Faktor Yang Menyebabkan Keragaman Suku Budaya Kecuali

Alumnice.co – Faktor Yang Menyebabkan Keragaman Suku Budaya Kecuali

Empat Faktor Penyebab Keanekaragaman Suku Bangsa dan Budaya di Indonesia

Koropak.co.id, 07 December 2021 18:57:51

Penulis : Eris Kuswara

Koropak.co.id
– Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk. Keberagaman suku bangsa dan budayanya menjadi ciri khas negara kepulauan ini. Beragam bahasa, kepercayaan, agama, ras, kebudayaan dan adat istiadat menjadi ciri khasanah kekayaan bangsa yang unik dan beragam.

Kemajemukan Indonesia terjalin dalam ikatan bangsa Indonesia yang satu dan berdaulat. Inilah yang dimaksud Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman suku di Indonesia tersebut terbukti mampu bertahan di tengah perkembangan zaman yang terus menerus terjadi hingga saat ini.

Namun, sebenarnya apa sih yang menjadi faktor penyebab dari keberagaman suku bangsa dan budaya di masyarakat Indonesia?

Dilansir dari berbagai sumber, Koropak menyimpulkan ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya keberagaman suku di Indonesia. Berikut keempat faktor penyebab terjadinya keberagaman suku di Indonesia.

1. Letak Wilayah Indonesia

Indonesia sendiri terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dan juga diantara benua Asia dan Australia. Letaknya yang strategis inilah yang membuat Indonesia menjadi jalur perdagangan internasional yang sangat sesuai.

Kemudian dari lintas perdagangan inilah juga yang pada akhirnya bukan hanya membawa komoditas dagang, melainkan juga turut mendatangkan pengaruh terhadap kebudayaan suku di Indonesia. Bahkan kedatangan bangsa asing yang berbeda ras dan menetap di Indonesia juga turut menimbulkan keragaman ras, agama dan kepercayaan.

2. Kondisi Negara Kepulauan

NKRI yang memiliki wilayah sangat luas dan terdiri atas ribuan pulau terpisah inilah, secara otomatis dapat menghambat hubungan antar masyarakat dari pulau yang berbeda-beda. Di satu sisi, masyarakat di setiap pulau juga jadi mengembangkan budaya masing-masing sesuai dengan tingkat kemajuan dan lingkungannya.

Imbasnya, kondisi inilah yang kemudian menimbulkan keragaman suku bangsa, bahasa, budaya, peran laki-laki dan perempuan, kepercayaan dan agama di Indonesia.

3. Perbedaan Iklim dan Kondisi Alam

Kondisi alam yang berbeda-beda, seperti di daerah pantai, pegunungan, daerah subur, padang rumput, pegunungan, dataran rendah, rawa, hingga laut itu juga pada akhirnya mengakibatkan perbedaan pada masyakarakat.

Contohnya seperti masyarakat pantai yang mempunyai bentuk rumah, mata pencaharian, makanan pokok, pakaian, kesenian, hingga kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat pegunungan.

4. Penerimaan dan Kemampuan Adaptasi Masyarakat atas Perubahan

Sikap dan cara masyakarat dalam menanggapi hal-hal baru, termasuk juga dengan budaya baru dari luar ini juga ternyata bisa memengaruhi keberagaman suku pada masyakarakat Indonesia.

Contohnya saja ada sebagian masyarakat yang mudah menerima orang atau budaya asing, seperti masyarakat perkotaan. Di sisi lain, ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan dengan budayanya sendiri.*

Bukan dari Maluku, Bika Ambon Ternyata dari Medan

Koropak.co.id, 13 September 2022 15:16:57

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sumatra Utara
– Saat mendengar nama Bika Ambon, mungkin sebagian besar masyarakat akan mengira jika kue legendaris itu berasal dari Maluku. Anggapan itu keliru, karena ternyata makanan tersebut berasal dari Medan, Sumatra Utara.

Paramita R. Abdurachman dalam buku “Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-jejak Kebudayaan Portugis di Nusantara” menulis, istilah bika dan bibingka diperkenalkan oleh bangsa Portugis. Pada awalnya, istilah tersebut berarti  kue yang terbuat dari tepung beras.

Terkait nama Ambon sendiri ada beberapa versi. Salah satunya adalalah lantaran tempat yang pertama kali yang menjual kue tersebut berada di simpang Jalan Ambon Sei Kera Medan. Versi lainnya, pada zaman dahulu, ada sebuah daerah bernama Amplas yang terbagi menjadi dua wilayah, yaitu barat dan timur sungai.

Di sebelah barat sungai, terdapat pabrik pengolahan latex, sedangkan di sebelah timur sungai terdapat perumahan buruh dan kebun tembakau serta kakao. Kala itu juga, ada seorang buruh transmigrant dari Jawa yang membuat kue bika Ambon dan memasarkannya di Medan.

