Accor Vacation Club Penipuan

Accor Vacation Club Penipuan.


Cak semau yang pernah boleh iming-iming voucher gratis dari travel club?


Atau sira semenjana galau karena mentah cuma dapat tilpun undangan buat membujur voucher nginep gratis?


Bingung antara doyan, penasaran dan takut ini penipuan? Saya hijau saja mengalaminya, simak ayo cerita lengkap saya!

***

Waspadai Usulan Voucher Hotel Gratis yang Menyesatkan

ilustrasi: pixabay

Assalamualaikum…

Salam lampau ya cak agar kian afdol, karena alhamdulillah saya masih setia muslimah -yang baik dan senang meratibkan keistimewaan- aamiin. Hehe.

Pada postingan ini saya ingin berbagi cerita pengalaman menggondokkan tentang

penipuan

penjualan tulangtulangan berkedok Travel Club nan saya alami kemaren lalu. Karena sepertinya banyak yang mengalami keadaan ini, dan bisa makara akan suka-suka lagi nan mengalami situasi serupa. Eh tapi semoga jangan, deh.

That’s why saya merasa sepertinya perlu bakal mengunggah tulisan ini sekali lagi, kali tahu (dan agar) bermanfaat.

Awal Kisah


• Berawal dari telepon

 Sore itu, yang masih merangsang sih kalau di Bali, ya. Ponsel saya tetiba berdering. Saya yang saat itu baru bangun tidur, sebenarnya sih asa berat pinggul mau angkat telpon yang ternyata berawalan 021. Bukan apa-barang apa sih. Soalnya, dulu-dulunya, nan nelpon saya dengan nomor berawalan 021 itu 95% dari asuransi kartu kredit. Tapi karena si kartu kredit sudah saya kubur, jadi yasudahlah saya angkat saja siapa senggang panitia lomba blog mau ngumumin kalau saya pemenangnya. Aamiin *plusngarep.

Sehabis saya angkat dengan suara yang kira parau, kemudian sang mbak-embak di telpon tersebut berbarengan nyerocos menjelaskan, tapi nggak jelas. Karena posisi saya juga yunior bangun, jadi masih loading juga otaknya.

“Perkenalkan saya xxx berbunga xxx bla bla bla….” Asa-duga begitu kalimat awal si mbaknya. Kalimat paten bagi sales alias marketing atau apalah sebutannya. InsyaAllah saya kira hapal, karena saya juga pernah jadi sales lamun gagal *wkwkwk.

 ilustrasi: dkadoor


 • Tiba Terpengaruh dengan Telepon

 Sampailah sreg kalimat, “ibu mendapat voucher menginap gratis sepanjang 3 hari 2 malam.”

 Alat pendengar saya mulai respon nih kalau denger ada yang gratisan, hehe. Tapi saya masih selow. Periode iya, enggak ada angin, enggak ada petir, bisa dapet nginep gratisan di hotel. 2 malam pula.

Saya dengerin dan iya iyain aja apa kata si teteh sales dari speaker ponsel. Sambil gembong saya mulai gerilya.

“Lumayan nih.”

“Hoax gak ya?”

… dan lebih lanjut.

 Saya tiba bangkit mulai sejak kasur dan konsentrasi dengan perkataan si mbaknya. Saya nanya, “boleh referensi nama saya dari kelihatannya ya?”

Si mbaknya jawab, “mungkin ada teman ibu yang merekomendasikan ke kami, ibu.” Alus banget jawaban si mbak.
Kek tepung tepung gaplek!

 Yasudahlah kita ikuti hanya sampai sejauh mana. Intinya harus tetap fokus! Sejauh tidak lamar nomor KTP, atau nomor tiket nilai, ataupun nomor rekening, sampai-sampai nomor junjungan, saya ikutin namun. Yang berguna fokus dan taat ingat!

 Endebla endebla endebla, alhasil saya dan suami diminta hadir untuk pengambilan voucher menginap tersebut pada hari H di hotel xxx di daerah Tuban deket bandara Ngurah Rai. Dengan syarat harus menirukan seluruh sesi acara selama 90 menit.

Semudah itu?

Iyes semudah itu Marimar!

Oke, saya iyain aja.

 Si mbaknya memastikan kalau saya dan suami pasti bisa hadir, saya jawab iya. Berusul dua pilihan jam yang ditentukan, saya cabut yang sesi jam 3 burit. Saya lagi diminta menjawab bilang pertanyaan mbaknya itu lagi, antara bukan:

Nama lengkap saya dan suami, ini nanti dipakai ketika reservasi karena harus sesuai KTP. Ok!

Umur saya dan suami. Ok!.

Alamat. Ok!

 “Baiklah ibu, akan datang saya bingkis undangannya melalui WA ya ibu.”

Sambungan telpon pun di tutup dengan lever saya nan masih sumringah oplos asa worried. Sepantasnya dalam hati saya bertanya-tanya. “Cak kenapa WA sih? Harusnya morong E-mail, ya?” Karena rata-rata jikalau urusan legal itu pakai email, kalau pun pakai WA, tetep didampingi email pun. Setahu saya SOP-nya begitchu.

