to be cooled is
4
liters water. Testing lasted for three days which divided into two periods, desorption process (07.00 am – 17.00 pm) and adsorption process (17.00 pm – 07.00 am). The test results showed process cou ldn’t take place perfectly. The adsorption process lasted only at first day where the minimum cooling temperatur of water obtained 9.9 o C. The volume adsorb of methanol as much as 0.8095
liter
(16.2 %). The actual or useful cycle COP (COP uc ) 0.1753 with the actual or

Baca :   Pasangan Larutan Berikut Yang Membentuk Penyangga Adalah

Baca lebih lanjut


2 Baca lebih lajut

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 5,3 LITER

PROSES ADSORBSI PADA PENDINGIN METANOL-KARBON AKTIF MENGGUNAKAN EVAPORATOR VERTIKAL 5,3 LITER

Variasi lain yang dilakukan dalam penelitian ini adalah variasi kondisi awal kran penghubung generator dan
evaporator. Kondisi awal kran penghubung yang divariasikan adalah dibuka dan ditutup. Seperti yang tampak pada Gambar 4.8, temperatur terendah
evaporator
mencapai 12°C didapatkan dengan
menggunakan
variasi kondisi awal kran penghubung dalam kedaan tertutup. Sedangkan saat
menggunakan
variasi kran penghubung langsung terbuka, temperatur terendahnya hanya mencapai 19 o C. Temperatur dengan
menggunakan
variasi langsung dibuka lebih tinggi, karena, ketika
metanol
memasuki sistem yang vakum,
metanol
akan langsung berubah fase menjadi uap dan memenuhi ruangan, dan langsung diserap oleh
karbon
aktif, sehingga pendinginannya tidak hanya terjadi di tabung
evaporator, tapi juga

Baca lebih lanjut


72 Baca lebih lajut

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

Matahari merupakan salah satu sumber penghasil energi terbesar di permukaan bumi. Letak negara Indonesia yang secara geografis berada pada bidang equator menjadikan negara Indonesia memiliki energi surya yang melimpah. Menurut data buku putih energi Indonesia, rata – rata intensitas radiasi matahari yang jatuh ke permukaan wilayah Indonesia sekitar 4,8 kWh/m²/hari. Energi surya tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi utama pada mesin
pendingin
siklus adsorpsi untuk menghasilkan efek pendinginan. Pada penelitian ini, komponen utama mesin terdiri dari kolektor/absorber, kondensor, dan
evaporator. Luas permukaan kolektor/absorber 0.25 m² dan diatur pada kemiringan 30°. Kolektor diisi dengan 7 kg
karbon
aktif
sedangkan
evaporator
diisi dengan 3
liter
metanol. Media yang didinginkan adalah air sebanyak 3
liter. Pengujian dibagi dalam dua periode yaitu
proses
desorpsi (pukul 07.00 WIB – 17.00 WIB) dan
proses
adsorpsi (pukul 17.00 WIB – 07.00 WIB). Hasil pengujian menunjukkan dimana temperatur pendinginan air minimum diperoleh 10.1°C. COP siklus aktual (COPuc) sebesar 0,1115 – 0,1033 dengan COP sistem keseluruhan (COPuo) sebesar 0,1297 – 0,1187.

Baca lebih lanjut


2 Baca lebih lajut

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

One of the utilization of solar energy is the adsorption refrigeration cycle where performance is affected by temperature and solar radiation intensity. L ocation of the Indonesian state that is geographically located on the equatorial plane making Indonesia the country has abundant solar energy. The m ain com ponent of this research consisted collector / adsorber, condensor, and
evaporator. All of these com ponents are m ade of stainless steel, due to the good thermal conductivity for the test. T his test uses activated carbon adsorbent of 7 kilogram and 3 litres of methanol as the refrigerant. T he best efficiency result of the collector, condensor, and
evaporator
is 24%, 28%, dan 13.5%.