Ternyata, kue yang dijajakannya itu sangat disukai oleh orang Belanda. Peluang itu kemudian dimanfaatkan oleh pedagang Tionghoa untuk memasarkan kue tersebut. Hingga pada akhirnya, bisnis kue itu pun menjadi berkembang, sampai kemudian diberi nama bika Ambon, yang berasal dari nama Bika “Amplas-Kebon”.

Baca:
Kue Talam, Jajanan Khas Betawi dari 500 Tahun Lalu

Adapun nama bika Ambon diambil dari kata bika, sejenis kue khas Melayu yang biasa disebut bingka. Kue bika Ambon merupakan hasil modifikasi dari bika khas Melayu, yang ditambahkan nira atau tuak enau sebagai pengembangnya.

Bika Ambon yang masuk dalam kategori kue basah itu memiliki ciri khas dengan warnanya yang kuning dan bagian dalamnya berongga. Kue tradisional dengan citarasanya yang lezat itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

Biasanya, bika Ambon terbuat dari tepung tapioka, telur, gula, dan santan. Namun seiring perkembangannya, tak hanya rasa aslinya, kini bika Ambon juga hadir dalam berbagai varian rasa, mulai dari pandan, durian, keju, dan cokelat. Proses pembuatannya dimasak selama 12 jam.

Kini, bika Ambon menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Medan. Bahkan di Jalan Mojopahit, daerah Medan Petisah, sedikitnya ada 30 toko yang menjual kue tersebut.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tragedi Tanjung Priok, Sejarah Kelam Pelanggaran HAM

Koropak.co.id, 12 September 2022 15:19:37

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Bagi umat Islam di Indonesia, Rezim Orde Baru meninggalkan bekas luka yang mendalam. Salah satunya lantaran peristiwa Tanjung Priok. Tragedi pada 12 September 1984 itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia tingkat berat yang pernah terjadi di Indonesia.

Peristiwa Tanjung Priok juga menjadi salah satu kerusuhan besar yang terjadi pada masa Orba akibat aparat keamanan yang bertindak secara berlebihan dalam menghadapi aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat di kala itu.

Aksi penembakan yang dilakukan aparat menyebabkan 24 orang tewas dan 55 orang lainnya luka-luka. Ada juga sembilan orang lainnya yang tewas terbakar. Meskipun begitu, hingga saat ini jumlah korban secara pastinya tidak dapat diketahui.

Kerusuhan Tanjung Priok itu berawal dari cekcok antara Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan warga. Saat itu, Babinsa meminta warga untuk mencopot spanduk dan brosur yang tidak bernapaskan Pancasila. Kala itu, Pemerintah Orba melarang paham-paham antiPancasila.

Berselang dua hari, warga tidak juga mencopot spanduk. Petugas Babinsa kala itu, Sersan Satu Hermanu, lantas mencopot sendiri spanduk tersebut. Namun, pada saat melakukan pencopotan, ia tidak melepas alas kaki saat masuk ke dalam Masjid Baitul Makmur.

Tindakan tidak sopan itu membuat berang sejumlah warga. Beberapa di antara warga membakar sepeda motor petugas Babinsa, sehingga mereka ditangkap aparat. Namun, aksi-aksi provokatif yang dilakukan Hermanu tidak ditindaklanjuti oleh aparat.

Pada 11 September 1984, warga meminta bantuan tokoh masyarakat setempat, Amir Biki untuk menyelesaikan permasalahan. Di hari itu, Amir Biki beserta sejumlah warga mendatangi Kodim Jakarta Utara untuk meminta agar jemaah dan pengurus masjid dilepaskan. Permintaan tersebut sama sekali tak ditanggapi.

Baca:
23 Mei 1997, Mengenang Tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin

Amir Biki lantas mengadakan pertemuan dengan para tokoh muslim se-Jakarta untuk membahas permasalahan itu. Dalam ceramahnya, Amir memberi ultimatum kepada aparat untuk melepaskan keempat jamaah yang ditahan, kemudian segera diantar ke mimbar sebelum pukul 23.00 WIB.

Jika tak dituruti, Amir mengancam akan membawa massa untuk mendatangi Kodim. Lagi-lagi, tuntutannya tak juga dipenuhi. Akhirnya pada 12 September 1984, Amir membagi massa menjadi dua kelompok untuk bergerak menuju Kodim dan Polsek. Kedatangan massa kala itu malah mendapat adangan aparat militer bersenjata lengkap.

Seolah tak gentar, massa pun langsung menuntut pembebasan. Akan tetapi situasi semakin memanas dan aparat keamanan melancarkan sejumlah tembakan hingga membuat korban jiwa berjatuhan. Sejumlah warga sampai disekap dan siksa oleh aparat.

Amir Biki juga tumbang akibat peristiwa tersebut. Mayat-mayat bergelimpangan di antara orang-orang yang terkapar dan terluka, di jalan dan di selokan. Ironisnya, aparat terus memburu massa dalam kegelapan akibat lampu dimatikan secara serentak dari pusat oleh PLN.