Tapi saya berusaha cak bagi konstan
positive-thinking
aja. Ya mungkin kantornya ia santuy gitu, undangannya dalam bentuk gambar nan gampang dikirim lewat chat WA.


 • Mulai mikir ini penipuan!

 Saat itu hari minggu selingkung jam 5 senja waktu Bali. Saya menginjak mikir, kantor apaan sih minggu sore gini nelponin bani adam cuman bakal ngasih voucher gratisan.
Gratisan lho ya! Prodeo!

 Jika jualan sih okelah, namanya juga kantor travel, kali memang nggak suka-suka periode kelepasan. Kan yang diurusin emang turunan kelepasan.

 Saya coba urai Google, cak hendak searching, tapi sano ingin masukin keyword apa. Nama travelnya nan tadi disebutin lalai. Dan nggak kepikiran buat masukin keyword voucher gratisan. Akhirnya dengan santainya saya masukin nomor telpon 021xxx tadi, dan
eng ing enggg…

Hampir semua pekarangan teratas itu mengistilahkan penipuan, penipuan, penyemuan.

 Yowes pasrah! Gagal boleh voucher nginep prodeo.

 Sampai sejam belum juga suka-suka indikasi WA dengan konten undangan tersebut. Dua jam, tiga jam, catur jam, sampai mau tidur, belum terserah sekali lagi. Oke lupakan sekadar!


• Undangan yang akhirnya saya cak dapat

 Senin siangnya, ternyata sang embok sales kemarin itu WA dan ngirim undangan. Sayangnya cuman diketik doang pakai WA, diketik simultan di chat WA gais!
*yaelah, niat nggak sih ini?!

 Saya minta dikirimin ajakan lewat email juga. Tujuan saya untuk memastikan sejauh mana kepropesionalannya. Soalnya, n domestik undangan tersebut menyebutkan alamat kantor, nomor telepon, dan alamat website nan bukan web gratisan. Target E-mailnya lagi pakai hosting lho.

Sejauh ini saya kembali fifty-fifty, dari yang gara-gara undangan by WA tadi sempet ngedrop.

 Kemudian saya mendadak inget seorang temen yang kebetulan Blogger pula, senior. Saya coba nanya, barangkali apa beliau ini nan merekomendasikan nama saya. Sekiranya iya, insyaaAllah saya nggak perlu
worried
ini penipuan lagi dong ya. Ternyata kamu menjawab sebelum saya bertanya, wkwwk.

 Saya hijau nanya demikian ini, “mbasay, ada rekomenin namaku bagi ke travel atau semacamnya gitu nggak?”

 Dan jawaban sira, “ohh, itu nanti kamu bakalan diprospek buat jadi membership-nya” bla bla bla dan dia menjelaskan kalau dia juga asosiasi mengalami situasi serupa. Tapi bukan beliau yang merekomendasikan, sih. Kebetulan saat itu beliau tidak join, tapi tetep dapet voucher. Dan voucher itu pun bisa dipakai! 3 perian 2 malam. Ini menurut pengujaran anda. Kaprikornus saya pun berpretensi demikian. Haha. Teteup ya!

Lah kan katanya dikasih gratis, kan? Nggak salah dong kalau saya berharapnya demikian.

Maka itu aduhai kalian orang-orang yang berketentuan, jangan ngasih iming-iming gratisan ke emak-emak. Awas kuwalat php-in emak!

 Menurut temen saya itu, initinya seandainya saya mau dapat si voucher gratisan itu, saya dan suami memang harus menclok dan mendengarkan pencerahan selama 90 menit nantinya. Tapi harus katakan NO! Di akhir sesi pencerahan itu tadi. Ini point penting!

Sebatas sini saya agak plong. Untung nanya.

Baca Juga:

  • Birthday Staycation Modal Voucher Promo OYO Hotel
  • Hotel Medalion 5 Tertua ini Bikin Nggak Bisa Tidur

 H-1 mbak telemarketing (kita sebut mba sales 1 aja ya) yang kemaren telpon itu WA saya pun, ngasih gambar hotel yang harus saya datangi besoknya. Sayangnya, gambar yang dikirim ke saya itu hanya rangka kartun, mirip kerangka rumah di baliho property. Bukan foto realnya.

 Alhamdulillah sih, gini-gini saya sering lah kalau cuma masuk ke hotel medalion berbintang di Bali. Biar kata tetapi buruh event doang, nan masuknya kebanyakan dahulu loading dock, wkwkwk.

Tapi ya Alhamdulillah, jangankan hotel yang ditunjukkin mbaknya itu, ngicipin closet anget yang tutupnya bisa kebuka sendiri dan boleh nyebokin plus ngeringin pan*tat semata-mata pakai pencetan tombol digital di hotel Luhur aja pernah, nan patut itu jadi riuk satu hotel pertama di Bali yang memiliki closet cerdas malah untuk toilet di lobby area.

Oke balik pun.

Yasudah saya iya iyain aja. Dikirimin Google Map-nya juga, saya iyain aja. Meskipun aslinya sudah langsung peka karena kebetulan dagi saya cak semau nan lewat di sekitaran hotel tersebut, bintang sartan sudah sering kesana.