Baca :   Berikut Ini Yang Merupakan Pasangan Besaran Skalar Vektor Adalah

Baca lebih lanjut


2 Baca lebih lajut

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Pada umumnya kondensor seperti ini berbentuk tabung yang di dalamnya berisi pipa ( tubes) tempat mengalirnya air
pendingin. Uap refrigeran berada di luar pipa tetapi di dalam tabung ( shell). K ondensor seperti ini disebut shell and tube water cooled condenser. A ir yang menjadi panas, akibat kalor yang dilepas oleh refrigeran yang mengembun, kemudian air yang telah menjadi panas ini didinginkan di dalam alat yang disebut menara
pendingin
( cooling tower). Setelah keluar dari cooling tower, air menjadi dingin kembali dan disalurkan dengan pompa kembali ke kondensor. Dengan cara inilah
pendingin
disirkulasikan. K ondensor jenis ini biasanya digunakan pada sistem berkapasitas besar. Water cooled condenser dapat dilihat pada gambar 2.8.

Baca lebih lanjut


32 Baca lebih lajut

PENURUNAN LIMBAH PHENOL DENGAN MENGGUNAKAN ARANG AKTIF BAGASSE DAN TEMPURUNG KELAPA.

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta

Bahan penyusun lapisan berturutan dari bawah ke atas adalah (1)resin penukar anion (2) resin penukar kation, (3) Zeolit sebagai adsorben dan (4) kerikil. Diantara kedua lapisan diberi penyekat digunakan dacron dengan ketebalan 0,75 cm. Di dasar tabung diberi kran. Dacron berfungsi untuk menahan massa padat yang ada di atasnya sehingga tidak keluar melalui kran. Zeolit berfungsi menyerap zat warna, anion, kation, dan zat organik yang tidak diikat oleh resin penukar anion maupun kation. Resin penukar anion berfungsi untuk mengikat anion sedang resin penukar kation berfungsi untuk mengikat kation.

Baca lebih lanjut


0 Baca lebih lajut

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

Rancang Bangun Mesin Pendingin Adsorpsi Tenaga Surya Dengan Adsorben Karbon Aktif Granular Dan Adsorbat Metanol

berdekatan dengan media pendinginnya yang berupa udara tekan dan air yang disemprotkan melalui suatu lubang nozzle. Kondensor jenis ini disebut juga evaporative condenser. Kondensornya sendiri berbentuk seperti kondensor dengan
pendingin
air, namun diletakkan di dalam menara
pendingin. Percikan air dari atas menara akan membasahi muka kondensor jadi kalor dari refrigeran yang mengembun diterima oleh air dan kemudian diberi pada aliran udara yang mengalir dari bagian bawah ke bagian atas menara. Sebagai akibatnya air yang telah menjadi panas tersebut diatas, didinginkan oleh aliran udara, sehingga pada saat air mencapai bagian bawah menara, air ini sudah menjadi dingin kembali. Selanjutnya air dingin ini dipompakan ke bagian atas menara demikian seterusnya. Dalam negara yang bermusim empat, pada musim dingin sering kali tidak dibutuhkan percikan air dari atas menara, karena udara sudah cukup dingin dan mampu secara langsung menerima beban kondensor. Dalam keadaan seperti ini, dikatakan bahwa evaporative condenser dioperasikan secara kering. Maka evaporative condenser ini akan berfungsi seperti kondensor berpendingin udara. Gambar evaporative condenser dapat dilihat pada gambar 2.9.

Baca lebih lanjut


117 Baca lebih lajut

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

Analisa Kinerja Mesin Pendingin Tenaga Surya Dengan Luas Kolektor 0.25 M2 Kemiringan 30° Menggunakan Karbon Aktif – Metanol Sebagai Pasangan Adsorpsi

DISINFEKSI BAKTERI ESCHERICHIA COLI MENGGUNAKAN PROSES KAVITASI HIDRODINAMIKA WATER-JET DENGAN KOMBINASI KARBON AKTIF DAN ZEOLIT Dina Isholawati , Eva Fathul Karamah, Zaenal Abidin Zufri, Alif Nuzulul Hidayat

Jelaskan Proses Pendinginan Yang Terjadi Pada Sistem Pendinginan Air

Sumber: https://id.123dok.com/title/proses-adsorbsi-pendingin-metanol-karbon-menggunakan-evaporator-horisontal

Check Also

Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert

Alumnice.co – Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert Dalam bidang pelayaran, ada banyak jenis kapal …