Aparat memburu siapa saja, mulai dari orang yang lari ditembak hingga rubuh, orang tiarap dilindas truk aparat tentara yang terus berdatangan. Setelah 10 hingga 15 menit, tembakan-tembakan berhenti. Lokasi penembakan langsung dibersihkan, sehingga tak terdapat tanda-tanda kerusuhan. Kasus berlanjut kepada sidang subversi. Sejumlah orang didakwa atas tuduhan melawan pemerintahan yang sah.

Baca :   Ukuran Sudut Yang Tersedia Pada Penggaris Segitiga Adalah

Tragedi berdarah di Tanjung Priok itu menjadi sebuah perhatian serius. Lalu dibentuk Komisi Penyelidik Pemeriksa dan Pelanggaran HAM Tanjung Priok (KP3T). Sejumlah nama disebut terlibat dalam aksi pelanggaran HAM tersebut, mulai Babinsa, polisi, hingga beberapa perwira tinggi. Kasus tersebut akhirnya dianggap selesai melalui proses mediasi dan islah yang panjang.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Cotton Bud, Bermula dari Amati Istri Pakai Tusuk Gigi

Koropak.co.id, 11 September 2022 15:23:45

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id
– Cotton bud merupakan salah satu alat pembersih telinga yang sudah tak lagi direkomendasikan oleh dokter spesialis THT. Namun, eksistensinya tidak pernah berakhir hingga kini. Awal mula kemunculannya sekitar tahun 1920-an. Adalah Leo Gerstenzang, pria Amerika kelahiran Polandia yang diketahui sebagai pembuat benda tersebut.

Semua bermula saat Leo mengamati istrinya kerap menggunakan tusuk gigi yang ditancapkan pada kapas untuk membersihkan telinga bayi mereka ketika mandi. Menurut laman Encyclopedia, Leo menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merancang cottod bud sehingga aman digunakan, termasuk mengubah tusuk gigi menjadi spindel kertas dan memperkirakan jumlah serta besaran kapas pada masing-masing ujungnya.

Tak hanya merancang cotton bud, dia pun menciptakan kemasan cotton bud yang praktis dan bisa dibuka menggunakan satu tangan. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan orang tua dalam membukanya walaupun sedang menggendong bayi.

Baca:
Istana Negara, Awalnya Tempat Tinggal Orang Belanda

Leo lantas mendirikan perusahaan khusus produk bayi yang dia beri nama Leo Gerstenzang Infan Novelty Company yang ditujukan untuk memasarkan segala macam produk bayi lainnya. Lalu, ketika produk cotton bud telah siap dipasarkan, Leo mencari nama agar punya nilai dari sisi komersial. Karena produknya dibuat untuk membuat bayi senang, maka diberi nama Baby Gays.

Di tahun 1926, produk ini berubah nama menjadi Q-Tips yang sampai saat ini menjadi sebuah merek dagang yang terdaftar dari perusahaan Chesebrough-Ponds, Inc.

Cotton bud menjadi penemuan besar pada tahun 1920-an, hingga akhirnya penemuan plastik yang cukup marak digunakan mengubah spindel kertas menjadi poros plastik. Bentuk inilah yang kemudian dikenal oleh khalayak saat ini.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Ada Perpaduan Budaya yang Tersaji dalam Semangkuk Mi Aceh

Koropak.co.id, 11 September 2022 07:12:16

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Aceh
– Mi Aceh. Dari namanya saja kita bisa langsung ngeh dari mana makanan itu berasal. Namun, tahukah Anda bahwa di dalam satu mangkuk mi Aceh ada perpaduan budaya yang berasal dari berbagai daerah?

Mi berwarna kuning cerah dengan rasa pedas itu terasa nikmat disantap. Di dalamnya ada irisan daging sapi atau daging kambing dan makanan laut, seperti udang dan cumi. Biasanya juga ditaburi bawang goreng dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun, dan jeruk nipis.

Kuliner khas Serambi Mekah itu tak lepas dari pengaruh berbagai budaya dari dalam dan luar Aceh. Dulu, Aceh merupakan daerah pintu masuk dan keluar serta pelabuhan utama di wilayah Sumatra dan sekitarnya. Hal itu berpengaruh terhadap olahan makanan, termasuk mi Aceh.

Baca:
Mi Glosor, dari Sukabumi Populer di Bogor

Kombinasi kuah kari kental serta rempah yang kuat pada mi Aceh dipengaruhi oleh masakan India. Sedangkan mi-nya merupakan kuliner Tionghoa. Adapaun daging kambing atau sapi pada kuliner tersebut merupakan pengaruh nilai dan budaya setempat yang mayoritas beragama Islam.

Sedangkan cumi dan udang merupakan penambah makanan, dikarenakan secara geografis juga Aceh dikelilingi oleh lautan seperti Selat Malaka. Perpaduan berbagai budaya itulah yang pada akhirnya melahirkan mi Aceh sebagai kuliner khas ibu kota Banda Aceh.