Baca :   Perhatikan Gambar Berikut Besar Nilai a Pada Gambar Diatas Adalah


 Hari H yang mendebarkan

Sampailah kita puas hari H.

 Paginya saya udah pesenin anak saya cak bagi ijin pulang sekolah lebih tadinya. Anak mbarep saya ini kebetulan kelas 6 SD dan masih anget-angetnya tahun tuntunan baru. Suami juga sudah saya pesenin, pokoknya jam 1 tet! Kita sudah harus jalan. Karena perkiraan pertualangan yang lumayan jauh dan yang tentu mengadat.

 Sebelumnya, sebelum saya menginjak, Mbak telemarketingnya WA lagi buat menginformasikan kalau nanti saya ditanya atau disuruh ngisi form harus bilang sudah sangkutan ke luar wilayah. Suruh bilang aja pernah ke Singapore dan Malaysia. Ini karena kemarin cukup ditanya saya bilang belum nikah.

 Duhh, saya harus bohong ya?

 Saya aamiin-kan saja deh. Saya mikirnya gini, siapa si uni telemarketing ini pun ditarget harus ngumpulin sekian orang untuk digiring ke “kandang eksekusi” yang nantinya bakalan “digarap” sepadan sales eksekutornya.

 Oke, saya iyain sekadar. Saya kembali dikasih “kerpekan” form yang akan datang bakalan saya isi. Nan isinya antara lain: Nama, spirit, koneksi maupun tidak jalan-perkembangan ke luar negeri, berapa budget yang dihabiskan untuk traveling, jenis kartu kredit yang digunakan, dst.

 Di awal sudah saya jelaskan ke mbaknya kalau saya sudah lalu enggak suka-suka CC atau kartu skor, karena sudah saya tutup. Yang mana ketika kehadiran tersebut sepatutnya ada wajib ditunjukan. Alasannya sebagai bukti buat patron saja. Dahulu si mbaknya beberapa, “enggak apa-apa ibu bilang namun sekiranya CC-nya hilang, boleh dibawa belaka buku panduannya.”

 Yaudah akhirnya saya dukung saja surat demap pengangkutan kartu kredit, karena cuma itu saja yang tertinggal. Lah kan daripada cuma bawa buku panduan yang tidak menjelaskan apa-barang apa. Kan mending surat cangap ini ada keterangan nama, nomor cc, limit, dan bla bla bla.

 Padahal kartunya memang sudah saya bacok dan hilang entah kemana, karena telah saya tutup akunnya pasca saya membiasakan berhijrah. Semoga tetap istiqomah ya, aamiin.

 Last minute sebelum saya berangkat, saya masih sempetin nanya ke temen saya nan Blogger itu. Buat meyakinkan diri aja sih, dan beliau mengatakan untuk santai saja dan nikmatin rules nya. Rajut-jaring-jaring aja sama dengan tidak tahu tujuan mereka. Sesudah selesai sholat dzuhur, kami juga berangkat. Tak lupa berdoa mohon preservasi-Nya.


 • Dagelan permulaan

 Saya telah sebatas di Lobby hotel TKP dengan hempon yang masih nempel di kuping buat dengerin pimpinan embuk sales 1 tadi menuju ke lokasi “kandang eksekusi”. Hingga ketemulah saya dengan meja registrasi programa travel tersebut kamil dengan teteh rupawan yang sudah standby.

Pas saya mendatangi ke meja, sang mbak itu nampak sedang menerima telpon dan peka tentang akan adanya keberadaan saya. Asumsi saya, si ayunda sales 1 lah yang menelpon dan memberitahukan tentang akan adanya kehadiran saya.

 Saya pun duduk di singgasana nan telah tersedia didepannya. Ada dua kursi, karena sesuai invitasi harus suami isteri. Kerumahtanggaan gambaran saya, acaranya bakalan kayak seminar atau program MLM gitu. Atau bahkan kayak acara gathering travel agent gitu. Dimana kita para undangan akan berbarengan mendengarkan penuturan para narasumber dan diselingi acara coffee break. Karena yang tersurat di undangannya, disebutkan “pameran galeri hotel”.

 Setelah berbasa basi sebentar, mbok resepsionisnya meminang saya cak bagi memuati form. Dan segera saya isi sesuai kerpekan yang dikasih mbok sales 1 tadi. Di sebelah meja resepsionis ini cak semau seperangkat sofa empuk. Saya mempersilahkan anak sulung saya, suami saya, dan anak bayi saya untuk duduk disitu saja. Suami saya ini orangnya steril dan malas ngurusin peristiwa-hal semacam ini, jadi biarkan perdana menteri namun yang menghandle. Daripada esok tulisan tangan berantakan yekan?

 Ya walaupun sebelum berangkat tadi semua sudah saya briefing, sih. Termasuk anak sulung saya nan kebagian jatah diem aja.

 Setelah mengisi form dengan baik dan benar, dimintanyalah KTP kami lakukan menunjukkan bahwa kami benar suami isteri. *terlazim ta tunjukin akta pertautan juga gak mbak? Haha.

 Kemudian diminta menunjukkan credit card. Nah ini dia bagian kocaknya.