Mi Aceh semakin dikenal luas seiring dengan perkembangan jalur perdagangan dunia saat itu. Kala itu, para pedagang membawa mi Aceh ke tanah Jawa bahkan sampai ke semenanjung Malaysia. Tak heran, saat ini mi Aceh dapat ditemukan di sebagian besar kota-kota di Indonesia, termasuk di negara tetangga, seperti Malaysia dan Australia.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tutup Usia, Ratu Elizabeth II Pernah Berkunjung ke Indonesia

Koropak.co.id, 10 September 2022 12:08:23

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Ratu Elizabeth Alexandra Mary atau yang lebih dikenal dengan nama Ratu Elizabeth II meninggal dunia pada Kamis, 8 September 2022. Ia tutup usia di Kastil Balmoral, Skotlandia, pada usia 96 tahun.

Sebagai pemegang kekuasaan terlama yang memerintah Kerajaan Inggris, yakni selama 70 tahun, Ratu Elizabeth II naik tahta pada 6 Februari 1952 setelah ayahnya, George VI, wafat. Upacara  penobatannya dilakukan pada 2 Juni 1953.

Selama memegang tahta Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II telah menjejakkan kakinya ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Indonesia. Ratu Elizabeth II beserta suaminya Pangeran Philip datang ke Indonesia pada 14 Maret 1974 dengan menaiki kapal pesiar milik kerajaan, Royal Yacht Britannia menuju Jakarta.

Mereka disambut Presiden Soeharto dan istrinya, Siti Hartinah atau Ibu Tien, serta Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Pawai ondel-ondel yang lengkap dengan iring-iringan tanjidor meramaikan kehadiran sang ratu di Jakarta.

Kedatangan Ratu Elizabeth II ke Indonesia itu menandakan kembalinya hubungan baik antara kedua negara. Ketika masa kepemimpinan Presiden Soekarno, hubungan antara Indonesia dan Inggris sempat memburuk.

Di Istana Merdeka, kedua tokoh penting itu disambut dengan upacara resmi kebesaran militer. Lawatan itu menjadi momen bersejarah, karena diharapkan akan  membuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris menjadi lebih dinamis, kuat, maju, berkembang, hingga terbangunnya kemitraan strategis.

Baca:
Istana Negara, Awalnya Tempat Tinggal Orang Belanda

Pada jamuan kenegaraan itu juga, Presiden Soeharto memberikan cinderamata keris Bali kepada Pangeran Philip. Setelah dari Jakarta, Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip bertandang ke Yogyakarta. Di sana, mereka berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan bertemu dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sama halnya dengan di Jakarta, rombongan royal family itu juga disambut dengan ratusan prajurit keraton. Di Yogyakarta, Ratu Elizabeth II dan suaminya pun sempat berkunjung ke Candi Borobudur. Setelah dari Yogyakarta, mereka pun kemudian bertolak ke Bali.

Istana Tampaksiring di Kabupaten Gianyar menjadi salah satu saksi bisu kunjungannya ke Bali. Saat berkunjung ke sana, rombongan disambut tarian tradisional khas Pulau Dewata. Ratu Elizabeth II pun akhirnya menyelesaikan kunjungan bersejarahnya ke Indonesia.

Sejak saat itu jugalah, hubungan kedua negara terus berkembang di berbagai sektor vital. Bahkan Indonesia mempunyai tempat khusus di hati sang ratu. Tak hanya Presiden Soeharto, Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie juga pernah bertemu dengan Ratu Elizabeth II pada 1998 silam.

Kala itu, BJ Habibie bertemu dengan Ratu Elizabeth II di hari kedua pertemuan Asia-Eropa yang dilaksanakan di Istana Buckingham. Pertemuan tersebut didominasi oleh pembahasan tentang penanganan krisis ekonomi Asia.

Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga ternyata dekat dengan Ratu Inggris hingga ia mendapatkan gelar penghargaan dari Ratu Elizabeth II pada 2012. Gelar itu diberikan Ratu Elizabeth II dalam kunjungan kenegaraan Presiden SBY di Istana Buckingham.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

9 September 1948, PON Pertama Setelah Gagal Ikut Olimpiade

Koropak.co.id, 09 September 2022 07:13:57

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Tanggal 9 September 1948 menjadi hari bersejarah bagi olahraga di Indonesia. Pada tanggal tersebut, Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama digelar di Stadion Sriwedari Surakarta (Solo).

Pesta olahraga terbesar yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia itu digelar di Kotapraja Surakarta, mulai 9 s.d. 12 September 1948.  Ada sekitar 600 atlet yang bertanding dalam sembilan cabang olahraga, seperti atletik, bola keranjang, bulutangkis, sepakbola, tenis, renang atau polo air, dan pencak silat.

Kendati dilangsungkan dalam suasana sosial politik yang belum stabil, agenda perdana itu terbilang lancar. PON dijalankan dengan semangat kebangsaan. Apalagi acara tersebut dibuka Presiden  Soekarno.

Dalam ajang yang memperebutkan 108 medali itu, Keresidenan Surakarta menjadi juara umum dengan mendapat 36 medali. Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang kala itu menjadi Ketua Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) (sekarang KONI) menutup PON I.