 Saya sih kudus saja, sesuai pimpinan empok sales 1 tadi, saya keluarin kopi cinta pengiriman CC tadi. Katanya mbak sales 1 tadi hanya kerjakan menunjukkan logo Visa atau MasterCard sebagai bukti ke pengayom saja. Berguna tak salah saya dong ya kalau nggak bawa CC.

 Mba resepsionisnya khawatir, dong. Saya mah lempeng aja.

Kebayang nggak sih gimana ekspresi muka mbaknya? Kek gini lho gaes!

 ilustrasi: harianpost.co.id

 Dari tadinya, kalau memang kami nggak makara boleh voucher nginep percuma juga nggak apa-apa, sih. Anggap belaka sebagai pengalaman, kontan jalan-jalan. Karena setelah diingat-ingat, ternyata dekat dua tahunan ini kami nggak gabungan mlipir ke sekitaran Kuta. Padahal dulunya intim tiap hari meeting ke daerah sinian. *Jangan ketawa!

 KTP dan surat bosor makan kartu kredit tadi dikembalikan kembali sama mbak resepsionis. Kemudian dia nanya lagi, ada kartu debit? Iyes “debit”, yang berbarengan nyangkut di pikiran saya adalah tiket ATM B*A, karena galibnya kalo urusan gesek debit pakai kartu ATM yang ini. Saya beberapa udah nggak ada. Karena memang sudah saya tutup beberapa minggu sebelumnya. Pun rekening B*A kepunyaan laki.

 Mbaknya nanya lagi, “selama ini jika lakukan penyerahan-penyetoran pakai segala apa?”

Saya bilang, “owh iya ada pakai atm B**.”

 Iya, saya menyisakan suatu rekening bank konvensional nan kami pakai bersama, untuk keperluan transaksi. Tapi karena rekening ini intim nggak perpautan dipakai bakal menggosok volume dan nggak didaftarin i-banking, jadi nggak kepikiran. Juga ada satu rekening lagi yang tidak bisa merambang tagihan, kaprikornus sengaja nggak dipikirin.

 Kemudian saya pun diminta menunjukkan kartu ATM B** tadi. Tanpa pikir panjang sih sepatutnya ada saya sudah cak hendak menunjukkan sahaja, kebetulan kantong si kiai juga telah di tas saya. Ini yang harus segera dikendalikan ya, Pulang ingatan!


 • Pertolongan Allah itu faktual

 Alhamdulillah, Yang mahakuasa menjaga kami. Ternyata, kartu ATM tersebut ketinggalan di kantong jaket cangkang suami karena sebelumnya sempat dipakai untuk transfer buat belanjaan toko. Tapi karena taajul, lupa belum dimasukin ke dompetnya.

Kebetulannya kembali, jaket tersebut ditaruh di jok motor yang motornya kami parkir di keseleo satu toko oleh-oleh nan bukan jauh dari hotel.

 Yes, kami panjat motor. Dan karena itulah kami sengaja tidak parkir di hotel. Daripada ribet ditanyain ini itu, belum lagi harus parkir di ground nan biasanya pengap.

 Mbaknya tertentang bertambah bingung, dan pamit mau konsultasi lewat. Saya masih polos aja, leha-leha kek di pantai. Kebayang nggak sih gimana linglungnya si mbaknya itu, minta tunjukin kartu kredit kok yang dikasihin lembaran pengiriman karcis kreditnya. Radiks emak absurd aku ini, wkwk.

Udah gitu ga punya kartu debit pun. Lengkap!

 Kemudian saya kembali pindah duduk di sofa empuk untuk gabung sederajat suami dan anak-anak asuh saya. Lain lama berselang, datanglah mas-mas centil dengan bedak dempul

setebal dosa

membudayakan diri lalu menunjukkan voucher menginap gratis yang nantinya akan diberikan kepada kami seumpama congor syukur karena telah bersedia hadir dalam acara tersebut, katanya. Dengan syarat, harus mengikuti acara selama 90 menit, terukur sejak kami masuk.


 • Drama eksekusi

Masuklah kami ke “kandang eksekusi” nan ternyata diluar ekspektasi saya. Ruangan untuk acara ini terbilang kecil. Minus sepadan cak bagi sebuah acara pameran alias party vendor travel agent sekalipun. Di dalam ruangan tersebut hanya ada sekeliling lima hingga tujuh dining table bundar dengan masing-masing empat takhta yang mengitarinya.

Kening saya berangkat mengkerut, “cak kenapa kecil gini ya? Mejanya cuma segini berati undangan nggak banyak, dong!”

 Di penggalan sebelah kidal rubrik ini, terserah stage kecil. Kemudian di pojokan jihat kiri stage tersebut ada bidang datar panjang dengan sejumlah printer dan laptop di atasnya. Dijagain oleh dua yunda-mbak dengan paras yang ditekuk. Di sebelah meja operator tersebut ada deretan kursi yang ditata memanjang pula.

Gaungan musik di kolom itu seperti itu mencekat telinga. Kenceng banget!

Baca :   Berikut Ini Alat Yang Digunakan Dalam Senam Lantai Kecuali

Tapi saya juga berpikir aktual saja. Biarpun aseli saya grogi dan nggak nyaman. Intinya, saya harus santai dan tunak sadar. Jangan lupa say No! Di pengunci cerita.

Sahaja itu yang jadi pegangan saya dan junjungan. Sesuai arahan pasangan saya.

Saat saya menclok semua kursi masih kosong, artinya undangan lainnya belum datang. Nan masih ada di pikiran saya saat itu, acaranya ini adalah “pameran galery hotel”. Kalaupun lain seperti seminar, dan bukan pula vendor party, mungkin mirip private event dengan dinner maupun semacamnya. Dimana undangan tidak banyak dan duduk mengitari dining table sambil party kecil dan mendengarkan pencerahan secara bersama-sama refleks kadang kala tampar tangan megah. Hore!

 Kami mengambil duduk di set kenap paling pojok. Suami dan anak sulung saya sudah duduk menghadap tembok, saya ambil duduk menghadap depan. Kemudian si mas algojo yang gemulai tadi mendatangi meja kami dan mempersunting tukar posisi duduk dengan saya, saya diminta menghadap ke tembok juga, berkiblat ke dirinya. Oke. Saya iyain aja.

Basyar marketing tentu tau dong ya ini tujuannya apaan. Iyes, biar kami sekadar fokus ke dia, tentunya.

 Mulailah si mas eksekutor tersebut berbasa basi dan bercerita kesana kemari. Kami iya iyain aja spontan senyam-senyum. Awalnya saya asa beliau ini tetapi mau ngobrol basa-basi doang sebelum acaran utama dimulai. Saya masih berfikir takdirnya acara tersebut ialah acara semacam party gitu lho gaes, seriusan. .

 Kisahan dimulai berusul penjelasan pendek yang terserah di pamflet hingga narasi iming-iming dengan membuka kamus
handbook
andalannya, yang isinya foto-foto keanggunan luar negri.

 Pamer foto-foto di HP juga, nunjukin member nan ini, yang itu, yang ono, dan yang embuh mana lagi. Pamer foto yang katanya masa sira ke jepang juga, ataupun di mana lah itu. Tapi cak semau fotonya dia maupun enggak juga saya nggak sesak merhatiin, sih. Orang dia nge-slide-nya cepet banget.

Yang saya inget namun foto ikan koi di parit-sungai buatan. Gatau kembali itu yang motoin kali, lebih-lebih jika itu nyomot dari gugel atau pixabay pula gatau pula, bodo amat. Yang saya tanam sekadar suatu, say No diakhir kisahan demap kita heya heya wo o udara murni o #kahitna

 Saya titik api melihat ke matanya, cuma berusaha menjaga etika saat berbincang-bincang dengan khalayak, centung. Sedangkan niatnya cak agar terlihat trustable bikin dapetin voucher itu, haha. Dan serius, saya nggak terlalu fokeuz dengan apa nan diomongin. Paham sih yang diomongin, tambahan pula nyaris hafal. Tapi ya udah gitu aja.

Sepan saya natap ke dia, ehh matanya lebih-lebih dimelotot-melototin. Yaelah mas, kurang tajem eyeliner-mu!

 Internal lever, “owh, mungkin ini yang disebut hipnotis.” Itu sebabnya, suka-suka yang bilang jangan tatap mata turunan yang belum kamu kenal.

 AC mulai terasa banget dinginnya. Saya menangkupkan kedua tangan saya di putar hijab panjang nan saat itu saya kenakan. Sepertinya dia membaca gestur bodi saya, beliau juga segera meminta rekannya untuk mematikan AC tetapi. Karena sepertinya dia pula menggigil. Kebetulan sejumlah periode ini Bali memang lumayan dingin.

 Sampai di tengah-tengah perjalanan “eksekusi” itu, tiba-tiba malah dia yang sebagaimana
hopeless. Lha gimana enggak? Saya Credit Card nggak ada, kartu ATM nggak bawa, M-banking nggak aktif.

 He said, “sepantasnya prodeo sih saya jelaskan, cerek ibu nggak cak semau kartu kredit, ATM pula ketinggalan, M-banking juga nggak ada. Tapi nggak apa-apa deh saya lanjutin aja.”

*Ini yang membuat saya sejujurnya jadi kasihan dengan beliau, mengingat sungguh beratnya perkelahian sendiri sales itu, hehe.

 Lanjur mang…

 Pasca- pertanyaan, penjelasan, dan lain sebagainya tersebut. Yang intinya adalah kita disuruh join buat jadi membershipnya, dengan biaya:

  • Annual maintenance yang dibayarkan setelah tahun ke-2 masa keanggotaan kita, karena periode pertama Percuma! Tapi setelah waktu ke-2 hingga tahun ke-22 (ewww kalah lah itu cicilan KPR)kita harus bayar fee dengan nominal yang menurutku nggak akan kecil.
  • Join fee dengan biaya yang entah berapa karena tidak disebutkan berapa nominalnya, katanya yang tahu yakni adegan finance. Hmm, sales nggak tahu harga produk? Nggak mungkin dong ya.

Anehnya, ketika saya kepoin pula tentang harganya berapa, malah engkau nanya serong ke saya berapa budget yang saya mampu keluarkan.