Baca :   Cara Membuat Rangkaian Seri Sederhana Untuk Anak Sd

Baca:
6 April 1896; Olimpiade Modern Pertama Digelar di Athena

PON perdana itu digelar setelah Indonesia gagal ikut Olimpiade London, 1948. Para atlet Indonesia tidak bisa tampil dalam ajang tersebut lantaran beberapa sebab. Satu di antaranya adalah Indonesia bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, karena memang baru merdeka. Negara yang mengakui Indonesia sebagai negara berdaulat pun masih sedikit.

Lantaran itu, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) mengadakan Pekan Olahraga Nasional, sehingga para atlet tetap bisa berlaga. Ada 600 atlet dari 13 kota keresidenan, di antaranya Banyumas, Bojonegoro, Jakarta, Yogyakarta, Kediri, Madiun, Magelang, Malang, dan Semarang.

Selain dihadiri Presiden Soekarno yang membuka PON, turut mendampingi Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah menteri, termasuk Panglima Besar Soedirman dan undangan dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Australia.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Legenda Ikan Dewa Jelmaan Prajurit Prabu Siliwangi

Koropak.co.id, 08 September 2022 12:29:19

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jawa Barat
– Ikan dewa. Begitu orang-orang menyebut ikan-ikan yang disakralkan masyarakat Desa Manis Kidul dan Kuningan, khususnya yang berada di lokasi objek wisata pemandian air Cibulan.

Sebutan ikan dewa itu disematkan bukan tanpa alasan. Masyarakat setempat percaya bahwa ikan yang menghuni objek wisata tertua di daerah Kuningan itu adalah penjelmaan prajurit Prabu Siliwangi atau Raja Padjadjaran. Mereka yakin, ikan-ikan tersebut merupakan para prajurit yang membangkang atau tidak setia pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.

Ukuran ikan-ikan itu cukup besar dengan warnanya yang cenderung gelap. Jika dilihat, ikan-ikan itu sekilas mirip ikan mas, namun memiliki postur yang panjang mirip arwana. Si beberapa bagian tubuh memiliki sisik yang besar.

Uniknya, ikan-ikan yang hidup di pemandian air Cibulan itu sejak dahulu sampai sekarang jumlahnya tidak pernah berkurang maupun bertambah. Keanehan lainnya, jika kolamnya dikuras, ikan tersebut akan hilang entah ke mana. Namun, saat kolam kembali diisi air, ikan dewa akan kembali lagi dengan jumlah seperti semula.

Baca:
Kesultanan Mataram Serang Batavia, Kenapa Gagal?

Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu, sampai saat ini tidak ada yang berani mengambil ikan di kolam itu. Masyarakat setempat mempercayai, siapa yang berani mengganggu ikan-ikan tersebut maka akan mendapat kemalangan.

Ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa kata Dewa yang tersemat pada ikan itu bukan Dewa dalam mitologi, melainkan singkatan dari kata “Gede” dan “Dawa” alias besar dan panjang.

Berdasarkan data dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Kuningan, ikan Dewa itu dibawa oleh para murid Wali Songo saat mereka pertama kali datang ke Cibulan. Murid-murid Wali Songo itu juga turut meninggalkan tujuh buah sumur yang saat itu digunakan untuk berwudu.

Tujuh sumur itu dianggap keramat dan menjadi simbol harapan manusia. Airnya juga dipercaya memiliki khasiat yang bisa membuat seseorang tetap awet muda. Tujuh sumur itu juga diketahui memiliki posisi yang mengelilingi petilasan yang dipercaya sebagai tempat semedi Prabu Siliwangi.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Istana Negara, Awalnya Tempat Tinggal Orang Belanda

Koropak.co.id, 07 September 2022 07:23:37

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Siapa tak tahu Istana Negara? Salah satu singgasana yang ditempati orang nomor satu di Indonesia ini digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara. Berada di Jalan Veteran dan menghadap Sungai Ciliwung, tempat tersebut membelakangi Istana Merdeka yang menghadap ke Taman Monumen Nasional dan dihubungkan oleh halaman tengah.

Berdiri di lahan seluas 68.000 meter persegi, di dalamnya ada kantor Presiden, wisma negara, masjid Baiturrahim, dan museum Istana Kepresidenan. Awalnya tempat tersebut merupakan kediaman pribadi warga negara Belanda yang bernama J.A. van Braam.

Ia membangun kediamannya itu pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten hingga masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Sieberg (1796 s.d. 1804). Pada 1816-an, bangunan itu diambil alih pemerintah Hindia-Belanda, dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jenderal Belanda. Oleh karena itu, istana ini dijuluki “Hotel Gubernur Jenderal.

Awalnya, Istana Negara ini merupakan bangunan bertingkat dua. Akan tetapi bagian atasnya dirubuhkan, dan bagian depannya diperlebar untuk menampilkan wajah yang lebih resmi sesuai dengan martabat pembesar yang menghuninya. Di kiri kanan gedung utama juga dibangun tempat penginapan untuk para kusir dan ajudan Gubernur Jenderal.