 Hlah???

 Maksud ngana apa bang? Wkwkwk.

 Dannn, join member VIP dengan segudang manfaat dan kebaikan nan dijelaskan selama suatu setengah jam penuh tadi doang berlaku “TODAY!”

Iyes, hanya berlaku hari itu juga, ketika itu lagi sebelum kamu menghindari “kandang eksekusi”. That’s why, kita diundang berdua dengan suami. Karena agar tak akan ada program ngeles-ngeles pakai alasan saya
discuss
lewat dengan junjungan atau isteri.


Voucher mutakadim di tangan, apakah ini penipuan?

Sampailah voucher nginep gratis di tangan.


Karena sesuai janjinya, voucher akan tetap diberikan biarpun kita tidak join member.


Sebagai bacot terima kasih karena telah bersedia hadir internal acara “eksekusi” tersebut.

 Sebelum itu si mas eksekutornya meminang ktp saya dan suami kerjakan pengecekan voucher, katanya begitu. Cacat kecolongan nih, saya tidak memperhatikan kembali kemana KTP saya dibawa dan diapain. Jadi, semisal nih, misalkan suka-suka pihak yang mungkin ada indikasi tidak bertanggung-jawab menggunakan etiket lengkap dan KTP saya, Sera, dan atau keunggulan suami saya, untuk sebaiknya berdikit-dikit atau dapat mengkonfirmasi malah dahulu kepada kami dengan menghubungi di pergaulan atau DM ke Instagram.

 Kami lagi permisi dengan muka ceria dan gembira sehabis mujur (janji) voucher gratisan. Meskipun kami tidak tahu dan tak punya jaminan si voucher akan bisa digunakan maupun lain nantinya. Oiya fyi, voucher yang diberikan kepada kami berbeda dengan voucher yang ditunjukkan di tadinya perundingan maupun di undangan email dan juga WA.

Voucher nan pertama ditunjukkan ke kami ialah voucher dengan pilihan sebuah hotel bintang 4 di bilangan sunset road untuk pilihan wilayah Bali. Sedangkan voucher nan diberikan kepada kami pilihan hotel di Bali diganti dengan villa xxx yang entah keberadaannya tekun nyata atau kolusi tim mereka satu-satunya.

 Sedangkan mas penjagal nan dempulnya basah keringat itu pun nampak keletihan telah bercerita 90 menit full dengan mumbung ekspresi dan umur tungkai lima, eh empat lima. *bayangin aja lah kita andai sales ngoceh 90 menit sampe berbusa-busa endingnya nggak closing. Sakitnya tuh disini maimunah!

 ilustrasi: youtube.com

 Kasihan?

 Iya, bagaikan sesama sosok, dan sebagai sesama sales. Karena sepatutnya ada beliau bekerja, terlepas semenjak itu moralistis atau salah, halal maupun haram. Tapi, rasa kasihan tidak lantas membentuk saya harus beloh menyerah dengan join member dan menguras keringat kami demi membayar ketidakjelasan masa depan itu, No!

Kesimpulan dan pesan

 Barangkali ini tidak penipuan gamblang seperti SMS boke minta pulsa. Tetapi, jualan voucher akomodasi dan membership yang mengatas-namakan travel club dengan pendirian jual-beli yang susuk seperti ini terasa menjerumuskan menurut saya. Buram disini artinya tidak jelas antara skor kekuatan dengan harga yang kita bayarkan.

 Memang sih dijelaskan setiap tahunnya kita mendapat jatah sekian poin yang boleh kita gunakan untuk membayar biaya hotel, pesawat, hingga umroh. Apalagi dikatakan pula kememberan kita juga di-coveredmaka itu firma asuransi ternama yaitu Pr***ial, yang mana setelah tahun ke-15 bisa diuangkan. Dijelaskan juga bahwa setiap ponten memiliki kesetaraan dengan angka nominal sekian.

 Tapi tetap saja, kerjakan saya itu buram!

 Karena, pertama, dari sekian strata benefit yang diberikan, apakah terjamin kebenarannya?

Bayar membershipnya aja selama 22 hari, ngeduitin asuransi pun harus nunggu 15 tahun. Berpengharapan bisa diduitin?
Sedangkan kita tidak diberi waktu untuk berpikir dalam-dalam, menimbang, dan mencari pustaka. Ini yang mewujudkan saya semakin rancu.

 Saya barangkali tidak ahli marketing dan lain tahu tersurat kerumahtanggaan kamus strategi marketing yang manakah cara penjualan sama dengan ini,

semata-mata dari tesmak saya sebagai orang awam atau konsumen,

merasa ini enggak wajar dan dahulu tidak nyaman dengan penawaran-penawaran yang seakan mengerasi.

Dimana kami harus mengakhirkan lakukan join keanggotaan dalam waktu 90 menit berjalan

Baca :   Biaya Sd Al Azhar Solo

dengan doktrin yang cukup manis

tersebut  dengan nilai nominal yang enggak sedikit dan bagi kurun waktu yang sepan lama (22 tahun, cuy).

Hellow…!