Baca:
Pesan Soekarno dalam Pidato Pertama di Radio

Selain untuk penginapan Gubernur Jenderal, gedung bekas rumah Van Braam itu berfungsi juga sebagai sekretariat umum pemerintahan. Kantor-kantor sekretariat terletak di bagian bangunan yang menghadap ke gang yang kemudian diberi nama “Gang Secretarie”.

Seiring berjalannya waktu, gedung itu tidak mampu menampung semua kegiatan yang semakin meningkat. Lantas, pada 1869, Gubernur Jenderal Pieter Mijer mengajukan permohonan untuk membangun sebuah “hotel” baru di belakang “Hotel Gubernur Jenderal” yang berada di Rijswijk.

Seorang arsitek bernama Drossares dipercaya untuk merancang gedung baru yang menghadap ke Koningsplein (sekarang Istana Merdeka). Sepuluh tahun kemudian, gagasan tersebut baru tuntas diwujudkan.

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara, seperti saat Jenderal de Kock menguraikan rencananya untuk menindas pemberontakan yang dilakukan Pangeran Diponegoro serta merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Istana Negara menjadi saksi bisu dari sejarah penandatanganan Persetujuan Linggajati pada Selasa, 25 Maret 1947. Setahun kemudian, 13 Maret 1948, Istana Negara menjadi tuan rumah pertemuan empat mata antara Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Letnan Gubernur Jendral Dr. Hubertus J. van Mook.

Pada 1957 silam, Istana Negara yang dulunya bernama Hotel Gubernur Jenderal atau Istana Rijswik akhirnya secara resmi menjadi kantor Pemerintahan Indonesia yang pertama kali ditempati oleh Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. (PKL – Dian Rahma)

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Sejarah Panjang Stasiun Kereta Api Tertua di Yogyakarta

Koropak.co.id, 06 September 2022 12:14:42

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Yogyakarta
– Stasiun kereta api merupakan salah satu infrastuktur yang memiliki andil besar dalam perjalanan bangsa. Salah satunya adalah Stasiun Lempuyangan yang merupakan stasiun kereta api pertama sekaligus tertua yang ada di Yogyakarta.

Dalam Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I dijelaskan, Stasiun Lempuyangan dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (NISM), sebuah perusahaan swasta Hindia Belanda dan mulai dioperasikan pada 10 Juni 1872. Pembangunan relnya dimulai dari Kemijen, Semarang, pada era 1800-an.

Pembangunan stasiun kereta api tersebut dilakukan sebagai titik akhir jalur kereta api lintas Semarang-Solo-Yogyakarta, dan dilatarbelakangi oleh kebijakan pengangkutan gula. Saat itu telah banyak industri gula yang bermunculan di Yogyakarta yang seluruhnya dikelola oleh Hindia Belanda.

Tak hanya dijadikan sebagai moda transportasi untuk pengangkutan gula dan mobilitas masyarakat di wilayah Vorstenlanden-Semarang, stasiun itu juga merupakan pemberhentian terakhir dari jalur kereta api rute Semarang-Solo-Yogyakarta.

Baca:
Stasiun Manggarai, Saksi Bisu Pemindahan Ibu Kota

Rutenya menghubungkan empat kerajaan di Jawa, yaitu Kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman yang merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram Islam.

Di dalamnya terbagi menjadi beberapa ruangan, mulai dari ruang depan stasiun, loket penjualan tiket, ruang kepala stasiun, ruang administrasi, hingga ruang pimpinan perjalanan kereta api. Ada juga gudang barang, jembatan timbang, garasi truk angkutan barang, menara penyimpanan cadangan bensin, kantor pekerja pemelihara jalur rel, tempat penyimpanan alat-alat pandai besi, rumah sinyal, gudang penyimpanan sepeda dan lampu, menara air, rumah dinas pegawai NISM, perumahan pegawai NISM orang bumiputra, gardu jaga, dan bangsal lokomotif.

Setelah masa kolonial Belanda berakhir, pada masa penjajahan Jepang hingga Indonesia merdeka, Stasiun Lempuyangan dengan layanannya masih terus aktif dalam menggerakan ekonomi sampai dengan saat ini.

Kini, Stasiun Lempuyangan menjadi tempat pemberhentian kereta kelas ekonomi yang melintasi Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan masih beroperasi dan berada di bawah wilayah Daerah Operasi VI Yogyakarta (Daop VI Yogyakarta). Stasiun Besar tipe B ini juga melayani seluruh keberangkatan dan pemberhentian kereta api ekonomi baik komersial maupun bersubsidi dari berbagai daerah dari seluruh Jawa. Sejak 2010, Stasiun Lempuyangan berstatus cagar budaya.