Jadi ya jangan marah jikalau kami berbondong-bondong mengatakan kejadian ini sebagai gambar penipuan siluman, wahai bapak-buya yang sudah komen dengan sarkas! *mon maap sementara kolom komentar saya close dulu ya!

 Setelah pulangnya, saya berinisiatif untuk browsing-browsing lagi dan menemukan sejumlah thread tentang kasus serupa, dimana banyak juga objek yang merasa telah tertipu dan sebagainya.

 Ada juga yang pengalamannya persis dengan saya tetapi beda nama travel club. Menurut artikel tersebut harga yang disodorkan 1,4 Miliar. Wew gak sih?

Cukuplah lucunya, harga tersebut mendadak bisa jatuh jadi belasan juta bahkan bisa DP 5 miliun dulu gara-gara ibu tersebut
kekeuh
nggak mau join. Luchyu teko?

Tapi masih gecul eike yang salesnya bilang gatau harganya. Duhh ya mas, tajam mata dipotong gaji lho, sales nggak hafal harga produk. wkwkw.

 Kesudahannya saya pun mulai nanang, mana tahu voucher gratisan yang tadi saya dapatkan enggak akan nikah bisa dipakai. Ataupun, bisa saya pakai tapi ujug-ujug ada billing pas kepingin check out. Ya nggak mengelakkan centung? Sayangnya hal ini yunior boleh saya buktikan pasca- 40 hari kedepan hingga heksa- bulan berikutnya. Dimana kurun hari tersebut ialah waktu yang ditentukan cak bagi masa berlaku voucher.

InsyaaAllah nanti aku update ya. Saya bersyukur, sudah tidak suka-suka CC dan kartu ATM saya ketinggalan. Plus tidak pnya M-banking dan belaka memiliki satu rekening itu saja. *Hanya mungkin saya duga kecolongan tanya KTP tadi, tapi sepatutnya lain menimbulkan ki kesulitan nantinya, ya. Mungkin mas sales yang menyebut dirinya misal consultant tersebut menganggap saya “KERE”, tapi gapapa lah sepanjang itu lain merugikan saya.

Dan semoga mas consultant nan kemayu itu lekas mendapat belas kasih dan buru-buru mendapat habuan karier hijau yang lebih berkah. Aamiin. See you di Jepang ya mas, nanti kita foto bareng lauk koi di parit-parit yang foto-fotonya kamu pamerin ke kami itu.

Asli pen ngakak kalo inget itu.

***

 Wanti-wanti saya, dan mungkin ini juga reminder untuk saya lagi. Bahwa:

  1. Tidak suka-suka sesuatu hal yang mendalam Gratis! Sonder syarat.
  2. Waspadai anugerah atau iming-iming gratis momen kita merasa tidak aliansi mengajuk event apapun (undian, lomba, dsb). Ini tidak tetapi berlaku untuk voucher hotel saja ya, karena saat ini suar penipuan beraneka ragam rupa dan warnanya.
  3. Sedapat mungkin searching dulu atau bertanya ke teman, tembuni, jiran, ataupun seseorang yang dianggap bisa ngasih solusi.
  4. Berdoa. Jangan tengung-tenging sembahyang minta perlindungan semenjak Yang Maha Kuasa, karena segala sesuatu yang terjadi pastilah sesuai kehendak-Nya.

***

Ps:

  • Bagi nan telah join dan merasa tertipu, maaf saya enggak bisa memberi solusi.
  • Bagi nan belum join, sebaiknya pikirkan lagi dari semua aspek substansial dan negatifnya jika kepingin join dengan hal-hal serupa. Semoga cari referensi terlebih dulu.
  • Untuk nan penasaran dengan voucher gratisnya, silahkan doang hadiri undangannya, tapi harus siap dengan segala apa resiko dan kemungkinan yang cak semau.

 Sekian dan semoga berarti. Stay happy. Positive thinking. Dan jangan lupa bersyukur!


Update terbaru:

Beberapa waktu sangat ada yang DM ke saya dan membualkan pengalaman serupa, saja bedanya ia awalnya ditawari pembelian voucher menginap 3D2N di sebuah hotel di Bali dengan harga 500.000 saja. Makara bukan percuma ya gais! Setelah membayar, bau kencur lah ia berbintang terang email tentang syarat yang mengharuskan hadir dalam acara preview selama 90 menit dan menyetorkan KTP lagi CC.

_________

UPDATE 31/10/2018:

 Jadinya sesudah lama menanti 40 musim cak bagi bisa klaim voucher, dimana saya berharap bisa menggunakan voucher gratis menginap 3 periode 2 malam tersebut buat staycation patut ulang tahun baby Rara, bubar dengan “Zonk!”.

 Iyes, dari ketentuan tanggal dan cara reservasi sudah lalu saya ikuti sesuai wahi yang tercatat di belakang voucher. Yaitu dengan menghubungi nomor tilpon nan tertera (dimana ternyata itu lagi nomor yang menelpon saya sejak awal) dan alias via email.

 Seminggu sejak copot tahun berlaku voucher saya sudah utus email dengan melampirkan foto voucher sesuai nan diinstruksikan, dan seperti kebanyakan saat kita akan reservasi hotel menunggangi voucher.