Baca :   Apa Manfaat Yang Diperoleh Melalui Proses Pembelajaran Yang Telah Dilakukan

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Ditemukan Orang Indonesia, Begini Sejarah Pondasi Cakar Ayam yang Mendunia

Koropak.co.id, 04 September 2022 15:14:05

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Jakarta
– Pondasi merupakan hal yang vital dalam sebuah bangunan lantaran berfungsi sebagai sebuah landasan. Bentuknya bermacam-macam, disesuaikan dengan bangunan yang hendak dibangun. Salah satu yang cukup dikenal masyarakat adalah pondasi cakar ayam.

Disebut cakar ayam lantaran bentuknya menyerupai kaki ayam. Pada bagian bawahnya ada pipa-pipa beton berbentuk cakar ayam yang mencengkram tanah di bagian bawah agar bangunan benar-benar berdiri kokoh. Umumnya, pondasi ini diaplikasikan untuk membuat kontruksi gedung yang bertingkat.

Selain itu, pondasi cakar ayam sangat cocok untuk segala jenis tanah, baik lembek maupun keras. Oleh karenanya, pondasi ini juga diaplikasikan untuk jalan layang, jembatan berukuran besar, dan juga landasan. Namun, struktur serta besar-kecilnya pondasi tentu saja disesuaikan dengan tujuan pembangunannya.

Siapa nyana, jika konstruksi ini ternyata ditemukan oleh orang Indonesia. Adalah Prof. Dr. Ir. Sedijatmo (dikenal juga dengan nama Sedyatmo atau Sediyatmo) yang pertama kali menemukannya pada tahun 1961. Kala itu, Prof. Sedijatmo merupakan pejabat Perusahaan Listrik Negara dan perusahaan tersebut harus membangun tujuh menara listrik bertegangan tinggi di daerah berawa kawasan Ancol.

Baca:
Stasiun Manggarai, Saksi Bisu Pemindahan Ibu Kota

Ketujuh menara tersebut ditujukan untuk menyalurkan listrik dari Tanjung Priok menuju Gelanggang Olahraga Senayan, 1962, yang dijadikan lokasi Asian Games. Saat itu dua menara telah berhasil dibangun menggunakan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisanya belum selesai dibangun.

Sedijatmo memahami sulitnya membangun menara di atas tanah rawa itu. Ide untuk mendirikan menara menggunakan pondasi cakar ayam pun muncul setelah dia melihat pohon kelapa tinggi di Pantai Cilincing. Pohon itu berdiri tak tergoyahkan walau diterpa angin kencang. Dia kemudian merancang pondasi yang mirip dengan akar-akar.

Akar-akar tersebut tersusun atas pipa beton yang panjang dan ditanam di dalam tanah. Di atas pipa-pipa beton itu dipasangi plat beton sehingga terhubung antara satu dan yang lain. Pondasi inilah yang menjadi dasar menara listrik tersebut. Alhasil, lima menara untuk menyalurkan listrik pun bisa selesai tepat waktu berkat ide brilian Sedijatmo.

Selain bisa menopang beban di tanah lembek, pondasi ini pun bisa menekan biaya, material, hingga waktu pengerjaan. Keberhasilan Sedijatmo mengundang perhatian para ahli dari Prancis, sehingga mendorong adanya uji skala penuh dengan simulasi beban pesawat bermuatan 360 ton yang dilakukan di landasan terminal udara Cengkareng.

Dari beberapa pengujian, diketahui jika konstruksi cakar ayam mampu menopang berat dan tekanan hingga 2.000 ton. Penemuan tersebut dipublikasikan sejumlah majalah luar negeri seperti Traffic Engineering dan Le Genie Civil. Bahkan, majalah Foreign Research News menganugerahinya penghargaan Highway Research Board sebagai supporting member.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Bukan Air, Ada Alasan Kenapa Habis BAB Pakai Tisu

Koropak.co.id, 03 September 2022 12:01:12

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Tisu menjadi salah satu barang paling bermanfaat yang ada hingga saat ini. Manfaatnya banyak. Beda negara lain fungsi. Bisa untuk menyeka keringat, membersihkan mulut setelah makan, mengeringkan tangan, hingga dipakai setelah BAB atau buang air besar.

Untuk urusan yang terakhir itu biasanya disebut tisu toilet. Masyarakat Eropa, Amerika Serikat, dan banyak negara Asia Timur kerap menggunakan tisu setelah buang air besar. Sedangkan sebagian besar warga di Asia Tenggara, misalnya, lebih menyukai penggunaan air.

Mereka menilai bahwa penggunaan air jauh lebih bersih dan efektif untuk membersihkan sisa kotoran dibandingkan dengan penggunaan tisu. Selain tidak lebih efektif, tisu toilet juga turut membahayakan lingkungan hidup.

Terlepas dari hal itu, pernahkah terpikir bagaimana awal mula tisu ini diciptakan? Sejarah tisu memang berawal dari toilet. Pada abad ke-14, orang Tiongkok sudah menggunakan tisu toilet, namun kala itu masih belum berbentuk gulungan seperti yang ada saat ini.