 Saya mengidas rontok reservasi untuk 30 musim kedepan, sengaja jauh-jauh hari bagi mengantisipasi masa yang bertele-tele yang dibutuhkan kerjakan prosedur. Balasannya, not responding hingga pada tanggal yang saya diskriminatif buat menginap.

Kemudian, saya berinisiatif bagi menelepon ke nomor yang tertulis, alih-alih mumpung dapat bonus nelpon gratisan dari provider yang saya pakai karena keseringan beli paketan internet, hehehe.

Makrifat mencengangkan permulaan, info dari si taci-teteh yang nerima telpon mengatakan bahwa jam buat reservasi adalah jam 4-5 PM WIB! Saat saya menelpon pertama kali memang belum jam 4 magrib hari Jakarta ya.

Bonafide sering kali reservasi hotel, baik itu voucher prodeo (hidayah) alias voucher beli, saya belum pernah nemu aturan jam reservasi hanya 1 jam tetapi. Tapi saya anggap memang aturan disitu sedemikian itu.

Oke, next!

Kenyataan mencengangkan kedua, setelah setakat puas jam yang ditentukan tersebut saya pun menelpon lagi.

Berkepastian gak sekiranya saya sampai pasangin alarm di HP cuma untuk ngingetin nelpon ini?

Hasilnya, dengan sang kakak-mbak itu lagi, mengatakan bahwa bagian reservasi bakal saat ini sedang “Online” jadi harap menelpon lagi 15 menit kemudian. OK, tanda bahaya lebih jauh saya pasang 15 menit.

Kenyataan mencengangkan ketiga, selepas 15 menit berlangsung saya menelpon juga, sesudah disambungkan (pun) ke bagian reservasi ternyata bukan diangkat-gotong, kemudian bercerai sambungan telpon terputus dengan bunyi tut-tut-tut.

Kenyataan mencengangkan keempat, sehabis ke-kekeuhan saya menelpon, akhirnya saya tertancap dengan mas-mas yang katanya bagian reservasi tersebut. Dari suaranya, agak ngalem dan gemulai. Sehabis bla-bla-bla nan cukup tahapan, intinya kamu bilang email saya lain terkirim. Katanya, system mereka pasti auto-replay cak bagi setiap email nan ikut. Jadi kalau saya tidak mendapat email penangkisan artinya email saya memang memang tidak masuk.

 Baiklah, Momen itu juga saya mengirim email ulang. Tapi katanya lain ada timbrung juga. Lagi dan lagi dan lagi, bukan ada nan masuk satupun.

Saya mohon diri mengerudungi telpon tersebut sejenak dan berniat mengirim ulang email menggunakan laptop. Karena takut tablet yang saya gunakan cak bagi mengirim email sedang bermasalah. Selepas saya mengirim sekitar 3 email kembali melalui laptop, yang sudah saya pastikan email tersebut betul-betul terkirim, dan saya yakin email itu mendalam sudah terkirim.
Karena sepertinya terik mencurigakan platform segede Gmail.

Saya kembali menelpon juga.

Keterangan mencengangkan kelima, saya harus mengulang pola sebagaimana di semula. Menelpon dan harus menunggu 15 menit berikutnya karena bagian reservasi dengan online, Selepas menanti 15 menit, masih harus menunggu telpon yang tak diangkat-sanggang lagi sampai berpisah sambungan tilpon tulalit. Setelah tersambung, harus menunggu lagi karena setelah disambungkan dengan bagian reservasi tapi nggak diangkat-gotong, dan berjauhan dengan sambungan tilpon dimatikan. Hingga berakhir dengan jam 5 PM WIB, dan si mbak mengatakan jam untuk reservasi telah silam. #eaaaa

 Kelihatannya saya dongok membuang-lepaskan waktu, tapi tidak, saya sedang leha-leha dan semenjana gabut serta kepo. Haha.

Keesokannya saya menelpon pun di jam 4 PM WIB tepat, dengan seberinda sirene.

Kenyataan mencengangkan keenam dan pahit, saya harus mengikuti contoh yang sama seperti kemarin, menunggu 15 menit, menunggu yang tak direspon, dan menunggu yang berjarak diputuskan (untung kita nggak pacaran) #eaaa.

And repeat.

 OK FIX!

 Ini hanyalah voucher sampah yang tidak dapat digunakan. Tapi saya tak rugi, justru saya berbahagia pelajaran yunior. Alhamdulillah, karena Almalik telah menjaga kami detik itu.

penipuan travel club
voucher nan diberikan kepada kami

Disclaimer:

Kisah ini lugu dari asam garam pribadi sesuai kenyataan yang saya alami saat itu, dan hanya bermaksud bakal sharing pengalaman semata. Tidak ada unsur fiksi atau dibuat-bakal apalagi berujud menjatuhkan usaha siapa pun.

Wassalam,

Accor Vacation Club Penipuan

Source: https://www.tehsera.com/2018/07/waspadai-voucher-hotel-gratis-yang-menyesatkan.html

Check Also

Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert

Alumnice.co – Apa Yang Dimaksud Dengan Gas Inert Dalam bidang pelayaran, ada banyak jenis kapal …