Tisu toilet yang sering kita lihat saat ini adalah hasil inovasi Joseph Gayetty, pengusaha asal Amerika Serikat pada 1857-an. Sayangnya, kala itu kertas tisu harganya sangat mahal. Oleh karena itu, tisu menjadi barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh kalangan menengah ke atas.

Hal itu berakibat pada keberadaan toilet yang secara diam-diam menciptakan kelas-kelas masyarakat. Jauh sebelum itu, orang kaya pada masa lalu menggunakan wol, renda, dan rami untuk membersihkan diri setelah buang air besar.

Baca:
Kanebo, dari Kulit Kambing Gunung yang Berganti Nama

Bagi mereka yang tidak mampu, menggunakan segalanya untuk membersihkan diri, mulai dari daun kering dan tongkol jagung, tongkat dan batu, bahkan tangan mereka sendiri. Bangsa Romawi kuno masa itu menggunakan sepotong spons diikat ke ujung tongkat untuk membersihkan diri.

Sebelum tisu toilet inovasi Joseph Gayetty, orang Amerika menggunakan kertas penyerap yang mulai beredar pada 1818. Lalu, pada 1935-an, ada produsen yang menyajikan “kertas toilet bebas serpihan”.

Lantas, apa yang menjadi alasan sebagian negara memilih tisu dibandingkan air? Salah satu alasannya adalah iklim. Sebagian besar negara di Eropa Utara memang dingin. Ditambah lagi saat itu pemanas air belum tersedia, sehingga mereka membasuh kotoran setelah buang air dengan pembersih lain hingga pada akhirnya menjadi kebiasaan yang diturunkan selama berabad-abad lamanya.

Jika diperhatikan, tisu toilet yang kita temui selalu berwarna putih. Alasannya karena serat selulosa dari pohon yang dijadikan bahan pembuatan tisu itu sebenarnya secara alami berwarna putih. Sedangkan untuk lem mengikat serat pembuat tisu toilet ini berwarna cokelat, sehingga pemutih pun ditambahkan untuk membuat tisu toilet berwarna putih.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tempat Simpan Uang Disebut Celengan, Ada Hubungan dengan Babi?

Koropak.co.id, 02 September 2022 12:23:52

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Hemat pangkal kaya. Begitu pepatah lama mengingatkan tentang pentingnya menabung. Jika ingin kaya, maka berhematlah. Rajin-rajinlah menabung. Di nusantara, menabung sudah dikenal sejak lama. Itu dibuktikan dengan ditemukannya sebuah gerabah berbentuk celengan peninggalan zaman Kerajaan Majapahit di Trowulan, Jawa Timur.

Sekitar abad ke-13 dan ke-15, pembuatan celengan di nusantara mengalami perkembangan. Celengan yang pernah ditemukan terdiri dari tiga bentuk, yakni berbentuk manusia berupa anak kecil, kemudian binatang mulai dari babi atau celeng, domba, kura-kura, dan gajah, serta berbentuk guci.

Selain istilah celengan yang merujuk pada kata celeng atau babi, dalam perjalanannya ada juga tabungan yang memiliki bentuk tabung atau silinder. Istilah itu dipakai karena tabungan dibuat dengan menggunakan bambu yang tertutup di ujung-ujungnya.

Mufika Nur Fuaddah dalam tulisannya “Inilah Celengan Majapahit Tertua di Dunia, Bukti Abad 14 Telah Menggunakan Koin”, menjelaskan, pada abad ke-14 banyak celengan yang ditemukan sudah dalam kondisi tidak utuh. Sejak dulu, metode yang dipakai untuk mengambil uangnya setelah ditabung adalah dengan cara memecahkannya.

Baca:
Sebelum Rupiah, Manik-Manik dan Koin Jadi Alat Transaksi

Salah satunya celengan Majapahit yang terkenal dan ditempatkan di Museum Nasional Indonesia. Celengan itu ditemukan sudah dalam kondisi hancur, namun direkonstruksi ulang. Selain itu, ditemukan juga tempat menyimpan uang lainnya dengan berbagai bentuk, seperti tabung, guci, dan kotak.

Arkeolog, Supratikno Rahardjo menyebutkan, istilah celengan kemungkinan diperkenalkan oleh orang Jawa. Dalam bahasa Jawa kuno, hanya mengenal kata celeng atau babi atau babi hutan, kemudian pacelengan atau kandang babi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, celengan berasal dari bahasa Jawa yang berarti tabung pekak untuk menyimpan uang, tabungan atau uang simpanan itu sendiri. Namun tidak diketahui juga apakah kata-kata tersebut, ada hubungannya atau tidak dengan kata celeng yang berarti babi hutan.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Faktor Yang Menyebabkan Keragaman Suku Budaya Kecuali

Sumber: https://news.koropak.co.id/17019/empat-faktor-penyebab-keanekaragaman-suku-bangsa-dan-budaya-di-indonesia

Check Also

Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert

Alumnice.co – Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert Dalam bidang pelayaran, ada banyak jenis kapal …